Penemuan Situs Kayen: Memaknai Kendeng Lebih Dalam

25 - Oct - 2011 | Moh Sobirin

Penemuan Situs Kayen: Memaknai Kendeng Lebih Dalam

Penemuan Situs Kayen: Memaknai Kendeng Lebih Dalam

Pegunungan Kendeng Utara seakan tak pernah berhenti mengundang decak kagum banyak orang. Makam Gedong, Pertapaan Watu Payung, Makam Syeh Jangkung merupakan beberapa situs yang menjadi episentrum ketertarikan orang dari banyak tempat untuk mendatangi daerah ini. Legenda-legenda zaman pewayangan, seperti makam semar dan pertapaan Dewi Kunti di Watu Payung, berkait singgung dengan cerita-cerita para wali seperti Syeh Jangkung dan Sunan Geseng yang juga tertanam kuat di benak orang-orang Pati Selatan. Ternyata bukan warga yang ingin “ngalap berkah” dengan bertapa saja yang tertarik untuk datang tetapi juga investor besar seperti beberapa pabrik semen juga ingin “ngalap berkah” Pegunungan Kendeng Utara dengan rencana eksploitasi besarnya. Tulisan ini ingin mengajak pembaca untuk memaknai lebih jauh keberadaan pegunungan kapur yang terletak di perbatasan Kabupaten Pati dengan beberapa kabupaten seperti Blora, Grobogan dan Kudus ini.

Berawal dari hasil peninjauan yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta (Balar Yogyakarta) pada 4 Mei 2011 di Dusun Miyono (Mbuloh), Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati Jawa Tengah; tim yang dipimpin oleh dra. TM. Rita Istari dengan anggota Hery Priswanto, SS., Agni Sesaria Mochtar, SS., dan Ferry Bagus berhasil mengidentifikasikan beberapa temuan Benda Cagar Budaya (BCB). Di antaranya struktur bata yang masih intact, arca, serta beberapa artefak dari logam dan keramik. Kedatangan tim Balar Yogyakarta ini atas laporan dari warga sekitar Situs Kayen yang di wakili oleh Nur Rohmad (Pengurus Makam Ki Gede Miyono) dan Subono (Kepala Desa Kayen) mengenai tindak lanjut keberadaan Situs Kayen. Secara astronomis Situs Kayen terletak pada 111 derajat 00’ 17,0” BT 06 derajat 54’ 31.8” LS berada di dataran alluvial yang cukup datar dan Pegunungan Kendeng di Selatannya. Kondisi lingkungan Situs Kayen cukup subur dengan didukung keberadaan Sungai Sombron yang berhulu di Pegunungan Kendeng dan bermuara di Sungai Tanjang.

Penemuan Situs Kayen ini berawal dari rencana pembangunan mushola di sebelah barat makam Ki Gede Miyono. Warga disekitar makam tokoh yang dalam cerita ketoprak disebut sebagai musuh dari Syeh Jangkung atau Saridin ini merasa sangat terganggu karena hampir tiap malam lokasi makam yang terletak di tengah sawah ini digunakan untuk ajang perjudian.Warga berharap dengan dibangunnya mushola ini lokasi yang kerap didatangi peziarah ini akan menjadi aman. Saat melakukan penggalian warga menemukan bata-bata kuna yang berukuran besar yang kemudian dimanfaatkan untuk membangun makam Ki Gede Miyono yang sebelumnya hanya bernisankan sebuah batu. Temuan ini kemudian diteliti oleh BP3 Jawa Tengah yang kemudian diteliti kembali oleh Balai Arkeologi Yogyakarta.

Dari penelitian tersebut didapat beberapa temuan. Sebuah monumen berbahan bata kuna yang berukuran tebal 8-10 cm, lebar 23-24 cm dan panjang 39 cm masih utuh terpendam dalam tanah. Di sekitar bangunan ini juga ditemukan berapa komponen bagian candi seperti antefiks dan kemuncak sehingga terdapat kemungkinan bahwa bangunan ini adalah sebuah candi. Selain itu juga ditemukan artefak berbahan bata seperti wadah peripih, antefiks, kemuncak candi, bata candi berpelipit, dan bata tulis. Kemudian artefak berbahan batu putih seperti Arca Mahakala, Umpak dan kemuncak candi. Benda-bena lain yang berbahan logam dan keramik juga ditemukan seperti darpana, piring, mangkuk dan lampu gantung.

Berdasarkan hasil peninjauan Tim Balar Yogyakarta di Situs Kayen, diperoleh kesimpulan bahwa temuan BCB tersebut mempunyai nilai arkeologi dan kesejarahan yang cukup tinggi dalam kaitan penyusunan historiografi di Indonesia, terutama temuan struktur bata yang diduga sebagai candi ini merupakan temuan baru karena berada di wilayah Pantai Utara Jawa. Temuan candi berbahan bata sejenis banyak dijumpai di wilayah pedalaman Jawa seperti di poros Kedu – Prambanan dan Trowulan.

Walaupun masih harus dibuktikan keabsahannya secara “ilmiah’, narasi yang tertulis dalam buku “Sejarah Kawitane Wong Jawa lan Wong Kanung” memberikan gambaran awal tentang kondisi awal pulau Jawa sebelum menjadi yang sekarang ini. Dalam buku tipis berbahasa jawa yang mulai ditulis pada tahun 1931 itu digembarkan sebuah peta kuna yang menggambarkan beberapa gugusan pulau yang membentuk Jawa. dalam peta ini digambarkan sebuah pulau tanpa nama yang disitu terdapat Dieng, Gunung Merapi, Peunungan Sewu, Pegunungan Kendheng Kidul, hingga gunung Wilis. Di sebelah timur pulau besar tanpa nama ini, dengan dibatasi Bengawan Brantas, terdapat sebuah pulau bernama Jawa Pegon yang disitu terdapat Gunung Kamput, Gunung Kawi, Arjuna, Welirang dan Penanggungan. Dibagian utara pulau besar tanpa nama tersebut terdapat tiga pulau, yaitu Medunten di timur laut dan Jawa Purwa serta satu pulau tanpa nama yang lebih kecil tepat di sebelah utara.

Pada zaman ini terdapat dua Pegunungan Kendheng, Pegunungan Kendheng Selatan yang disebut Pegunungan Kendheng Tua dan Pegunungan Kendheng Utara yang disebut dengan sebutan Nusa Kendheng. Pegunungan Kendheng Selatan merupakan rangkaian dari Pegunungan Kabuh di Kabupaten Jombang dan membujur ke barat hingga Pegunungan Masaran Kabupatenn Sragen. Pegunungan Kendheng Selatan dulu berasal dari Pegunungan Watujago yang terbelah akibat gempa besar yang disertai meletusnya Gunung Lawu pada 9.000 tahun yang lalu. Letusan ii mengakibatkan terbentuknya lembah Ngawi yang sekarang ini menjadi jalur aliran Bengawan Solo. Sebelum terjadi gempa, Pegunungan Watujago telah dihuni oleh manusia yang masih telanjang dan berupa kera besar yang memakan hewan-hewan kecil dan buah-buahan yang bisa didapat dengan mudah di Pegunungan ini. Oleh orang lain yang lebih memiliki kebudayaan, orang-orang seperti ini disebut dengan “Wong Legena”, Gandaruwo atau “Monyet Limuri”. Pada waktu itu orang-orang ini belum berani tidur di goa karena masih dihuni oleh binatang buas. Mereka lebih memilih untuk tidur di celah-celah tebing atau dahan pohon yang tinggi.

Pegunungan Kendheng Utara (Nusa Kendheng) pada 5.000 tahun yang lalu, yang saat itu masih berupa pulau dengan tiga semenanjung, telah dihuni oleh “wong-suku Lingga” yang lebih maju daripada “Wong Legena” karena telah bisa membuat senjata dari batu yang diasah. Nusa Kendheng saat itu dikelilingi oleh teluk dan laut (segara). Di sebelah selatang terdapat Teluk Lodhan yang bersambungan dengan Segara Kening di sebelah Timur. Di sebelah selatan terdapat Segara selat Kendheng-Kidul dan Segara Teluk Lusi. Sedangkan di sebelah utara terdapat Teluk Juwana dan Samodra JAWA yang sangat luas. Di sebelah barat terdapat Segara teluk Serang yang bertemu dengan Segara Selat Murya yang memisahkan Nusa Kendheng dengan Gunung Murya yang saat itu masih berupa gunung berapi yang sangat besar. Deskripsi pulau Jawa pada masa-masa awal ini bisa menjadi sebuah petunjuk awal untuk terus melacak peninggalan-peninggalan bersejarah di Pegunungan Kendheng Utara.

Kini makam Ki Gede Miyono seakan tak pernah sepi dari peziarah. Ribuan peziarah, terutama pada hari minggu memadati lokasi ini untuk melihat penemuan candi yang ramai diberitakan. Warga sekitar makam pun mendapatkan keuntungan yang tidak sedikit dari penemuan ini dengan banyaknya pemasukan dari pungutan parkir sepeda motor atau mobil para peziarah. Salah satu bentuk nyata dari manfaat ekonomi yang diberikan oleh Pegunungan Kendeng Utara bagi warganya. Akan menjadi sebuah kerugian besar bagi catatan perdaban manusia jika pegunungan ini harus rusak oleh pandangan sempit pengusaha tambang dan para politisi yang melihatnya hanya sebagai gundukan batu yang menggiurkan untuk ditambang. Apakah pembaca juga akan memaknai Kendeng Utara sebagai sebuah area miskin layak tambang yang harus dikorbankan untuk menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang tak jelas juntrungannya itu? Semoga tidak. (Sob)

Tulisan juga dipublish di facebook
Sumber: www.arkeologijawa.com dan catatan pribadi.

Depan | RSS 2.0 | Kategori: berita,foto | Trackback | 3 Comments

3 Responses to “Penemuan Situs Kayen: Memaknai Kendeng Lebih Dalam”

  1. [...] Legenda-legenda zaman pewayangan, seperti makam semar dan pertapaan Dewi Kunti di Watu Payung, berkait singgung dengan cerita-cerita para wali Baca Selengkapnya: http://omahkendeng.desantara.org/2011-10/218/penemuan-situs-kayen-memaknai-kendeng-lebih-dalam/ [...]

  2. sukandar says:

    Sebagai orang asli kec.Kayen, sy informasikan disebelah selatan makam Syehk Jangkung, yaitu di desa Duren Sawit dan desa Beketel juga ada beberapa peninggalan masa lalu seperti Gua Dedor,kalau dipukul batu gua itu berbunyi seperti dedor atau beduk.dan banyak lagi ke arah selatan sampai wilayah Kab.Purwodadi

Leave a Reply