Perempuan Penyembuh Keluarga: Catatan Pelatihan Pengobatan Alternatif Simbar Wareh

26 - Oct - 2010 | admin

Pengobatan modern kini telah menjadi rezim industri yang lebih banyak mengejar keuntungan daripada kemanusiaan. Padahal, selain tak sepenuhnya menyembuhkan, obat-obat kimia juga sering menimbulkan efek samping. Walhasil, penyakit satu sembuh yang lain muncul. Selain kandungan kimia, cerita malapraktek, praktek kotor para apoteker, menjadi cerita-cerita kelam dalam industri pengobatan saat ini. Industri pengobatan modern, tak jarang menjadi seperti pepatah keluar dari ke mulut singa, masuk ke mulut buaya.

Kritik atas keburukan industri pengobatan modern juga dilakukan oleh para penyembuh yang mengambil inspirasi pengobatan dari Timur. Kritik terutama diarahkan pada cara pandang ilmu pengobatan Barat yang hanya menjadikan tubuh manusia sebagai obyek pengobatan padahal menurut mereka tubuh manusia juga telah dibekali dengan kemampuan “self-healing”. Selain itu mereka juga melakukan kritik terhadap orientasi bisnis industri pengobatan modern yang menafikan keberadaan obat-obatan di lingkungan terdekat rumah tangga. Dengan kekuatan pemasaran dan iklan yang mereka miliki, mereka “memaksa” konsumen untuk terus membeli produk obat dari pabrik mereka.

Kritikan tidak hanya berhenti pada tataran konseptual tetapi juga pada tahapan praktek pengobatan. Para pengritik ini mulai mempopulerkan pengobatan non-medis yang mengambil inspirasi dari Cina, India, Tahilan dan beberapa negara lainnya. Dalam terminologi Barat model pengobatan alternatif ini dimasukkan dalam kelompok Complementary & Alternative Medicine (CAM) dengan alasan efektifitas pengobatan tidak terbukti secara konsisten dibandingkan dengan model pengobatan modern.

Menyadari pentingnya kemampuan pengobatan secara mandiri dalam keluarga, KPPL Simbar Wareh bersama Desantara mengadakan pelatihan pengobatan alternatif. Pelatihan yang diikuti oleh ibu-ibu dari beberapa desa di Pegunungan Kendeng Utara ini diadakan pada 10 – 15 Oktober 2010 bertempat di Omah Kendeng. Dalam pelatihan ini ibu-ibu diajak untuk kembali mengenali anatomi dan fungsi organ tubuh manusia serta mempelajari metode analisis penyakit dan penyembuhan secara mandiri.

Dari banyak metode pengobatan alternatif yang ada, pelatihan kali ini memperkenalkan peserta pada metode pengobatan Cina. Pengobatan tradisional Cina yang sarat dengan konsep filosofis Yin Yang mengajarkan tentang pentingnya keseimbangan dalam semua hal, termasuk keseimbangan dalam fungsi organ tubuh. Menurut metode penyembuhan yang telah berumur ratusan tahun ini organ tubuh di bedakan ke dalam dua bagian yang saling melengkapi sehingga jika berfungsi dengan normal akan tercipta keseimbangan dalam tubuh. Jika Yin terlalu besar maka harus diimbangi dengan memperkuat Yang. Begitu kira-kira inti dari metode penyembuhan yang diajarkan dalam pelatihan ini.

Model pelatihan tidak hanya berjalan satu arah tetapi juga terjadi dialog antara fasilitator dan peserta. Ibu-ibu peserta pelatihan sesekali bertanya atau menceritakan pengalaman metode penyembuhan tradisional yang mereka tahu. Dari pengalaman yang diceritakan ini terungkap bagaimana ibu-ibu sebagai orang yang bertanggungjawab terhadap urusan domestik keluarga telah sangat tergantung dengan obat-obatan. Padahal jika mau mengenali dan belajar kembali mereka dapat mengobati sendiri penyakit-penyakit seperti demam, sakit kepala, atau pun sakit gigi.

Pelatihan ini memperkenalkan dua metode penyembuhan. Pertama, peserta diajak untuk mengenali beberapa meridian, saluran aliran Qi dalam tubuh, yang ada dan mengenali titik-titik penting dalam meridian tersebut. Setelah itu peserta dikenalkan pada beberapa teknik pemijatan pada titik tersebut untuk memperkuat fungsi organ tubuh. Cara penyembuhan kedua yang diperkenalkan adalah meramu beberapa jenis tumbuhan yang ada di sekitar untuk memperlancar fungsi organ tubuh. Tumbuhan seperti secang, kapulaga, jahe, dan sereh. Tumbuhan ini kemudian diseduh untuk disajikan sebagai minuman pengganti teh atau kopi.

Pada pertemuan terakhir, peserta diminta untuk mencatat berbagai tanaman obat yang ada di Pegunungan Kendeng Utara yang dapat dijadikan obat. Catatan ini penting untuk dapat disebarkan kepada ibu-ibu di desa lain agar dapat mengembangkan cara-cara penyembuhan keluarga secara mandiri. Perempuan dan pengobatan menjadi dua hal yang tak terpisahkan dalam skema penyembuhan keluarga secara mandiri. Dengan memperkuat pengetahuan perempuan akan metode pengobatan alternatif maka diharapkan terbentuk kemandirian rumah tangga. Kemandirian ini penting sebagai bagian dari gerakan memperkuat posisi masyarakat marginal dalam model ekonomi industri saat ini.

Perjuangan perempuan untuk mengembalikan statusnya sebagai penyembuh, setelah selama ini diambil alih oleh rumah sakit atau pun toko obat, tentunya masih akan menempuh jalan yang panjang. Tak ubahnya seperti perjalanan Elizabeth Blackwell, dokter perempuan pertama di dunia, yang harus menghadapi kerasnya perlawanan dan ancaman dari para dokter yang saat itu didominasi oleh kaum laki-laki. Mbak Sri, ketua KPPL Simbar Wareh, usai pelatihan mengatakan bahwa kemampuan ibu-ibu peserta pelatihan ini harus terus diasah dalam pertemuan rutin agar dapat menambah pengetahuan tentang cara-cara penyembuhan dan tanaman obat yang ada di lingkungan Pegunungan Kendeng Utara.

Depan | RSS 2.0 | Kategori: berita | Trackback | 1 Comment

One Response to “Perempuan Penyembuh Keluarga: Catatan Pelatihan Pengobatan Alternatif Simbar Wareh”

Leave a Reply