Karst: Keunikan yang Tak Ternilai

6 - Sep - 2012 | sobirno

Gunung gamping. Dua kata yang menyergap pikiran saat mendengar karst. Gunung gamping adalah karst. Padahal, gunung gamping hanya salah satu penampilan karst yang kasatmata. Untuk melihat “wajah” karst, kita perlu melongok lebih dalam.
Karst bukan sekedar gunung gamping, melainkan ekosistem khusus yang unik. Di permukaan, suatu ekosistem karst bisa jadi berupa hutan. Karst di Pangkep, Maros, Sulawesi Selatan, misalnya, merupakan satu-satunya karst di dunia yang berbentuk menara-menara hijau karena permukaannya berupa hutan.
“Ekosistem karst itu spesifik. Ditandai dengan kandungan kapur yang tinggi dan hampir tidak air di permukaan,” kata Majelis Pertimbangan Riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang juga peneliti biota karst, Yayuk Rahayuningsih, Rabu (29/8), di Bogor. Bentuk lain karst bisa berupa gundukan atau blok besar bukit seperti karst di Gunung Kidul, DI Yogyakarta.
Karst terbentuk ketika terjadi pelarutan batuan yang dibawa aliran air masuk ke bawah tanah melalui retakan di permukaan tanah. Adapun air bawah permukaan yang terdapat di kawasan karst bukan satu-satunya.
“Ada karst yang airnya muncul di permukaan atau muncul di laut. Jadi, di tengah air asin tiba-tiba ada air tawar,” ujar Wahyu Suprihantono, peneliti karst yang ahli klimatologi dari LIPI Bandung, Minggu. Air mengikuti lorong karstdi bawah tanah yang ujungnya berada di tengah laut. “Lorong itu berfungsi seperti pipa U. Jadi, air dari lorong yang berasal dari daratan keluar di lautan,” kata Wahyu menjelaskan. Contohnya, karst Gunung Sewu.
Menurut Wahyu, belum ada satu bahasa untuk medeskripsikan karst. Namun ada beberapa karakteristik yang menandai karst, di antaranya ada larutan mineral dari batuan, retakan di permukaan, lorong-lorong, dan sinkhole (lubang di bawah permukaan).
Perbedaan ekosistem karst, menurut dia, bisa dilihat dari berbagai faktor, antara lain kandungan mineral batuan, model retakan, intensitas curah hujan, kandungan kimiawi larutan (air), tingkat kegempaan, serta keragaman fauna dan flora.
Di lingkungan goa ada bagian yang kering, ada yang lembah, ada sungai, bahkan kadang ditemukan danau di dalam goa. “Sistem karst bisa menjadi sumber air untuk kehidupan di atasnya,” kata Wahyu. Goa keriing disebut goa fosil.

Keunikan biota
Karst membentuk ekosistem sendiri dengan karakteristik cahaya lemah hingga gelap gulita, kelembaban tinggi, dan kandungan mineral- misalnya kalsium – tinggi. Lingkungan karst dibagi dua, ekosistem di luar goa (eksokarst) atau di permukaan (di luar goa) dan di dalam goa.
Semua jenis flora dan fauna yang hidup di karst berevolusi dalam rangka beradaptasi terhadap lingkungan. Biota di goa karst di antaranya kelelawar, ikan, serangga, laba-laba, ekorpegas, kalajengking.
Fauna dalam goa ada yang disebut troglobion, yaitu yang hidup dalam lingkungan gelap abadi, dan troglofil, hewan yang tidak sepanjang waktu berada di kegelapan goa. Troglofil hidup di goa, tetapi masih memiliki aktivitas di luar goa, seperti mencari makanan.
Troglobion, kata Yayuk, berevolusi karena beradaptasi dengan lingkungan. Adaptasi, antara lain, berupa hilangnya mata karena berada di kegelapan abadi, sungut semakin panjang (misal jangkrik) sebagai sensor di kegelapan, dan terjadi hipopigmentasi (warna kulit hilang atau memucat).
Hewan yang masuk-keluar goa memiliki fungsi dalam ekosistem. Kelelawar, misalnya, merupakan penyebar biji melalui kotoran. Demikian juga fungsi burung rangkong dan walet. Sementara hewan-hewan kecil (serangga hingga binatang berbuku-buku/artropoda, seperti kaki seribu dan jangkrik serta kecoak) merupakan perombak kotoran walet atau kelelawar.
Bisa dibayangkan bencana yang bakal terjadi ketika ekosistem karst dihancurkan. Tanaman dan pertanian sekitar akan kehilangan penyemai benih sehingga perkembangan tanaman terganggu. Adapun zat organik tidak terurai. Selain itu, terjadi kepunahan fauna dan flora serta organisme yang sebagian besar endemik di suatu sistem karst. Yang pasti, sumber air abadi akan lenyap dan bencana kekeringan akan melanda masyarakat di sekitar karst.

Terbentuk jutaan tahun
Tak hanya di bidang biologi, goa karst juga menyimpan berbagai keunikan lain. Salah satunya peninggalan budaya lama (arkeologi), karena tiap goa memiliki usia sendiri.
Goa karst ada yang terbentuk pada masa geologi Tersier di era Kenozoikum, sekitar 65 juta tahun lalu. Bahkan ada yang terbentuk pada era Mesozoikum, sekitar 250 juta tahun lalu, demikian wahyu memaparkan.
Di rongga-rongga karst yang melapuk dalam rentang waktu jutaan tahun bisa terjadi goa yang memiliki minyak dan gas. Hal itu karena goa karst kaya akan kandungan hidrokarbon.
Karst di Wonosari, DI Yogyakarta, termasuk karst muda, terbentuk sekitar 30 juta tahun (Tersier pertengahan). Adapun karst di Kalimantan merupakan karst tua era Mesozoikum (lebih dari 65 juta tahun lalu).
Dengan usia pemebentukan yang lama, selain jejak antropologi dan arkeologi, karst juga menyimpan rekaman sejarah iklim hingga ke iklim purba (paleoclimate).
Oleh karena itu, penghancuran ekosistem karst sama dengan menghancurkan sejarah manusia dan sejarah bumi. Perlu pemikiran ulang sebelum muncul penyesalan karena bencana bakal menyapa.
Apalagi alternatif pemanfaatan secara ekonomi terbuka luas, antara lain aktivitas ekowisata, yang lebih dekat dengan aktivitas pelestarian- meski perlu syarat ketat dalam pelaksanaannya.
Bisakah pemegang kebijakan tidak mengejar keuntungan sesaat?

Sumber: Kompas 5 September 2012 hlm. 14
Foto: http://www.nationalatlas.gov/articles/geology/a_karst.html

Depan | RSS 2.0 | Kategori: Kliping Media,Uncategorized | Tags: , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply