Aksi Tolak Semen di Tambakromo Dihadang Preman

22 - Apr - 2011 | sobirno

Hari itu, Rabu, 20 April 2011, sekitar 1000an orang dari Tambakromo, Kayen, Sukolilo, Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng  (JMPPK) dan Gabungan Pemuda Ngerang (Gamurang) melakukan aksi di alun-alun Pati.

Aksi ini dilakukan sebagai respon atas rencana pendirian pabrik semen yang akan dilakukan oleh PT Indocement melalui PT Sahabat Mulia Sakti (PT SMS) di Wilayah Kecamatan Tambakromo Kabupaten Pati. Aksi juga dilakukan untuk menyalurkan aspirasi bahwa masyarakat Tambakromo menolak pabrik semen di daerah mereka.

Dalam selebarannya, masyarakat Tambakromo mengatakan bahwa pabrik semen akan sangat merugikan masyarakat karena membuat terputusnya ekosistem alam dan menghilangkan mata pencaharian khususnya peternak dan petani.

Selain itu, berdirinya pabrik semen juga akan menyebabkan hilangnya sumber mata air dan berkurangnya resapan air karena pengeprasan. Mereka juga mengatakan bahwa pabrik semen akan mengancam satwa-satwa yang dilindungi serta merusak cagar budaya, tempat-tempat wisata, dan situs-situs yang ada. Terlebih, berdirinya pabrik semen akan menyebabkan tergusurya penduduk lokal di sekitar pegunungan Kendeng.
Dihadang Preman

Sekitar pukul 10.30 massa yang diangkut dengan 36 truk itu sampai di alun-alun. Yitno , koordinator aksi menceritakan kenapa mereka datang terlalu siang. Ternyata, saat di dekat makam Syekh Jangkung, masih di kawasan Sukolilo, sempat dihadang polisi.

Mereka dihadang karena polisi mendapat informasi bahwa di Kayen, preman-preman menunggu mereka. Khawatir terjadi bentrokan, polisi menghentikan peserta aksi dan meminta mereka orasi di jalan di situ saja. Akibatnya, justru jalan Purwodadi-Pati macet total. Karena macet, polisi  pun mengubah tawarannya. Mereka dipersilahkan untuk melanjutkan aksi di Pati.

Sampai di pasar Kayen, para peserta aksi memang dihadang para preman. Hadangan ini hampir membuat peserta aksi emosi. Tetapi, Yitno meminta kepada para peserta aksi untuk tak terpancing. Tak hanya Yitno, para orator yang lain juga meminta peserta aksi untuk tak emosi. Kemudian, antara peserta aksi dengan preman terjadi negosiasi yang alot. Di tengah situasi itu, Ali, salah seorang anggota DPRD Pati yang mencoba meredam supaya tak sampai terjadi bentrokan, justru kena pukul. Preman itu pun ditangkap polisi.

Tak lama kemudian, sang pemukul dilepaskan. Kebetulan, karena ada ramai-ramai, masyarakat Kayen yang ikut menonton ikut tersulut. Preman yang dilepaskan itu pun menjadi sasaran massa.

Selanjutnya, peserta melanjutkan aksinya ke Pati. Sebelunya, mereka juga sempat mampir ke daerah Branti untuk bergabung dengan massa yang sudah menunggu. Mereka juga lewat Karangawen bergabung dengan massa lainnya.  Dari situ, baru kemudian ke Pati.

Sesampainya di alun-alun, peserta berkumpul di depan kantor bupati. Mereka pun melakukan long march menuju ke kantor DPRD dan berorasi di depan kantor DPRD. Sri, salah seorang orator, dalam orasinya mengatakan, “Masyarakatnya saja menolak, kenapa malah wakil rakyat menyetujui RTRW? Kalau mereka tidak bisa menjadi wakil, kita bubarkan saja DPR,” teriaknya. Selain Sri, orator lain, Joko mengatakan bahwa Indonesia pernah dijajah 350 tahun. “Masak masih mau lagi dijajah oleh pabrik semen?” demikian salah satu yang disampaikan Joko.

Kebohongan Publik
Sebelumnya, saat sosialisasi yang dilakukan oleh PT SMS di Hotel Pati pada 6 April 2011, terjadi pro-kontra. Namun, mereka yang setuju dengan pendirian pabrik semen malah menyebarkan bahwa masyarakat warga Tambakromo setuju dengan rencana pendirian pabrik semen.

Tak hanya itu, sehari kemudian, tanggal 7 April 2011, muncul surat edaran yang dikeluarkan oleh LSM LPPNRI yang isinya, dalam sosialisasi masyarakat setuju terhadap rencana pendirian pabrik semen.
Padahal, sosialisasi sendiri tak menghasilkan keputusan. Di situ juga terjadi pro dan kontra. Atas  edaran itu, peserta aksi menyatakan bahwa masyarakat Tambakromo menyatakan bahwa surat itu tidak benar. Aksi sendiri juga memberi bukti bahwa banyak masyarakat Tambakromo yang tegas menolak berdirinya pabrik semen di daerah mereka.

Reporter: Khoirul Anam

Depan | RSS 2.0 | Kategori: berita | Trackback | 0 Comments

Leave a Reply