MENGENAL FUNGSI KAWASAN KARST DAN UPAYA PERLINDUNGANNYA

10 - Jul - 2012 | admin

(Makalah ini disampaikan oleh A.B. Rodhial Falah & Akhmad Zona Adiardi – Acintyacunyata Speleological Club dalam Kemah Konservasi BKSDA Propinsi Yogyakarta 26 – 27 November 2011).

Abstract :

Kawasan Karst merupakan ekosistem yang terbentuk dalam kurun waktu ribuan tahun, tersusun atas batuan karbonat (batukapur/batugamping) yang mengalami proses pelarutan sedemikian rupa hingga membentuk kenampakan morfologi dan tatanan hidrologi yang unik dan khas. Indonesia memiliki wilayah karst seluas 154.000 km persegi yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Salah satunya terletak di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang telah dikenal secara internasional sebagai Kawasan Karst Gunungsewu. Kawasan Karst Gunungsewu membentang dari sebelah timur Tinggian Imogiri hingga Kabupaten Pacitan bagian barat dengan luas mencapai 13.000 kilometer persegi. Karst Gunungsewu memiliki potensi yang luar biasa bagi penunjang kehidupan manusia. Berdasarkan sifat fisiknya, kawasan karst memiliki fungsi utama sebagai akuifer air yang memenuhi air baku bagi ratusan ribu masyarakat yang hidup di dalamnya, kawasan ini juga berfungsi sebagai penjaga keseimbangan ekosistem regional. Namun demikian, kawasan karst merupakan kawasan yang sangat rentan terhadap perubahan. Aktivitas manusia menjadi ancaman terbesar terhadap kelestarian fungsi ekologi karst. Hilangnya fungsi ekologi karst merupakan bencana bagi kehidupan manusia yang mustahil untuk dihindarkan.

Keywords : Karst, Karst Gunungsewu, Fungsi Ekologi Karst, Konservasi Karst

Asal istilah “karst” dapat dilacak ulang pada masa Pre Indo-European, di mana karst merupakan akar kata dari karra/garrayang berarti batu (Gams 1973a, 1991a, 2003; Kranj 2001a dalam Ford & William, 2007). Istilah ini merupakan kata jadian yang banyak ditemukan di wilayah Eropa dan Timur Tengah untuk menunjuk suatu daerah di perbatasan Slovenia – Italia, yaitu Dinaric Karst.

Di Slovenia, istilah Karramengalami evolusi linguistik menjadi kars/kras yang bermakna daerah berbatu dan tandus. Pada akhir abad-18 hingga pertengahan abad 19, The Geographical & Geological Schooldi Vienna selalu menggunakan istilah kars/kras untuk menamakan daerah dengan “fenomena karst” dan berhasil meyakinkan dunia internasional untuk menggunakan istilah karst sebagai istilah ilmiah untuk menamakan daerah yang memiliki fenemina khas hingga sekarang.

Karst saat ini didefinisikan sebagai daerah yang memiliki bentang alam dan pola hidrologi khusus yang terbentuk dari kombinasi sifat batuan yang memiliki tingkat kelarutan tinggi serta porositas sekunder yang berkembang dengan baik (Ford & William, 2007). Bentang alam dan pola hidrologi khusus tersebut antara lain dicirikan dengan keterdapatan goa-goa, cekungan-cekungan tertutup, pola aliran celah, kenampakan jejak aliran purba (flute rock outcrops) dan kelimpahan mata air.

Salah satu faktor yang paling banyak menarik perhatian para ahli adalah keberadaan goa pada daerah karst. Goa karst merupakan laboratorium yang menyimpan berbagai informasi berharga untuk kegiatan maupun pekerjaan ilmiah di bawah permukaan daerah karst.

Kawasan Karst yang dimiliki oleh Kabupaten Gunungkidul (Karst Gunungsewu) merupakan satu-satunya kawasan karst di Indonesia yang paling lengkap diteliti oleh para ahli baik dari dalam maupun luar negeri. Penyelidikan Karst Gunungsewu diawali oleh Lehman pada awal abad 20, yaitu dengan memperkenalkan tipe karst yang didominasi bentuk kerucut (conical hill). Penyelidikan ini kemudian dilanjutkan oleh Bothe (1929) dan Bemmelen (1949).

Secara umum karst memiliki dua aspek kajian, yaitu exokarst(karst permukaan) dan endokarst(karst bawah permukaan). Penyelidikan ilmiah yang dilakukan oleh Lehman, Bothe dan Bemmelen di kawasan Karst Wonosari baru menyentuh aspek-aspek exokarst, mengenai tatanan geologi yang merupakan bagian kecil dari kajian tentang Pegunungan Selatan. Kajian tentang endokarstsendiri baru dilakukan pada tahun 1983 oleh tim peneliti yang dipimpin Sir MacDonald, tergabung dalam British Cave And Research Assosiation(BCRA) dalam rangka kerjasama Departemen Pekerjaan Umum RI dengan Biro Kerjasama Luar Negeri Kerajaan Inggris.

Fungsi Kawasan Karst

a. Kawasan Karst Sebagai Akuifer Air Alami

Fungsi kawasan karst bagi kehidupan manusia masih menjadi perdebatan hingga saat ini. Awalnya, para ahli memahami bahwa karst merupakan wilayah kering yang tidak produktif. Hal ini disebabkan oleh sifat fisik batugamping yang menyusun kawasan karst didominasi oleh porositas sekunder, banyak retakan dan permukaannya berlubang-lubang sehingga tidak mampu menyimpan air dalam waktu yang lama. Air hujan yang mengguyur daerah karst diyakini langsung turun ke bawah menuju zona jenuh air kemudian mengalir menuju titik-titik keluaran menjadi mata air atau terbuang ke laut.

Hal ini diyakini menjadi penyebab kenapa daerah karst selalu identik dengan kekeringan dan daerah tandus. Kawasan karst selanjutnya hanya dinilai dari segi ekonomis batugampingnya, yakni sebagai bahan galian golongan-C.

Perkembangan pengetahuan tentang karst ternyata mengungkapkan bahwa karst justru merupakan akuifer air yang baik, berpengaruh langsung bagi kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya. Konsep epikarst yang dilontarkan oleh ahli hidrologi karst Mangin (1973) menyebutkan bahwa lapisan batugamping yang ada di dekat permukaan karst memiliki kemampuan menyimpan air dalam kurun waktu yang lama.

Hal yang sama juga dikemukakan oleh Alexander Klimchouk (1979, 1981) bahwa zona di dekat permukaan karst merupakan zona utama pengisi sistem (hidrologi) karst melalui proses infiltrasi diffuse dan aliran celah (fissure flow). Daritipe aliran air pada celah vertikal, Chernyshev (1983) kemudian memperkirakan bahwa zona epikarst ini terletak pada kedalaman 30 – 50 meter di bawah permukaan karst dengan ketebalan bervariasi, biasanya 10 -15 meter dari permukaan (Klimchouk, 2003).

Berdasarkan hasil-hasil penelitian tersebut menjadi jelas bahwa kawasan karst memiliki fungsi yang jauh lebih penting daripada hanya sekedar gundukan bahan galian C, yaitu sebagai akuifer air alami yang berperan penting terhadap suplai hidrologi bagi daerah sekitarnya.

Kawasan Karst Gunungsewu, selama ini telah mememenuhi kebutuhan air baku bagi 120.000 jiwa. Jumlah itu baru dicukupi dari dua sistem sungai bawah permukaan saja, yaitu Sistem Goa Seropan dan Sistem Goa Bribin.

b. Kawasan Karst Sebagai Hunian Fauna Pengendali Hama

Kawasan karst selalu memiliki goa yang jumlahnya mencapai belasan hingga ratusan dalam satu kawasan. Goa-goa ini ternyata merupakan hunian bagi sejumlah biota, salah satunya adalah kelelawar. Berbagai jenis kelelawar bisa hidup berdampingan dalam satu goa. Beberapa goa yang memiliki dimensi ruang besar dan lorong yang panjang, mampu menampung ribuan hingga jutaan ekor kelelawar.

Beberapa jenis kelelawar yang biasa ditemui hidup di goa-goa karst antara lain adalah kelelawar pemakan serangga dari jenis Nycteris javanica, Hipposideros larvatus, Hipposideros diadema, Rhinolopus sp, dan Miniopterus sp (Rahmadi & Wiantoro, 2007).

Daya jelajah kelelawar ini mencapai radius kurang lebih sembilan kilometer dari tempat tinggalnya, artinya kelelawar ini memiliki kemungkinan menjaga areal seluas 250 kilometer persegi dari ancaman hama serangga.

Kelelawar memiliki kemampuan makan hingga seperempat berat tubuhnya, tiap malamnya kelelawar pemakan serangga mampu melahap 800 – 1200 ekor serangga (Ducummon, 2001). Tentu saja hal ini berdampak positif bagi bidang pertanian. Petani tidak perlu repot mengeluarkan banyak uang untuk membeli pestisida. Namun sayangnya, kesadaran masyarakat terhadap nilai penting kelelawar masih begitu rendah. Di beberapa wilayah, masyarakat masih gemar memburu kelelawar untuk sekedar menjadi lauk pauk hingga diperjualbelikan.

Gangguan terhadap habitat kelelawar, menyebabkan hama serangga yang tidak terkendali. Akibatnya, hasil pertanian tidak sesuai dengan yang diharapkan hingga gagal panen total.

c. Kawasan Karst Sebagai Pengendali Banjir

Sifat fisik batugamping penyusun kawasan karst memungkinkan kawasan karst tersebut memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air hujan dalam kurun waktu yang cukup lama. Hal ini tak lepas dari peran zona epikarst yang merupakan zona yang mampu menyimpan air paling banyak dalam satu tubuh batugamping.

Keberadaan zona epikarst yang terletak dekat permukaan sangat memungkinkan mendapatkan gangguan dari aktivitas manusia, salah satunya adalah perubahan bentuk lahan, baik untuk keperluan eksploitasi batugamping (baca : tambang) maupun untuk keperluan lain, seperti mendirikan bangunan.

Permukaan karst yang dikupas menyisakan batuan yang lebih pejal dan masif dengan sedikit pori-pori maupun retakan-retakan. Sehingga ketika hujan turun, batuan tersebut tidak lagi mampu menyerap air. Air yang tidak terserap akan melimpas melalui permukaan dan berpotensi menimbulkan banjir bandang, terutama jika lahan yang terkupas memiliki luas dan kelerengan yang signifikan.

Setiap lahan karst yang telah terkupas, membutuhkan waktu yang lama (ribuan tahun) untuk kembali membentuk lapisan epikarst dan berfungsi sebagaimana awalnya. Sehingga dapat disimpulkan, setiap kerusakan yang terjadi pada permukaan karst bersifat permanen dan tidak dapat direhabilitasi lagi.

d. Kawasan Karst Sebagai Laboratorium Alam

Berbagai potensi yang terdapat di kawasan karst menjadikan kawasan karst memiliki nilai ilmiah yang tinggi. Di seluruh penjuru dunia, kawasan karst sudah umum menjadi lokasi penelitian berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Segala segi informasi yang terekam dan tersimpan selama proses pembentukan karst menjadi bahan penelitian disiplin ilmu kebumian.

Flora dan fauna tentu saja menjadi kajian menarik bagi mereka yang menekuni ilmu hayati. Bukan hanya flora dan fauna yang hidup di permukaan karst, namun juga mereka yang jauh tersembunyi dalam gelapnya goa-goa karst. Karakter khusus perilaku hidrologi karst menjadi kajian tersendiri bagi mereka yang menekuni hidrologi.

Karst dengan segala sifat fisik batuan penyusunnya, ternyata merupakan tempat yang ideal untuk mengawetkan berbagai macam jenis sisa kehidupan masa lampau. Tak terkecuali fungsi goa sebagai tempat hunian manusia-manusia prasejarah. Aneka ragam perkakas hingga fosil manusia purba banyak ditemukan di kawasan karst. Tak heran jika kawasan karst ibarat surga bagi dunia arkeologi . Masih banyak lagi displin ilmu yang menggunakan karst sebagai laboratoriumnya.

Berbagai temuan spektakuler telah dipublikasikan sejak ilmu tentang karst dipelajari manusia pada awal abad 19 lalu. Beberapa diantaranya adalah temuan spektakuler tentang keberadaan goa terpanjang di dunia Flint – Mammoth System (500 km) di Kentucky – USA, goa terbesar di dunia Hang Dong Soon – Vietnam, Lukisan Goa Tertua di Lascaux Perancis, Fosil Manusia Kerdil/Hobbit di Liang Bua Flores – Indonesia, dsb.

Ancaman Terhadap Ekosistem Karst

Aktivitas penambangan batugamping baik skala besar maupun secara kecil masih menjadi ancaman terbesar bagi kelestarian kawasan karst. Daya rusak kegiatan penambangan ini berdampak sistemik terhadap ekosistem karst dan sekitarnya serta bersifat permanen.

Kawasan Karst Gunungsewu pun tidak luput dari ancaman penambangan. Dari segi skala memang tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan yang telah terjadi di kawasan karst lain seperti Karst Tuban dan Karst Cibinong. Namun jika dicermati lebih jauh, aktivitas pertambangan di Karst Gunungsewu (khususnya segmen Wonosari) cukup mengkhawatirkan.

Tidak diketahui pasti kapan aktivitas penambangan batugamping di Kawasan Karst Gunungkidul mulai marak. Secara sporadis aktivitas ini dapat dijumpai di hampir seluruh pelosok Karst Kabupaten Gunungkidul. Aktivitas penambangan paling masif justru terpusat di bagian utara kawasan karst Gunungkidul, yaitu Kecamatan Ponjong yang diyakini oleh banyak peneliti sebagai daerah tangkapan air bagi Goa Seropan dan Goa Bribin.

Selama ini, sistem sungai Goa Bribin dan Seropan telah mensuplai air baku setidaknya untuk 120.000 jiwa di Kabupaten Gunungkidul. Tentu saja hal menjadi menjadi ancaman serius terhadap keberlangsungan aliran di kedua sistem sungai tersebut. Dampaknya sudah mulai terasa, yaitu penurun debit aliran yang cukup signifikan dalam kurun 10 tahun terakhir.

Daya rusak penambangan batugamping secara kasat mata bisa dilihat dari rusaknya bentang alam karst. Bukit-bukit batugamping yang menyusun kawasan karst terpotong-potong di banyak tempat. Pengupasan lahan dan pemotongan bukit inilah yang merusak sistem suplai air di daerah karst. Bukit karst, yang seharusnya menyimpan dan mensuplai air ke sungai bawah tanah melalui saluran-saluran mikronya, menjadi kehilangan fungsinya karena terpotong oleh aktivitas tambang. Akibatnya, pada musim kemarau debit sungai bawah tanah di Bribin dan Seropan berkurang drastis. Di musim hujan fluktuasi air sungai bawah menjadi tidak terkendali.

Dampak kerusakan akibat penambangan ini terbaca jelas pada perilaku aliran sungai bawah tanah yang ada di Goa Seropan dan Goa Bribin. Akibat aktivitas tambang yang marak di permukaan, sungai bawah tanah di Goa Seropan dan Goa Bribin telah menunjukkan perubahan perilaku. Sebelum tahun 2005, ketika musim hujan, sungai bawah tanah di kedua goa ini memiliki waktu tunda yang cukup lama (dalam hitungan hari) untuk menaikkan debit alirannya. Sejak tahun 2005, ketika hujan lebat mengguyur permukaan, kenaikan debit di kedua sungai sudah bisa diamati dengan mata telanjang. Laju infiltrasi air hujan di kedua sungai telah melampau ambang batas normal.

Penambangan di kawasan karst Gunungkidul selain merubah perilaku sungai bawah tanah, juga menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan empat instalasi pemanfaatan sungai bawah tanah untuk pemenuhan air baku masyarakat yang telah dibangun pemerintah. Instalasi pengelolaan air tersebut berada di Goa Seropan, Goa Bribin I dan Bribin II serta instalasi yang di bangun di muara sistem Bribin di Pantai Baron. Salah satu instalasi tersebut merupakan hasil proyek prestisius kerjasama Pemerintah RI dengan Pemerintah Jerman, yaitu Hidropower Plant di Bribin II. Instalasi ini merupakan pilot project di dunia yang diharapkan mampu menjawab problem krisis air di Gunungkidul dengan operasional cost nol rupiah.

Upaya Perlindungan Kawasan Karst

Untuk melindungi kawasan karst dari aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab, pemerintah sebenarnya telah membangun regulasi yang mengatur tentang perlindungan kawasan karst, baik secara pengelolaan maupun kebijaksanaan yang terkait penataan ruang.

Salah satu di antaranya adalah KEPMEN ESDM No. 1456 tahun 2000 tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan Karst. Dalam peraturan tersebut kawasan karst dibagi menjadi tiga :

Kawasan Karst Kelas I, merupakan kawasan lindung yang di dalamnya tidak boleh ada kegiatan penambangan. Boleh dilakukan kegiatan lain asal tidak mengganggu proses karstifikasi dan tidak merusak fungsi kawasan karst.

Kawasan Karst Kelas II, merupakan kawasan karst yang di dalamnya boleh dilakukan aktivitas penambangan dengan disertai studi AMDAL, UKL dan UPL

Kawasan Karst Kelas III, merupakan kawasan karst yang di dalamnya boleh dilakukan kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan perundangan.

Faktanya, peraturan ini masih menyisakan banyak celah bagi pihak-pihak yang “nakal” untuk tetap bisa mengeksploitasi kawasan karst meskipun masuk kawasan karst kelas I. Dalam beberapa kasus yang pernah terjadi, untuk mengakomodasi kepentingan investor, semua kawasan karst digiring menjadi kawasan karst kelas II dan III, tentu saja melalui serangkaian tindakan manipulasi terhadap proses AMDAL.

Kekurangan berikutnya dari peraturan ini adalah belum adanya standarisasi metode investigasi dan klasifikasi kawasan karst. Sehingga banyak pihak yang sebenarnya tidak memahami tentang karst berani membuat klasifikasi berdasarkaan metode yang tidak tepat. Akibatnya, kawasan karst yang seharusnya masuk kriteria kelas I turun menjadi kelas II atau III.

Peraturan terbaru yang memuat tentang perlindungan kawasan karst adalah PP No. 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. Peraturan ini cukup ketat dan membawa angin segar bagi kelestarian kawasan karst. Pasalnya, dalam Peraturan Pemerintah ini, tidak lagi dikenal Kawasan Karst Kelas I, Kelas II atau Kelas III. Dalam peraturan ini, semua bentang alam karst dan goa termasuk dalam Cagar Alam Geologi (Pasal 60 ayat 2 poin C dan F).

Cagar Alam Geologi dalam peraturan tersebut dimasukkan dalam Kawasan Lindung Geologi (Pasal 52 ayat 5), Kawasan Lindung Geologi sebagai bagian dari Kawasan Lindung Nasional (Pasal 51). Secara hierarki, kedudukan kawasan karst dalam PP No. 26 tahun 2008 sangat jelas, yaitu merupakan bagian dari Kawasan Lindung Nasional.

Dalam upaya perlindungan kawasan karst di wilayahnya, Pemerintahan Kabupaten Gunungkidul sebenarnya telah berada pada jalan yang benar, yaitu dengan memberlakukan larangan terhadap aktivitas penambangan batugamping. Dalam rancangan RTRW Kabupaten Gunungkidul, lokasi penambangan yang sekarang ada bahkan sudah dicantumkan sebagai Kawasan Lindung.

Tugas berat yang masih menunggu untuk penyelamatan Kawasan Karst Gunungsewu adalah membangun kesadaran kritis masyarakat setempat mengenai arti pentingnya menjaga kelestarian kawasan karst dengan menghentikan segala bentuk penambangan rakyat yang masih berlangsung hingga kini.

Selain itu, perlu juga dilakukan penyadaran terhadap masyarakat yang masih gemar berburu kelelawar dan menambang guano secara berlebihan. Karena semua tindakan-tindakan tersebut sangat merugikan bagi kelangsungan fungsi kawasan karst dan bertentangan dengan regulasi yang ada.

Daftar Bacaan :

Ford, D and William, P, 2007, “Karst Hidrogeology And Geomorphology”, John Wiley & Sons Ltd. The Atrium, Southtern Gate, Chicester West Sussex, England.

Samodra, H, 2005, “Monografi Karst Gunungsewu”, Pusat Penelitian Dan Pengembangan Geologi, Badan Geologi – Departemen Energi Dan Sumberdaya Mineral.

Kusumayudha, S “Hidrogeologi Karst & Geometri Fraktal di Daerah Gunungsewu”, Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral UPN Veteran Yogyakarta.

Laksmana, E, 2005, “Stasiun Nol Teknik-Teknik Pemetaan Dan Survey Hidrologi Gua”. Megalith Books, Yogyakarta

Klimchouk, A, 2003, “Speleogenesis And Evolution Of Karst Aquifer”, Institute of Geological Sciences, National Academy of Science of Ukraine

Krothe, N, 2003, ”Groundwater Flow And Contaminant Trasnport Through The Epikarst In Two Karst Drainage System”, Faculty Of Geological Sciences Indiana University, 1001 E.10th St. Bloomington USA

Wijanarko, Dkk, 1999, “Laporan Pemetaan Dan Fotografi Goa Plawan”,Acintyacunyata Speleological Club Yogyakarta, Tidak Dipublikasikan

Dreybodt, W, 1988, ”Processes In Karst System – Physic, Chemistry And Geology”, Springer Verlag Berlin

M. MacDonald & Partners, 1984. “Greater Yogyakarta – Groundwater Resources Study”. British of Cave Research Association, England.

Bogli, A ?1980. “Karst Hidrology and Physical Speleology”. Geographisches Institut der Universitat, CH-8033 Zurich.

Ellis, BM, 1976. “Surveying Cave”. The British of Cave Research Assotiation.

Ford T.D. and Cullingford C.H.D, 1976. “The Science of Speleology”. Departement of Geology-University of Leicester England.

Herak, M & Stringfield, V.T, 1972, “Karst – Important Karst Region Of The Northenrn Hemisphere”, Elsevier Publishing Company, Amsterdam

Monkhouse, F.J, 1970, “A Dictionary Of Geography – Second Edition”, University Of Southhampton.

Bemmelen, R.W, 1949 “The Geologi of Indonesia”. Vol. IA, General Geology, Martinus Nijhof, The Haqua, Netherland.

Bothe, 1929, “The Geology Hill Near Djiwo and Southern Ranges”, Excursion Guide, 4th Pacific SCIANCE Congress, Java, Bandung.

Moore G.W. and Sullivan G.N. F.S.C.,1928. “Speleologi – The Study of Cave”. National Speleological Society. New Mexico.

Nugroho, A 2008, “Ancaman Kars Aquifer”, Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta.

Haryono, E, 2001, Nilai Hidrologis Bukit Kars, Makalah Pada Seminar Nasional Eko – Hidrolik, 28 – 29 Maret 2001, Jurusan Teknik Sipil, UGM

Ducummon, LS, 2011, Ecological And Economic Importance of Bats, Bat Conservation International, Inc, Austin, Texas

Nugroho, A dkk, 2008, Kritik Terhadap Dokumen AMDAL PPLH UNDIP Atas Rencana Pendirian Pabrik Semen PT. Semen Gresik

Wiyantoro & Rahmadi, 2007, Menyelamatkan Menara Air Karst Grobogan – Pendekatan Kekayaan Fauna Gua, Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI Cibinong

Falah, AB, 2008, “Kekayaan Alam Bawah Tanah Karst Sukolilo”, Acintyacunyata Speleological Club Yogyakarta.

Falah, AB, 2011, “Menjaga Fungsi Ekosistem Karst,” Bulletin Konservasi BKSDA, DIY.

Sumber: speleoside.wordpress.com

Depan | RSS 2.0 | Kategori: Kliping Media | Trackback | 0 Comments

Leave a Reply