Jangan Lupakan Sosial dan Lingkungan

15 - Sep - 2012 | sobirno

Jakarta, Kompas – Praktik pembangunan di Indonesia masih diliputi ketimpangan kesejahteraan antardaerah, eksploitasi sumber daya alam, dan ketidakmerataan dari keuntungan pemanfaatan hasil alam. Itu semua terjadi karena pembangunan di Indonesia selama ini masih mengutamakan aspek ekonomi.

Demikian diungkapkan Emil Salim, tokoh lingkungan Indonesia, saat menerima anugerah The Leader for the Living Planet Award dari WWF di Jakarta, Jumat (14/9). Ia kembali menegaskan, aspek sosial dan lingkungan harus dijadikan pertimbangan dalam pembangunan.

”Pembangunan harus didasarkan pada kesamaan hak dalam pemanfaatan penggunaan sumber daya alam demi keuntungan sekarang dan generasi masa depan,” kata Emil. Penghargaan diberikan Direktur Jenderal WWF James P Leape bertepatan dengan 50 tahun kinerja WWF di Indonesia.

Menurut Emil, pembangunan yang tidak merata membuat ketimpangan nyata antara wilayah Indonesia di bagian timur dan barat. Hingga kini, ketimpangan itu masih terjadi.

Contohnya, 52 rencana investasi 2011-2014 berada di Indonesia bagian barat. Data lain, peta telapak ekologi 2010, terjadi kehancuran alam di Jawa dan Riau. Saat hujan terjadi banjir, sedangkan saat kemarau terjadi kekeringan.

”Tujuan kita bukan peningkatan GDP (produk domestik bruto) saja. Pembangunan adalah bagaimana memberi nilai tambah pada sumber daya alam. Pembangunan tidak hanya perut, tapi juga rohani, otak, kesehatan,” papar Emil yang juga salah seorang pendiri WWF di Indonesia dan Menteri Lingkungan Hidup 1983-1993.

Kearifan lokal
Emil juga meminta agar setiap pembangunan mengedepankan kearifan lokal. Pembangunan rumah di Wamena yang menggunakan semen, contohnya. ”Di Wamena tidak ada semen, mahal kalau didatangkan dari Jawa. Lihat, rumah-rumah masyarakat asli pakai kayu karena banyak. Marilah hidup serasi dengan alam,” ungkapnya.

CEO WWF Indonesia Efransjah mengatakan, orasi Emil Salim ini menjadi kritik keras bagi WWF untuk berintrospeksi diri. ”Bagaimana agar kami yang sudah 50 tahun di Indonesia tetap berbuat sesuatu yang relevan pada masa mendatang,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia yang sehari sebelumnya bersama James dan Ketua Dewan Pembina WWF Indonesia Kemal Stamboel ditemui Presiden di Istana Negara menyatakan mendukung penerapan konsep ekonomi hijau dan berkelanjutan. (ICH)

Sumber berita: Kompas 15 September 2012 hlm 13.
Foto: goodreads.com

Depan | RSS 2.0 | Kategori: berita,Kliping Media | Trackback | 0 Comments

Leave a Reply