Hutan Pegunungan Kendeng Kritis

11 - Sep - 2012 | sobirno

KUDUS – Kondisi hutan di Pegunungan Kendeng yang masuk wilayah Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kudus saat musim kemarau kritis.

Kekritisan lahan terlihat dari keadaan tanaman di kawasan tersebut yang mengering dan meranggas. Jika hujan tidak segera turun, menurut perkiraan, keadaan vegetasi di wilayah tersebut semakin parah.

Berdasarkan pantauan Suara Merdeka yang menyusuri tepi hutan Perbukitan Blalak yang masih satu rangkaian dengan Pegunungan Kendeng, selayang pandang hanya terlihat lahan tandus. Sejumlah pohon mindi yang masih bertahan tidak dapat menutupi kesan gersang. Dari kejauhan, bayangan kering dan gersang tersebut sudah jelas terlihat.

Kepala Desa Wonosoco Sudarmin kepada Suara Merdeka mengemukakan, situasi seperti itu sudah terlihat pada Juni – Juli lalu. Biasanya, kondisi hutan akan segera pulih saat hujan turun.

”Kalau berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, hujan turun pada November. Tetapi itu hanya perkiraan karena cuaca sangat sulit ditebak akhir-akhir ini,” paparnya.

Kegersangan hutan di Pegunungan Kendeng masuk wilayah desanya, tidak dapat dihindari. Hal tersebut semata-mata lantaran kemarau yang berkepanjangan. Namun, pihaknya juga menyadari, sisa pembalakan pasca-Reformasi 1998-1999 belum sepenuhnya dapat direboisasi.

”Masih ada sisa kerusakan hutan yang terjadi saat itu dapat dijumpai sekarang ini,” tuturnya. Mengenai upaya warga dan juga Perhutani, sebenarnya sudah sudah ada. Salah satunya, dengan menanam di kawasan pegunungan yang gundul. Tetapi jika kemarau panjang seperti sekarang ini, tentu hal tersebut tidak dapat dilakukan secara maksimal.

Bencana

Disinggung soal risiko bencana yang dikhawatirkan dengan kondisi hutan seperti sekarang ini, dia menyebut tanah longsor dan banjir gunung. Jika tidak cukup vegetasi yang menahan tanah ataupun air permukaan, bencana itu akan benar-benar terjadi.

Risiko musibah lainnya yang juga perlu mendapat antisipasi adalah kebakaran hutan. Berdasarkan catatan pihak desa, hingga kemarin belum ada musibah tersebut setidaknya di dekat Wonosoco. ”Itu yang selalu kami khawatirkan selama ini,” ujarnya.

Jika dikaitkan dengan sumber air, hingga kemarin dikabarkan masih minim. Pengertiannya, sebagian besar sumber air di kawasan tersebut hanya berkurang sedikit.

”Warga masih belum kesulitan mendapatkan air bersih, meskipun debit sendang juga mulai berkurang,” imbuhnya. (H8-57)

Sumber: Suara Merdeka 10 September 2012

Depan | RSS 2.0 | Kategori: Kliping Media | Tags: , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply