Melampaui Paradigma Kuno Ekonomi : Perekonomian Pangan Masa Depan

2 - Jun - 2012 | sobirno

Laju pertumbuhan ekonomi dunia yang diawali dengan revolusi industri satu setengah abad yang lalu telah menjadikan minyak sebagai penopang utama. Kini kita dihadapkan pada situasi ketergantungan yang begitu tinggi terhadap bahan bakar fosil dan pola pembangunan ekonomi industri padat modal. Efek lain adalah berbagai krisis ekologi yang dihadapi manusia saat ini. Berbagai kritik muncul sebagai upaya koreksi terhadap model ekonomi macam ini. Salah satunya adalah tulisan Vandhana Shiva yang kami sadur dari artikelnya yang berjudul “Beyond Fossilized Pradigms: Futureconomics of Food” berikut ini.

Krisis ekonomi, krisis ekologi dan krisis pangan adalah refleksi dari paradigma ekonomi yang sudah kuno dan memfosil—yakni paradigma yang lahir dari mobilisasi sumberdaya melalui penciptaan kategori “pertumbuhan” ekonomi serta bersandar pada bahan bakar minyak dan fosil. Kita harus melampauai paradigma kuno ini jika kita ingin mengatasi krisis ekonomi dan ekologi.
Ekomomi dan ekologi punya akar kata yang sama, yakni “oikos” yang berarti rumah. Baik dalam pengertian planet tempat tinggal kita, yaitu bumi, atau rumah tempat kita tinggal berasama keluarga tiap hari.
Namun, ekonomi tak seiring dengan ekologi. Ekonomi telah melupakan rumah dan hanya berfokus pada pasar. Untuk menghitung GDP diciptakan ukuran tentang aktivitas mana yang merupakan kerja produktif dan mana yang bukan. Ukuran ini mendefinsikan bahwa kerja dan produksi untuk bertahan hidup adalah tindakan non-produktif —“jika anda memproduksi apa yang anda konsumsi, maka anda tidak sedang memproduksi”. Singkatnya, kerja alam raya segala sesuatu menjadi lenyap. Produksi dan kerja untuk hidup menjadi lenyap, kerja ratusan juta perempuan menjadi lenyap.

Selain salah ukur soal pertumbuhan, salah kaprah paradigma ekonomi saat ini adalah soal pengukuran “produktivitas.” produktivitas adalah hasil (output) dari input. Produktivitas diukur dengan membandingkan hasil dengan biaya yang telah dikeluarkan.

Kita ambil contoh dalam sektor pertanian. Dalam sektor pertanian, produktivitas mencakup keseluruhan output seperti kompos, susu ,bahan bakar, makanan dan buah-buahan. Jika dihitung dengan seksama dengan mempertimbangkan keseluruhan output itu, maka sistem pertanian dengan unit kecil dan beragam sesungguhnya lebih banyak menghasilkan output tinimbang sistem industri pertanian monokultur.

Untuk menghitung tingkat produktivitas dalam kegiatan produksi mestinya semua faktor turut dihitung seperti berapa jumlah modal, benih, bahan-bahan kimia, mesin, bahan bakar, tenaga kerja, tanah, dan air. Masalahnya penghitungan tingkat produktivitas biasanya hanya fokus pada satu macam dari sekian banyak hasil (output)– yakni pada satu komoditas yang diproduksi demi pasar, dan satu input dari berbagai macam input—yakni buruh..

Sehingga, Industri pertanian monokultur yang mempunyai output rendah dan input kimiawi tinggi, yang pada kenyataannya punya produktivitas negatif, dianggap lebih produktif ketimbang sistem pertanian skala kecil yang beragam dan ekologis. inilah akar dari asumsi keliru bahwa pertanian skala kecil harus dihapus dan diganti dengan pertanian industri berskala besar.

Cara ukur produktivitas yang keliru dan kuno inilah akar dari berbagai krisis pangan dan pertanian yang kita hadapi. Hal itu juga merupakan akar dari kelaparan dan kekurangan gizi karena ketika komoditas tumbuh, pangan dan gizi telah lenyap dari sistem pertanian. “Hasil panen” hanya menghitung output satu komoditas, tapi tidak menghitung output pangan dan gizi

Inilah akar dari krisis agraria:
Ketika biaya produksi terus meningkat namun tidak dimasukkan dalam perhitungan tingkat produktivitas maka petani gurem akan semakin terpinggirkan dan pada akhirnya dipaksa untuk melakukan model pertanian biaya tinggi. Ini ujung-ujungnya adalah utang yang membelit. Dan angka pengangguran pun akan semakin tinggi.

Ini adalah akar krisis pengangguran:
Ketika tenaga manusia digantikan oleh tenaga melalui sumber energi lain, maka lenyapnya mata pencaharian adalah akibat yang tak bisa dielakkan.

Ia juga merupakan sumber krisis ekologi:
Mengapa demikian? Karena industri pertanian monkultur dengan skala besar cenderung menggunakan bahan bakar fosil seperti bahan bakar minyak. Ketika input sumberdaya alam, input bahan bakar minyak, dan input-input kimia semakin meningkat namun tidak dihitung, semakin banyak pula air dan tanah yang digunakan, semakin banyak racun kimia digunakan, semakin banyak pula bahan bakar fosil yang dibutuhkan. Terkait produktivitas sumberdaya, industri pertanian semacam ini tentu sangat tidak efisien. Industri ini menggunakan 10 unit energi hanya untuk menghasilkan satu unit makanan. Industri ini bertanggungjawab pada 75 persen penggunaan air, 75 persen hilangnya keanekaragaman spesies, 75 persen kerusakan tanah dan 40 persen emisi Gas Rumah Kaca yang membuat kondisi iklim tidak stabil.

Dalam sektor pertanian, ketika kita tak lagi berfikir soal produktivitas ala pardigma lama maka kita tak lagi menganggap bahwa industri pertanian monokultur sebagai jawaban dari krisis pangan. Sebaliknya sudah satnya bagi kita untuk berpaling kepada pertanian kecil yang beragam karena mereka lebih produktif dan karena keragamannya akan melestarikan keanekaragaman hayati. Justru di tangan pertanian kecil inilah akan lebih banyak ditumbuhkan makanan dan kita akan terselamatkan dari kehancuran ekologi.

Masa depan ekonomi kita mestinya tak lagi berdasar pada bahan bakar minyak, bahan kimia beracun dan pertanian monokultur. Sudah saatnya ekomomi kita berdasar pada masyarakat dan keanekaragaman hayati. Inilah Ekonomi masa depan (futureconomics). Paradigma pangan dan pertanian yang kuno itu telah membawa kita pada keterasingan, kehilangan, wabah penyakit, dan kerusakan ekologis. Paradigma kuno yang tak berdasar pada masyarakat dan keanekaragaman hayati telah mengakibatkan kehancuran ekologis serta merampas kehidupan 250.000 petani.

Paradigma lama berpihak pada pertumbuhan ekonomi dan keuntungan korporasi semata, namun ia menghancurkan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Paradigma baru yang kita bangun akan menciptakan sumber lapangan kerja, membuat masyarakat makin sehat dan kelestarian ekosistem serta kebudayaan terjaga.

Lalu, apakah sudah ada negara yang mulai menggunakan paradigma baru ini? Adalah Bhutan, negara kecil di pegunungan himalaya ini telah mencanangkan diri untuk meninggalkan paradigma lama itu. Perdana Menteri Bhutan, Jigmi Thinley, telah mengakui bahwa “pertanian organik dan “peningkatan kebahagiaan dan kesejahteraan” berjalan seiring. Bhutan telah memulai transisi menuju Bhutan 100 persen organik. Mereka telah mengucapkan selamat tinggal kepada perhitungan GNP dan GDP gaya lama. Kini mereka menyambut era baru, saat ekonomi tak lagi hanya bicara soal pertumbuhan yang berdasar pada bahan bakar minyak, bahan kimia berbahaya dan sistem pertanian monokultur tetapi ekonomi yang berdasar pada kesejahteraan rakyat dan keberlanjutan ekologi, yang mereka sebut Gross National Happiness (Kebahagiaan Nasional Bruto).

Depan | RSS 2.0 | Kategori: artikel | Trackback | 0 Comments

Leave a Reply