Valuasi Ekonomi Jasa Lingkungan Kawasan Karst Maros-Pangkep

13 - Jun - 2012 | sobirno

Pendahuluan
Sulawesi Selatan memiliki kawasan kars yang terletak di Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep (Kawasan Kars Maros-Pangkep, KKMP) yang telah menjadi salah satu kawasan yang direkmendasikan untuk diperhatikan oleh pemerintah dalam the Asia-Pacific of Karst Forum on Karst Ecosystem and World Heritage (The UNESCO World Heritage Centre 2001).

Kawasan ini memiliki tipe karst menara (tower karst) yang sangat khas sejenis dengan yang ada di Cina dan Vietnam (Samodra, 2001), sehingga direkomendasikan menjadi kawasan warisan dunia (natural world heritage). Umumnya kawasan karst ini dan kawasan karst lainnya secara ekonomi dikenal sebagai kawasan yang memiliki potensi bahan galian untuk bahan bangunan dan bahan baku semen. Sesungguhnya kawasan ini juga memiliki potensi ekonomi yang tak kalah penting, yaitu nilai jasa lingkungan (environmental services) seperti sumberdaya air , keanekaragaman hayati, keunikan bentang alam, obyek wisata alam, situsa arkeologi dan areal peribadatan (Kasri, et. Al, 1999). Berdasarkan Kepmen ESDM No. 1456 tahun 2000, selain memiliki nilai ekonomi, kawasan karst juga memiliki nilai strategis lain, yaitu nilai ilmiah dan nilai kemanusiaan. Selain itu, dari sisi keanekaragaman hayati di KKMP terdapat 284 jenis tumbuhan dan ratusan jenis kupu-kupu di Bantimurung. Pada kawasan ini dapat ditemui tarsius, kuskus, 2 jenis kelelawar yang merupakan key-stone species yang berfungsi untuk melakukan penyerbukan terhadap sekitar 100 jenis tumbuhan dan 103 jenis kupu-kupu. Tujuh di antara jenis kupu-kupu ini merupakan serangga endemik, yaitu Papilo blumei, P. Polites, P. Sattapses, Traides haliptron, T. Helena, T. Hypolites, dan Graphium andracles.

Kawasan seluas 40.000 hektar ini telah terbagi dua menjadi 20.000hektar areal budidaya dan sisanya, 20.000 hektar menjadi bagian dari 43.750 hektar kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul) (Dephut, 2004). Saat ini kawasan yang memiliki tiga kelas kawasan ini (Oktiardi, et. Al, 2005) sedang mengalami tekanan yang cukup berat karena usaha pertambangan batugamping untuk semen dan industri lainnya. Selain itu, era otonomi daerah diperkirakan mendorong pengelolaan kawasan secara parsial berbasis batas administratif bukan batas ekologis. Penambangan karst yang dilakukan di KKMP mengancam ketersediaan air tanah di sekitar kawasan karst (BAPPENAS, 2006). Kawasan ini memiliki cadangan batu gamping, bahan baku semen dan marmer yang produknya sudah diekspor ke Singapura dan Malaysia (Adhisumarta, 2003).

Pendekatan valuasi ekonomi digunakan untuk memudahkan perbandingan antara nilai-nilai lingkungan hidup (environmental values) dan nilai pembangunan (developmental values). Valuasi lingkungan harus merupakan suatu bagian integral dari prioritas sektoral dalam mendeterminasi keseimbangan antara konservasi dan pembangunan serta dalam memilih standar lingkungan (Saraim, 2006). Hal ini mendorong perlunya penilaian ekonomis terutama dari jasa-jasa lingkungan (environmental services) yang dihasilkan kawasan ini. Secara akademis, saat ini setidaknya telah dilakukan berbagai penelitian dalam kawasan ini, yaitu meliputi aspek vegetasi (Achmad, 2000), arkeologi dan biodiversity (Samodra, 2001), serta geologi, egeokimia (Imran, et. Al, 2004) dan valuasi ekonomi (Gustami dan Waluyo, 2002) serta grand-design pengelolaan pada kawasan serupa di Gunung Sewu (Samodra, et. Al, 2005).

Metode Penelitian
Obyek penelitian berupa kawasan karst yang secara administratif berada di wilayah Kabupaten Maros dan Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan (Gambar 1). Waktu penelitian berlangsung dari bulan Agustus 2007 sampai bulan Juli 2008 berupa survey lapangan untuk pengumpulan data sekunder dan data primer, serta pengolahan data dan penulisan hasil penelitian.

Metoda penelitian mengadopsi valuasi ekonomi yang telah dilakukan oleh Gustami dan Waluyo (2002) pada sebagian KKMP di Kabupaten Maros. Data pendukung diperoleh dari BPS, Dinas Pariwisata, PDAM, Dinas PSDA, Dinas Pertambangan dan Energi serta Balai Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Data spasial diperoleh dari Bakosurtanal serta Dirjen Geologi dan Sumberdaya Mineral diolah dan dikombinasikan dengan data pendukung menggunakan analisis spasial dalam Sistem Informasi Geografis (SIG). Survey lapangan dan pengambilan sampel masyarakat sebanyak 100 responden yang dilakukan di 15 dusun dari 9 desa dalam 5 kecamatan di sekitar KKMP. Selain itu, dilakukan pengambilan sampel pengunjung Taman Wisata Alam Bantimurung, Cagar Alam Karaenta, Taman Wisata Alam Gua Pattunuang dan Wisata Arkeologi Sumpang Bita sebanyak 70 responden.

Pengumpulan data primer dilakukan melalui survey langsung untuk mengukur kesediaan membayar (willingness to pay, WTP) responden pada suatu upaya konservasi dan kesediaan untuk menerima (willingness to accept, WTA) ganti rugi jika kondisi lingkungan tidak seperti yang diinginkan, dengan mengeksplorasi preferemsi dan responden. Hal ini dilakukan dengan metode wawancara dalam bentuk onsite dan household survey. Pendekatan langsung dengan nilai pasar, biaya pengganti (surrogate market) melalui metode biaya perjalanan (travel cost method, TCM) dan contingen valuation method (CVM) digunakan untuk menilai manfaat yang dihasilkan (produk dan jasa) kawasan karst. Nilai total ekonomi (total economic value, TEV) dihitung adari agregat nilai penggunaan langsung (direct use value, DUV) nilai penggunaan tidak langsung (indirect use value, IUV) dan nilai bukan guna (non use value, NUV) (Askary, 2001; Gustami dan Waluyo, 2002; Suparmoko, 2006).

Hasil Nilai Guna Langsung (Direct Use Value)
Nilai Guna langsung yang dihitung meliputi nilai langsung yang diperoleh masyarakat dari fungsi KKMP yang menunjang kehidupan masyarakat. Kegunaan langsung tersebut berupa nilai KKMP sebagai lokasi wisata dan sumber air yang dimanfaatkan langsung oleh masyarakat. Sebagai lokasi wisata, KKMP memiliki berbagai lokasi wisata yang tersebar di Kabupaten Maros dan Pengkep. Secara umum lokasi wisata tersebut dapat dikategorikan sebagai lokasi wisata umum berupa tempat rekreasi yang banyak dikunjungi masyarakat umum, lokasi wisata sejarah berupa situs-situ sejarah dan cagar budaya, serta lokasi wisata minat khusus yang dikunjungi untuk kegiatan petualangan (berkemah, penelusuran goa dan lain-lain). Sementara sebagai sumber air, KKMP merupakan sumber air baku bagi kebutuhan masyarakat sekitarnya dan irigasi pertanian di bagian hilirnya sekaligus sumber ait baku PDAM untuk didistribusikan ke pemakai di kedua kabupaten tersebut.

Lokasi wisata yang dijadikan sampel penelitian adalah UPTD Rekreasi Bantimurung untuk wisata umum, Tempat Pra Sejarah (TPS) Leang-Leang dan TPS Sumpang Bita untuk wisata sejarah, serta Taman Wisata Alam (TWA) Goa Pattunuang dan lokasi lain sekitar TN Babul untuk wisata minat khusus. Rata-rata jumlah kunjungan wisata dari seluruh lokasi wisata di KKMP yang tercatat adalah sebesar 478.225 pengunjung setiap tahunnya. Lokasi kunjungan terbesar adalah tempat rekreasi Bantimurung (89, 6%) dengan total kunjungan rata-rata selama 5 tahun terakhir sebanyak 428627 pengunjung setiap tahunnya. Sementara lokasi wisata minat khusu seperti Goa Pattunuang memiliki total kunjungan rata-rata terkecil (0,2%) yaitu sebanyak 844 pengunjung setiap tahunnya. Nilai valuasi ekonomi yang dihasilkan dari biaya perjalanan wisata pengunjung adalah sebesar Rp. 793.338.928.200,- (Tujuh ratus sembilan puluh tiga milyar tiga ratus tiga puluh delapan juta sembilan ratus dua puluh delapan ribu dua ratus rupiah- – red) setiap tahunnya.

Sebagai Sumber air yang dimanfaatkan langsung, data yang digunakan adalah banyaknya penggunaan air dan biaya yang dikeluarkan masyarakat sekitar KKMP, jumlah produksi dan harga air baku PDAM, serta luas sawah irigasi dan keuntungan produksi per luasan (ha) yang diperoleh petani di Kabupaten Maros dan Pangkep. Nilai valuasi yang diperoleh dari pemanfaatan air ini sebesar Rp. 406.579.689.900,-. Sehingga nilai guna langsung KKMP setiap tahunnya berdasarkan banyaknya kunjungan wisata dan pemanfaatan air adalah sebesar Rp. 1.199.918.615.100,- (Satu triliun seratus sembilan puluh sembilan milyar sembilan ratus delapan belas juta enam ratus lima belas ribu seratus rupiah—red).

Nilai Guna Tidak Langsung (Indirect Use Value)

Nilai Guna tidak langsung KKMP yang dihitung berupa nilai kawasan guna mencegah bencana alam berupa longsor, banjir atau kekeringan akibat kerusakan lingkungan. Hal ini berkaitan dengan kelestarian kawasan karst sebagai pengangga sekosistem sekitarnya. Kelestarian kawasan karst berarti terjaganya hutan dan keanekaragaman hayati yang ada di dalam kawasan ini. Hal ini akan berdampak secara tidak langsung terhadap kelangsungan hidup masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan. Nilai manfaat kawasan tersebut didekati dengan kecenderungan nilai keinginan menerima (WTA) dan keinginan membayar (WTP) responden masyarakat di sekitar kawasan dan pengunjung wisata yang ada di kawasan karst. Rata-rata keinginan untuk menerima kompensasi terjadinya kerusakan kawasan yang bisa menimbulkan bencana berkisar antara Rp. 7.500.000,- hingga Rp. 100.000.000,- per responden. Setelah dikonversi menjadi kompensasi tahunan, diperoleh rata-rata nilai valuasi sebesar Rp. .993.200,- per penduduk. Sehingga nilai guna tidak langsung KKMP setiap tahunnya berdasarkan keinginan menerima masyrakat sekitar kawasan adalah sebesar Rp. 808.117.741.600,- (Delapan ratus delapan milyar seratus tujuh belas juta tujuh ratus empat puluh satu ribu enam ratus rupiah- – red).

Nilai Bukan Guna (Non Use Value)
Nilai bukan guna yang dihitung berupa nilai kelestarian keanekaragaman hayati dan perbaikan lingkungan. Nilai bukan guna kawasan tersebut didekati dengan kecenderungan nilai einginan membayar (WTP) responden pengunjung wisata yang ada di kawasan karst. Rata-rata keinginan membayar untuk kelestarian keanekaragaman hayati adalah sebesar Rp. 66.600,- per responden. Sementara untuk perbaikan lingkungan yang meliputi kebersihan, keindahan dan kesejukan, rata-rata keinginan membayar responden berkisar antara Rp. 24.700,- hingga Rp. 27.800,- per responden. Sehingga nilai bukan guna KKMP setiap tahunnya berdasarkan keinginan membayar pengunjung wisata sekitar kawasan adalah sebesar Rp. 64.464.730.000,- (Enam puluh empat milyar empat ratus enam puluh empat juta tujuh ratus tiga puluh ribu rupiah).

Nilai Ekonomi Total Kars Maros
Valuasi ekonomi sebagian jasa lingkungan KKMP setiap tahunnya menggunakan pendekatan perhitungan nilai guna langsung (direct use value) sebesar Rp. 1.199.918.615.100,- (Satu trilyun seratus sembilan puluh sembilan milyar sembilan ratus delapan belas juta enam ratus lima belas ribu seratus rupiah – - red) nilai guna tidak langsung (indirect use value) sebesar Rp. 808.117.741.600,- (delapan ratus delapan milyar seratus tujuh belas juta tujuh ratus empat puluh satu ribu enam ratus rupiah- – red) dan nilai bukan guna (non use value) sebesar Rp. 64.464.730.000,- (Enam puluh empat milyar empat ratus enam puluh empat juta tujuh ratus tiga puluh ribu rupiah0. Nilai ekonomi toal dari sebagian jasa lingkungan KKMP setiap tahunnya adalah sebesar Rp. 2.072.501.086.700,- (dua trilyun tujuh puluh dua milyar lima ratus satu juta delapan puluh enam ribu tujuh ratus rupiah).

Kesimpulan
Secara ekonomi, KKMP memiliki nilai (value) yang cukup signifikan bagi kepentingan pemerintah daerah dan masyarakat sekitarnya. Nilai ekonomi total setiap tahun KKMP berdasarkan valuasi ekonomi nilai guna langsung da tidak langsung, serta nilai bukan gunanya adalah sebesar Rp. 2.072.523728.298,-. Meskipun belum semua jasa lingkungan KKMP divaluasi, tetapi hal ini menunjukkan perlunya kesadaran semua pihak, untuk memanfaatkan dan mengelola KKMP secara lebih dengan memperhatikan nilai jasa lingkungannya.

Studi valuasi ekonomi yang lebih teliti diperlukan untuk memunculkan nilai ekonomi KKMP yang belum tercakup dalam studi ini. Selain itu diperlukan perbandingan dengan nilai ekonomi KKMP yang berseberangan dengan prinsip konservasi, seperti kegiatan penambangan yang menghilangkan fugsi jasa lingkungan KKMP. Hal ini diperlukan sebagai masukan bagi semua pihak terutama para pengambil kebijakan dalam merencanakan dan mengelola KKMP dengan sudut pandang yang lebih komprehensif. Seperti diketahui bahwa KKMP merupakan sebuah ekosistem yang rentan terhadap perubahan dan sangat sulit pulih jika terjadi kerusakan akibat pemanfaatan yang tidak tepat.

Penulis: Rachman Kurniawan, Eriyatno, Rukman Sardjadidjaja Alinda F.M Zain (Pusat Studi Lingkungan Hidup UNHAS)
Sumber: Gunung Sewu, Indonesian Karst and Cave Journal, Volume 5 Nomor 1, April 2009.
Copy writer: Sobirin (Tim Dokumentasi Omah Kendeng)

Depan | RSS 2.0 | Kategori: artikel | Tags: , , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply