“Biarkan Kelelawar Terbang Melindungi Kita”

18 - Apr - 2012 | sobirno

“Biarkan Kelelawar Terbang Melindungi Kita”

“Biarkan Kelelawar Terbang Melindungi Kita”

Bulan Maret, saat musim hujan tinggal menyisakan bagian akhirnya beberapa orang anggota tim media Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) menelusuri kembali kawasan hutan di Pegunungan Kendeng Utara. Kali ini mereka melakukan pengamatan terhadap kelelawar yang ada di goa-goa di kawasan yang rencananya akan masuk dalam area penambangan pabrik semen. Mengapa harus kelelawar? Mengapa juga harus dilakukan pengamatan? Tulisan ini akan mencoba menjawab beberapa pertanyaan ini sekaligus juga menjadi semacam uraian kegiatan pengamatan  yang berlangsung selama satu minggu.

Kawasan batu kapur (karst) memiliki ekosistem spesifik yang sangat penting bagi keberadaan tatatanan social dan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Struktur batuan yang beronggo menjadikannya mampu mengalirkan air permukaan menuju sumber-sumber mata air.  Sampai saat ini kita bisa menyaksikan ratusan mata air yang ada di wilayah Pegunungan Kendeng Utara dengan debit air mencapai ratusan liter per detik. Dalam proses ini lubang-lubang buangan dimana air permukaan menghilang atau yang biasa disebut ponor (luweng) menjadi sangat penting.  Selain potensi hidrologi ini, kawasan kars juga memiliki jenis fauna yang cukup beragam, seperti ayam hutan, monyet, babi hutan, kancil dan beberapa jenis hewan lainnya.

Salah satu jenis satwa yang memiliki peran penting bagi pertanian adalah kelelawar. Kelelawar menjadi satu titik sangat penting dalam rantai makanan di area sawah dan hutan. Kemampuan mereka untuk memangsa hewan-hewan kecil seperti serangga menjadikan mereka predator hama alami yang sangat penting. Kelelawar pemakan serangga  memainkan peranan penting ini. Ketiadaan kelelawar ini akan meningkatkan jumlah hama bagi lahan pertanian di sekitar hunian kelelawar ini. Sebuah fakta mengejutkan dialami oleh petani di negara Amerika Serikat ketika hewan ini coba dimusnahkan karena diduga membawa virus pada tahun 2006 lalu.

Mencatat ciri spesifik. Sumber foto: dokumentasi JM-PPK

Ternyata belakangan diketahui, kematian kelelawar tersebut menyebabkan kerugian sebesar USD3,7 miliar per tahun yang dialami oleh para petani. Pasalnya kematian kelelawar dapat berarti hilangnya pestisida alami yang memiliki nilai penting bagi para petani. “Tanpa kelelawar hasil panen akan sangat berpengaruh. Penggunaan pestisida akan semakin meningkat. Bahkan jika dirunut lebih jauh lagi, temuan ini secara jelas menunjukkan bahwa kelelawar memiliki pengaruh besar dalam perekonomian pertanian dan perhutanan,” ujar Dr Gary McCracken, Kepala Departemen Ekologi dan Evolusi Biologi dari University of Tennessee, Knoxville, seperti dikutip melalui Straits Times, Jumat (1/4/2011).

Sedangkan jenis kelelawar yang berperan dalam proses penyerbukan juga tak kalah penting di banding jenis kelelawar pemakan serangga. Menurunnya populasi kelelawar jenis ini terbukti menurunkan jumlah hasil panen petani seperti yang terjadi pada petani durian di daerah Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Daerah yang dulu dikenal sebagai penghasil durian ini kini tak bisa lagi menggantungkan perekonomiannya pada pertanian durian karena kecilnya putaran uang dalam bisnis durian. Jumlah panen yang semakin menurun akibat proses penyerbukan yang tidak banyak terjadi membuat nasib petani durian di daerah ini semakin memprihatinkan. Seperti yang disampaikan oleh Ibnu Maryanto dalam Konferensi Kelelawar Indonesia dua tahun yang lalu, berlangsungnya penambangan semen di wilayah ini telah menyebabkan merosotnya populasi kelelawar padahal hewan inilah yang membantu proses penyerbukan tanaman durian (Koran Tempo 10/6/2011) .

Dari 1055 jenis kelelawar yang ada di dunia saat ini  hampir seperempatnya berada di Indonesia. 77 Di antaranya berperan dalam penyerbukan sedangkan 148 jenis lainnya sebagai pemakan serangga yang secara tidak langsung membantu manusia dalam memberantas hama dan penyakit. Jika melihat potensi alam ini, sangat ironis jika melihat sering kali kawasan karst, yang menjadi habitat penting kelelawar, dikorbankan untuk industri pertambangan. Di tambah lagi hingga saat ini Indonesia belum memiliki peraturan yang berupaya melindungi kelelawar dari ancaman kepunahan. Padahal hingga saat ini sekitar 45% dari total populasi hewan yang beraktifitas pada waktu malam hari (nocturnal) ini menghadapi ancaman kepunahan.

Di tengah ketidakberpihakan pemerintah dalam melindungi kelelawar di daerah karst saat ini, kesepakatan warga untuk melindungi kelelawar menjadi satu-satunya harapan. Akan tetapi membangun kesepakatan warga ini bukan perkara yang mudah karena terbatasnya pengetahuan yang terbatas mengenai peran penting kelelawar. Perburuan kelelawar menjadi salah satu sebab berkurangnya populasi hewan ini yang ironisnya hal ini dilakukan dengan dasar mitos. Menurut penelitian yang dilakukan oleh M. Toops, kelelawar termasuk salah satu hewan yang seringkali diburu oleh manusia akibat mitos yang mengaitkan hewan ini dengan keberadaan setan. Bahkan di beberapa negara, termasuk Indonesia, kelelawar diburu untuk dijadikan makanan karena dipercaya menjadi obat untuk beberapa penyakit.

Kebijakan pembangunan yang tidak ramah lingkungan dan minimnya kesadaran masyarakat untuk memberikan perlindungan pada kelelawar menjadi dua persoalan penting yang harus dipecahkan. Salah satu ikhtiar yang dapat dilakukan sebaagai upaya untuk memberikan pemahaman akan pentingnya kelelawar adalah dengan melakukan pengamatan kelelawar/Bats Watching (BW). Pengamatan yang dilakukan oleh tim media JM-PPK di desa-desa seperti Karangawen, Brati dan Slening ini menjadi awal ikhtiar untuk membuka jalan membangun pengetahuan kritis bagi warga dalam melihat kelelawar sebagi bagian dari potensi alam yang harus dilindungi.

Tim peneliti: Joko, Nur, Wahono, So, Kuswanto, Wagiman, Sobirin dan Bambang.
Sumber: Koran Tempo, Straits Time, Journal of Ecotourism .

Depan | RSS 2.0 | Kategori: berita,foto,Potensi Kendeng | Trackback | 2 Comments

2 Responses to ““Biarkan Kelelawar Terbang Melindungi Kita””

  1. Peneliti Temukan Ancaman Baru, Flu Kelelawar

    VIVAnews – Untuk pertama kalinya dalam sejarah, ilmuwan menemukan strain virus influenza dalam tubuh seekor kelelawar. Belum ditemukan cara penyebaran dan bahayanya, namun dikhawatirkan temuan ini akan menjadi ancaman baru bagi kesehatan umat manusia.

    Seperti diberitakan The Telegraph, Rabu 29 Februari 2012, jenis virus ini ditemukan secara tidak sengaja oleh Lembaga Pencegahan dan Pengendalian Wabah Internasional (CDC) saat meneliti sekumpulan kelelawar. Temuan mereka juga dituliskan pada jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences Senin lalu.

    == http://dunia.vivanews.com/news/read/292404-peneliti-temukan-ancaman-baru–flu-kelelawar ==

  2. joko santosa says:

    WONG SUKOLILO.SEPERTINYA KURANG BIJAKSANA JIKA TEMUAN ILMUWAN YANG MENGATAKAN VIRUS KELELAWAR BELUM DI TEMUKAN BAHAYANYA DAN PENYEBARANYA ANDA ANGKAT SEBAGAI TOPIK ANDA LEBIH BAIK YG RASIONAL.

Leave a Reply