KA ANDAL yang Tak Lagi Netral

2 - Feb - 2012 | sobirno

Setelah beberapa tahun warga Pegunungan Kendeng Utara dapat hidup tenang karena diurungkannya niat PT. Semen Gresik, Tbk. Untuk membangun pabriknya di sini, kini datang lagi perusahaan lain, PT. Indocement. Dalam rencana produksinya, perusahaan yang pemegang sahamnya didominasi oleh orang asing ini akan menghasilkan 8.000 ton semen per hari dan akan sangat mungkin bertambah menjadi 16.000 ton per hari.

Kegiatan penambangan ini akan melakukan penambangan batu kapur seluas 2.025 ha, tanah liat 663 hektar dan 180 ha area untuk pabrik dan perkantoran. Sepuluh desa di Kecamatan Kayen dan Tambakromo akan masuk dalam rencana pembangunan. Untuk mencapai target ini, sedikitnya 8.000 ton batu kapur akan ditambang setiap hari padahal kita tahu bahwa setiap 1 m3 batu kapur mampu menjadi area resapan 48 liter air. Bayangkan berapa jumlah air yang berpotensi hilang jika penambangan ini berlangsung.

Ini menjadi satu faktor penting mengapa warga Pati Selatan menyuarakan penyelamatan lingkungan Pegunungan Kendeng Utara. Telah terbukti bahwa selama ini air dari Pegunungan Kendeng Utara telah mampu menghidupi puluhan warga yang mayoritas bekerja sebagai petani. Tak ada jaminan bahwa penambangan ini tidak akan mempengaruhi ketersediaan air saat ini. Contoh sederhana saja telah begitu banyak bencana yang terjadi akibat kerusakan hutan. Lalu apa jadinya jika Pegunungan Kendeng Utara akan dipotong untuk industri semen?

Peningkatan ekonomi masyarakat dan penamabahan Pendapatan Asli Daerah (PAD) menjadi alasan yang sering digunakan oleh mereka yang selama ini menginginkan pendirian pabrik semen. Akan tetapi jika dilihat dalam dokumen rencana produksi, keinginan ini sama sekali tak berdasar. Salah satunya dari sisi penyerapan tenaga kerja oleh pabrik semen dibandingkan dengan tenaga kerja di bidang pertanian. Dalam dokumen KA ANDAL yang kami terima, rencana kerja berdirinya pabrik PT INDOCEMENT di Pegunungan Kendeng Utara ini terbagi dalam beberapa tahapan yang masing-masing tahapan telah ditentukan berapa jumlah tenaga kerja yang akan digunakan. Pembangunan basecamp dan akses jalan (300 orang), pekerjaan sipil sarana/prasarana (200 orang), penambangan dan tapak pabrik (200 orang), pemasangan peralatan (300 orang), uji coba produksi (400 orang) dan tahapan operasional (800 orang). Jumlah tenaga kerja yang terserap ini tidak sebanding dengan 280 orang tenaga kerja yang dibutuhkan untuak menggap setiap hektar sawah pada setiap musimnya. Berapa jumlah tenaga kerja yang akan hilang jika ribuan hektar lahan diubah menjadi kawasan industri?

Argumen-argumen di atas selalu kami sampaikan di banyak forum, baik dalam pembahasan draft Perda RTRW Kabupaten Pati maupun sosialisasi yang dilakukan oleh pihak PT MAP selaku penyusun AMDAL. Akan tetapi nampaknya apa yang disampaikan hanya dianggap angin lalu atau formalitas, buktinya mereka tetap saja meneruskan rencana pembangunan pabrik semen. Seperti yang disampaikan oleh Alex Frans, Direktur PT. SMS, setelah sosialisasi di Desa Slening ia mengatakan bahwa warga telah siap untuk melakukan bedol desa. Padahal menurut keterangan warga yang hadir dalam sosialisasi tersebut tidak pernah ada pernyataan dari warga untuk melakukan bedol desa, bahkan sebagian besar warga yang hadir dalam pertemuan tersebut menolak keras rencana pembangunan pabrik semen.

Tak cukup dengan melakukan praktek manipulasi, kelompok  yang pro pabrik semen juga menggunakan cara-cara kekerasan. Seperti dengan mengerahkan preman untuk menghalangi kegiatan JM-PPK dalam melakukan sosialisasi penyelamatan Pegunungan Kendeng Utara. Salah satunya dalam gelaran pawai lingkungan yang kami adakan pada tanggal 1 Januari 2012 yang lalu. Pawai Lingkungan yang diadakan oleh JM-PPK dihadang oleh preman bersenjata tajam ketika ingin memasuki jalanan desa Keben. Beruntung kejadian ini tidak melahirkan bentrokan besar.

Manipulasi kembali dilakukan dengan tujuan untuk menutup akses informasi warga yang menolak pembangunan pabrik semen.  Seperti yang terjadi di desa Keben, Kepala Desa mengatakan kepada warganya bahwa ia sama sekali tidak tahu mengenai adanya rencana pembangunan pabrik semen atau pun acara sosialisasi KA ANDAL pada tanggal 30 Januari 2012. Bahkan ketika bertemu warga pada tanggal 28 Januari 2012 ia mengatakan ia akan menghajar siapapun warganya yang berangkat ke acara sosialisasi KA ANDAL pabrik semen. Hal yang lebih parah terjadi di desa Purwokerto dan Sumbersari di Kecamatan Kayen ketika Kepala Desa sama sekali tidak memberikan informasi apapun kepada warganya perihal rencana pembangunan pabrik semen.

Menjelang sosialisasi KA ANDAL pada tanggal 30 Januari 2012, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kab. Pati selaku panitia kegiatan menyebarkan undangan ke banyak pihak antara lain kepala desa di beberapa kecamatan yang akan terkena pabrik semen, LSM dan akademisi. Untuk desa-desa di Kecamatan Kayen dan Tambakromo, pihak desa menerima empat sampai enam undangan. Satu untuk kepala desa sedangkan sisanya untuk warga pro maupun kontra. Akan tetapi pada prakteknya hanya kepala desa dan warga yang pro pabrik semen saja yang mendapatkan undangan. Setelah mendesak pihak kepala desa akhirnya warga yang kontra pembangunan pabrik semen berhasil memperoleh empat undangan sosialisasi tersebut.  JM-PPK sendiri tidak mendapatkan undangan dalam forum ini, sedangkan tokoh pro semen dari Sukolilo, Eko Yasir, mendapatakan undangan resmi.

Undangan sosialisasi KA ANDAL yang tidak representatif ini disikapi warga dengan mengadakan longmarch dari wilayah Kecamatan Sukolilo, Kayen dan Tambakromo menuju Hotel Pati, tempat berlangsungnya sosialisasi. Warga memiliki hak untuk terlibat secara aktif dalam proses yang terkait dengan AMDAL seperti diatur dalam Keputusan Gubernur Jawa tengah no. 25 tentang keterlibatan masyrakat dan keterbukaan informasi dalam proses AMDAL Keputusan Kepala Bappeda 08 tahun 2000 tentang keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses AMDAL.

Pagi 30 Januari 2012, sekitar lima puluh truk yang mengangkut warga mulai bergerak pukul delapan pagi setelah sebelumnya terdengar kabar bahwa pihak pro semen telah menyiapkan preman untuk menghadang. Benar saja, ratusan preman telah berkumpul di beberapa titik jalan Sukolilo, Kayen dan Tambakromo. Warga dari Kecamatan Sukolilo berhasil menembus barikade preman di pertigaan Sukolilo, pasar Cengkalsewu sampai kemudian dihentikan oleh puluhan preman di pertigaan Kayen. Bentrok kembali terjadi ketika warga dari Tambakromo bergabung di pertigaan Kayen yang membuat preman berhasil dipukul mundur. Iring-iringan warga pun berhasil meneruskan perjalanan hingga ke depan hotel Pati.

Sesampainya di depan Hotel Pati, pintu gerbang hotel telah ditutup dan dijaga oleh puluhan preman, BANSER dan polisi. Warga pun melakukan aksi duduk di jalan sambil berorasi dan bersholawat penolakan pabrik semen. Mereka tak tahu bagaiman jalannya diskusi di dalam acara sosialisasi karena permintaan perwakilan warga agar menyediakan soundsystem di luar hotel tidak dipenuhi. Beberapa perwakilan warga yang diwawancarai oleh media cetak maupun elektronik mengatakan bahwa warga tetap menolak rencana pembangunan pabrik semen dan jika ini diteruskan maka bukan tidak mungkin akan terulang kembali tragedy Bima dan Mesuji.

Sementara itu, Anik dan Sri, warga dari desa Brati yang mendapatkan undangan resmi dari panitia sosialisasi KA ANDAL tidak berhasil masuk karena dalam dafttar hadir ternyata posisinya telah diisi oleh orang lain. Akhirnya hanya dua orang saja yang mewakili suara warga tolak semen dalam forum sosialisasi, antara lain Suyitno dan Widiarto. Dalam forum ini mereka menyampaikan dasar penolakan rencana pembangunan pabrik semen, misalnya dengan menceritakan kekayaan alam dan fungsi social ekonomi Pegunungan Kendeng Utara bagi warga di Kecamatan Sukolilo, Kayen dan Tambakromo. Diskusi menjadi memanas ketika Kepala BLH yang berlaku sebagai modeerator dirasa tidak adil dalam memimpin forum. Ia cenderung memihak pada kelompok yang pro pabrik semen. Akhirnya forum ini selesai tanpa ada kesimpulan apapun bahkan salah seorang narasumber dalam pertemuan ini yang dimintai keterangan oleh JM-PPK pada tanggal 31 Januari menyatakan bahwa secara teknis, KA ANDAL belum layak jadi acuan ANDAL karena deskripsi penambangan dan proses produksi belum lengkap. Selain itu banyak juga masukan dari tim ahli belum diakomodasi.

Peristiwa yang terjadi pada hari ini memberikan arti penting bagi warga. Pertama, kepercayaan diri warga semakin bertambah setelah berhasil menghadapi barisan yang menghadang aksi hari ini. Terbukti dengan semakin kritisnya warga terhadap pemerintah desa yang pro terhadap pabrik semen. Seperti yang terjadi di desa Keben, warga menggrudug kepala desa agar mau menandatangi surat yang menyatakan penolakan pabrik semen. Kedua, publik menjadi lebih tahu bahwa saat ini wilayah Kendeng Utara masih terus bergejolak karena isu pembangunan pabrik semen karena hampir semua media cetak dan elektronik memberitakan aksi hari ini. Semoga kritisisme warga terus terawat dengan pengalaman dan pembelajaran dalam aksi-aksi berikutnya. Salam.

Ditulis oleh Tim Dokumentasi Omah Kendeng

Facebook: www.facebook.com/omahkendeng

Twitter: @omahekendeng

Depan | RSS 2.0 | Kategori: artikel | Tags: , , , , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply