Selamatkan Karst Grobogan dan Pati

7 - Mar - 2011 | Sunu widjanarko

Perbukitan batu gamping di sekitar perbatasan Kabupaten Grobogan dan Pati, Jawa Tengah, memiliki peran dan nilai yang sangat penting bagi ekosistem di kedua kabupaten tersebut. Peran dan nilai yang sebenarnya jauh lebih besar daripada anggapan bahwa nilai perbukitan itu hanya merupakan tumpukan batu gamping raksasa yang menunggu ditambang, dikeruk, diledakkan, dan dikirim ke pabrik semen atau pabrik-pabrik lainnya. Pengrusakan kawasan batu gamping ini akan memengaruhi ekosistem untuk daerah yang jauh lebih luas daripada perkiraan. Ujung- ujungnya, korban terakhirnya adalah umat manusia karena alam memiliki mekanisme pertahanan yang sempurna. Jika tekanan terhadap dirinya makin berat, maka dia akan menyeimbangkan dirinya dengan cara membuat bencana agar dapat mengurangi populasi manusia. Perbukitan batu gamping kawasan ini memiliki sifat-sifat kawasan karst.

Yaitu, terdapat bentukan bukit dan lembah yang khas akibat proses-proses pelarutan, terdapat goa-goa, aliran sungai bawah tanah, dan mata air. Mata air epikarst, menurut studi Linhua (1996), dikenal mempunyai kelebihan dalam pertama, kualitas air. Air yang keluar dari mata air epikarst sangat jernih karena sedimen yang ada sudah terperangkap dalam material isian atau rekahan. Kedua, debit yang stabil. Mata air yang keluar dari mintakat epikarst dapat mengalir 2-3 bulan setelah musim hujan, dengan debit relatif stabil dan ketiga, mudah untuk dikelola. Mata air epikarst umumnya muncul di kaki-kaki perbukitan sehingga dapat langsung ditampung tanpa harus memompa. Selain potensi sumber daya air, sebagian goa di kawasan karst Grobogan dan Pati merupakan tempat tinggal bagi komunitas kelelawar. Kelelawar sangat berperan dalam mengendalikan populasi serangga yang menjadi hama dan vektor penyebaran penyakit menular.

Menurut peneliti kelelawar Sigit Wiantoro, kelelawar yang memiliki rata-rata berat tubuh sekitar 17 gram dan mampu memakan serangga seberat seperempat dari berat tubuhnya setiap malam, tentunya berperan penting dalam mengendalikan populasi serangga sehingga tidak terjadi ledakan populasi, yang berarti menjadi hama. Kita kalkukasi saja, andai ada sekitar 1.000 ekor kelelawar, tentu dapat memakan serangga hingga 4,25 kilogram. Setiap malam! Padahal, di dalam goa yang lingkungannya terjaga bisa menampung kehidupan ribuan hingga jutaan ekor kelelawar. Seperti yang ada di beberapa goa di Tuban dan Sukabumi. Fungsi kelelawar sebagai pengendali hama mampu mencapai daerah yang sangat luas karena daya jelajah terbangnya yang tak kurang dari 20 kilometer.

Karena tingginya nilai kelelawar dalam ekosistem, sudah selayaknya habitat kelelawar ini mendapatkan perhatian yang sangat serius. Jika dilakukan penambangan batu gamping, maka volume lapisan tanah dan batuan yang menjadi tempat penyimpanan air tanah (akuifer) pun menjadi berkurang. Secara langsung, akan mengurangi jumlah dan masa tinggal (residence time) air di lapisan batuan. Akibatnya, air tidak akan tersedia lagi pada saat sangat dibutuhkan, yaitu pada musim kemarau. Sedangkan di musim hujan, air akan dengan cepat mengalir menuju alur sungai permukaan, yang akhirnya menjadi penyumbang banjir yang belakangan ini sangat merusak di wilayah ini. Selain itu, penambangan yang menggunakan peledakan dapat merusak struktur dan sistem penyimpanan air yang sudah didesain dan dibangun secara sempurna oleh Tuhan Yang Maha Pengatur. Akibat getarannya, di suatu tempat rekahan baru dapat terbentuk atau melebar, tetapi di tempat lain, kanal air bawah tanah yang semula dapat tertutup oleh runtuhan.

Akibatnya, air akan mengalir tak beraturan menuju tempat lain, bukan ke mata air yang selama ini sudah ada. Mengusir kelelawar Akibat lain dari getaran, suara, dan gas beracun hasil dari peledakan, akan dapat membunuh dan atau mengusir kelelawar penghuni goa. Padahal, selama ini kelelawar menjadi predator serangga yang berpotensi menjadi hama tanaman padi dan wabah penyakit. Jika pengendali populasi serangga sudah tidak ada, maka tinggal menunggu bencana beri-kutnya, yaitu hama padi atau wabah penyakit yang langsung mengenai manusia. Krisis pangan yang sudah melanda negeri kita beberapa tahun terakhir ini, serta penyakit demam berdarah dan chikungunya, akan makin berat disandang oleh warga dan pemerintah kabupaten ini. Kelelawar pemakan buah, yang selama ini telah membantu penyerbukan dan menyebarkan biji-bijian dan secara alami telah membantu penghutanan daerah karst yang tandus dan pelestarian tanaman, juga akan tersingkir atau musnah.

Saat ini ada sebuah peraturan nasional menyangkut pengelolaan dan pemanfaatan kawasan karst, yaitu Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1456 K/20/MEM/2000 tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan Karst Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Pasal 12 sampai 14 menyatakan bahwa kawasan karst yang berfungsi sebagai penyimpan air bawah tanah secara tetap (permanen) dalam bentuk akuifer, sungai bawah tanah, telaga, atau danau bawah tanah yang keberadaannya mencukupi fungsi umum hidrologi, maka di dalam kawasan tersebut tidak boleh ada kegiatan penambangan. Lalu, apa hubungan antara peraturan pemerintah pusat tersebut dengan kebijakan pemerintah daerah setempat? Penambangan batu gamping dalam skala besar biasanya dilakukan oleh pabrik semen. Saat ini, lokasi tersebut telah digadang-gadang untuk lokasi penambangan batu gamping oleh pabrik semen. Nah, melihat untung rugi dan risikonya, pemerintah daerah seharusnya dapat bijak dalam memilih.

Akankah menganggap potensi batu gamping hanya sebagai bahan tambang yang hanya menguntungkan dalam jangka waktu pendek dan dapat habis. Atau akan mengonservasi perbukitan itu serta meningkatkan fungsinya sebagai reservoir air dan habitat hewan pengendali lingkungan. Jika memilih yang terakhir, maka pilihan ini akan memenuhi asas pembangunan yang berkelanjutan dan wilayah yang kekeringan di musim kemarau tidak bertambah. Sebandingkah nilai investasi yang ditanam dibandingkan dengan dampak dan kerugian yang bakal dialami? Debit air yang akan terus turun membuat bencana baru, kekeringan. Stok beras akan terus berkurang akibat berkurangnya pasokan air dan hama. Penyakit menular akan makin sulit dikendalikan karena binatang vektornya tidak memiliki predator.

Tulisan ini dimuat di Kompas edisi 7 Maret 2011

Sunu Widjanarko Mantan Sekretaris Yayasan Acintyacunyata Bidang Konservasi Lingkungan Karst, Tinggal di Karanganyar, Jateng

Depan | RSS 2.0 | Kategori: artikel | Trackback | 2 Comments

2 Responses to “Selamatkan Karst Grobogan dan Pati”

  1. Fahma wijayanti says:

    Salam konservasi !!

    Miris sekali membaca artikel ini..
    Saya adalah dosen Program Studi Biologi UIN jakarta. Kami dari tim UIN JKT sangat berantusis untuk melakukan studi biodiversitas di kawasan tersebut. Hal ini guna mencari data ilmiah mengenai kekayaan jenis biota yang terdapat di ekosistem karst tersebut. Sebagai ekosistem yang unik dan rapuh, kawasan karst biasanya dihuni oleh komunitas flora dan fauna khas yang mungkin tidak ada di ekosistem lain. Komunitas biota tersebut tentu saja memegang peran penting dalam keseimbangan alam. Hal ini perlu dikaji dan dianalisis secara ilmiah, agar PEMDA setempat depat mengambil kebijakan yang tepat.

    Dr.Fahma Wijayanti,MSi
    UIN Jakarta.

  2. ari says:

    Terima kasih atas perhatian dan kepeduliannya. Warga pegunungan kendeng pati pasti sangat terbuka dan gembira dengan rencana Ibu ke sana. Apalagi jika nanti bisa bekerja sama dalam penyelamatan pegunungan kendeng.

    salam,
    ari

Leave a Reply