Bersuara Melalui Media “Online”

6 - Sep - 2012 | sobirno

Sebuah rumah joglo berdinding bambu berdiri kokoh dikelilingi pohon-pohon jati di Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.Empat tiang utamanya menopang bagian tengah rumah yang berada di lereng Pegunungan Kendeng Utara.

Keempat tiang utama itu menyimbolkan satu kesatuan empat tekad masyarakat menolak rencana pembangunan pabrik semen. Empat tekad itu: perdamaian, perlawanan, kemandirian, dan peduli lingkungan.
Rumah pengayom itulah yang disebut sebagai Omah Kendeng. Rumah yang didirikan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) medio 2010 itu menjadi ruang belajar masyarakat mempertahankan dan menjaga kelestarian lingkungan.

Agar rumah itu dapat leluasa bersuara dan diakses masyarakat luas, pada awal 2011 JMPPK “mendandani” menjadi rumah yang bergerak pula di jaringan maya. Omah Kendeng jadi situs yang memuat aneka ragam berita, informasi dan peraturan terkait penambangan di kawasan karst, terutama batu kapur.

“Kami menggarap Omah Kendeng bersama dengan Desantara Foundation. Fungsi utamanya adalah memberikan informasi kepada publik tentang upaya masyarakat melestarikan Pegunungan Kendeng Utara,” kata Mokh Sobirin (30), pengelola situs Omah Kendeng.

Situs Omah Kendeng merupakan salah satu langkah masyarakat Pegunungan Kendeng Utara merangkul dukungan publik yang lebih luas. Apalagi saat ini, kawasan itu menjadi incaran tiga investor besar.
PT Semen Gresik mengincar kawasan Sukolilo, Pati. PT Sahabat Mulia Sakti di kawasan Kayen dan Tambakromo juga di Pati. PT Vanda Prima Listri incar kawasan Tawangharjo dan Wirosari, Kabupaten Grobogan. Padahal kawasan-kawasan itu merupakan daerah resapan air dan mata air yang dimanfaatkan warga untuk minum dan pengairan ribuan hektar sawah.

Untuk mengukuhkan keberadaan mata air itu, JMPPK membuat Peta Tata Guna Lahan Kawasan Karst Sukolilo dan Peta Wilayah Jelajah Kelelawar Kawasan Karst Sukolilo. Pembuatan peta itu dilakukan bersama Acintyacunyata Speleological Club (ASC), Semarang Caving Association, Aliansi Pemuda Peduli Lingkungan, dan Gerakan Masyarakat Karangawen.

Berdasarkan peta lokasi karst di Kecamatan Kayen dan Tambakromo itu, mayoritas kawasan karst itu adalah hutan produktif. Di kawasan hutan itu terdapat lebih kurang 50 mata air.

“Jika jadi kawasan tambang, warga khawatir lingkungan rusak. Banjir dan longsor akan terjadi dan sumber air mati. Kami siap berjuang mempertahankan wilayah kami dari gangguan investor semen demi generasi sekarang dan mendatang,” kata Rustam (40), warga Desa Keben, Kecamatan Tambakromo.

Jejaring Sosial
Untuk mendapatkan tanggapan dan dukungan publik, perjuangan warga itu didokumentasikan, diwadahi, dan disuarakan kembali melalui situs Omah Kendeng. Pengunjung situs rata-rata 1.500 orang per bulan didukung Facebook dan Twitter. Dua jejaring sosial itu cukup banyak menuai tanggapan dan dukungan dari banyak pengguna.
Adapun untuk menarik perhatian anak-anak dan remaja, dilengkapi situs Omah Kendeng dengan komik Petualangan Apong dan Kopong. Komik itu mengisahkan dua sahabat muda bernama Apong dan Kopong yang berupaya menyelamatkan Pegunungan Kendeng Utara bersama masyarakat sekitar.

Kedua pemuda simbol pergerakan warga melestarika pegunungan karst dengan berbagai cara. Misalnya menanam pohon, merawat mata air, berunjuk rasa, memetakan potensi Pegunungan Kendeng Utara, dan mengajak anak-anak mencintai alam dengan berbagai kegiatan.

“Komik itu berisi informasi dan edukasi menyangkut lingkungan hidup kepada warga dengan bahasa yang sederhana. Kami juga memproduksinya dalam edisi cetak secara terbatas,” kata Anton, komikus Petualangan Apong dan Kopong.
Tokoh Sedulur Sikep sekaligus tokoh lingkungan hidup Pegunungan Kendeng Utara Gunretno mengemukakan, pergerakan menolak rencana pembangunan pabrik semen harus diperkuat dengan membangun paseduluran (persaudaraan). Pembuatan situs Omah Kendeng oleh kaum muda JMPPK itu merupakan upaya membangun persaudaraan dengan siapapun.

“Membangun persaudaraan penting sebagai kekuatan memperjuangkan kelestarian Pegunungan Kendeng Utara. Pegunungan itu merupakan rumah yang mengayomi dan menghidupi kami selama ini. Rumah itu akan kami wariskan ke anak cucu dalam kondisi baik,” kata Gunretno. (HENDRIYO WIDI)

Sumber: Kompas 5 September 2012 hlm. 22
Foto ilustrasi: Ragil Kuswanto.

Depan | RSS 2.0 | Kategori: Kliping Media | Trackback | 1 Comment

One Response to “Bersuara Melalui Media “Online””

  1. Nurul Fajryah Putri says:

    .hebat …,
    inilah yang membuat saya bangga jadi warga sukolilo .

    ^_^

Leave a Reply