Sinoman: Mengikat Warga untuk Kompak

7 - Jun - 2012 | sobirno

Siapapun akan menjadi cerdas jika berada pada situasi kritis. Kecerdasana ini pula lah yang ditunjukkan oleh warga di Pegunungan Kendeng Utara dalam menyikapi ancaman pembangunan pabrik semen yang terus saja datang. Salah satu bentuk kreativitas warga adalah dengan membentuk kelompok arisan kreatif atau biasa disebut sinoman. Istilah Sinoman dalam bahasa Jawa berarti aktivitas memberikan sumbangan atau nitip barang dan menagihnya kembali ketika sedang membutuhkan. Akan tetapi sinoman yang dilakukan oleh warga desa Brati Kecamatan Kayen ini tidak hanya berkaitan dengan persoalan nitip barang atau pinjam-meminjam uang melainkan juga berkaitan dengan urusan penyelamatan alam.

Kegiatan yang diadakan rutin setiap 36 hari (selapan) sekali ini telah berjalan hampir tujuh tahun dengan tempat pertemuan yang berpindah-pindah. Seperti pada suatu malam di rumah warga desa Brati, sekitar seratus lima puluhan orang laki-laki dan perempuan telah berkumpul. Setelah dirasa cukup memenuhi jumlah minimal anggota yang harus hadir, acarapun dimulai dengan mungumpulkan iuran dari tiap anggota. Besaran iuran ditentukan minimal Rp. 50.000,- sedangkan batas maksimalnya tidak ditentukan. Masing-masing anggota memiliki nomor urutan yang nanti akan dikocok untuk menentukan siapa yang akan mendapatkan uang hasil iuran, sekaligus juga menentukan tempat pertemuan berikutnya. Uang yang terkumpulkan akan diserahkan kepada “pemenang” malam ini setelah sebelumnya disisihkan Rp. 100.000,- untuk mengisi kas kelompok. Kas hasil iuran ini pula yang selama ini digunakan untuk membiayai berbagai kegiatan seputar penolakan pembangunan pabrik semen.

Tak hanya faktor ekonomi yang mengikat anggota dalam kelompok sinoman ini tetapi juga kesempatan untuk memperoleh informasi terbaru dalam isu pembangunan pabrik semen. Setiap anggota yang memiliki informasi terbaru, gosip atau pengetahuan apapun mengenai isu ini memiliki kesempatan yang sama untuk berbicara. Sinoman menjadi wadah untuk berkomunikasi antar warga, mencari informasi maupun menklarifikasi berbagi isu yang berkembang. Selain itu forum ini juga menjadi sarana musyawarah yang efektif. Tak heran jika anggotanya kini mencapai 170 orang yang berasal dari beberapa desa di Kecamatan Kayen yang memiliki komitmen untuk menolak rencana pembangunan pabrik semen.

Menurut Mbak Nik, salah seorang pengurus, kelompok sinoman yang dinamakan “sinoman tolak semen” ini membalik asumsi banyak pihak yang mengatakan bahwa mayoritas warga desa di calon tapak pabrik semen sepaat dengan rencana tersebut. Kelompok ini membuktikan bahwa warga mampu untuk mengadakan sebuah kegiatan yang kreatif untuk menyaring setiap informasi yang masuk terkait isu pembangunan pabrik semen sehingga tidak mudah terombang-ambingkan oleh informasi yang tidak jelas. Kegiatan ini juga menjadi jawaban atas dikondisikannya pemerintah desa dan birokrasi di daerah untuk sepakat dengan rencana kegiatan PT. Indocement yang akan membangun pabriknya di Kecamatan Kayen dan Tambakromo.

Pembacaan tahlil menjadi penutup kegiatan sinoman ini. Tahlil mengingatkan kepada seluruh anggota untuk terus berusaha menjaga alam yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita sekaligus untuk mengingatkan kita bahwa anak cucu kita juga berhak untuk mewarisinya.

Pewarta: Widiyono
Ilustrasi foto oleh Tim Dokumentasi Omah Kendeng dari website handinhandwecan.com

Depan | RSS 2.0 | Kategori: berita | Trackback | 0 Comments

Leave a Reply