Makanan Instan yang Makin Menggoda

28 - Sep - 2012 | sobirno

Siapa tak suka menyantap mi instan yang aromanya begitu menggoda? Ehm, apalagi kalau kita pas lapar banget dan waktu makan yang tersedia terbatas, yang terbayang mi instan, bakso, atau hamburger. Pokoknya penganan cepat saji yang relatif enggak butuh waktu lama untuk penyediaan ataupun mengonsumsinya.

Jadi, enggak heran, kan, kalau di mana pun kita berada, di kota besar, kota kecil, sampai di kampung sekalipun, dengan mudah bisa dijumpai pedagang makanan instan, setidaknya mi instan. Kalau kita amati, jualan makanan instan ini pun laris, terutama yang lokasinya di sekitar sekolah.

Waktu istirahat yang terbatas sering membuat kita dengan cepat mengambil keputusan makan mi bakso, siomai, hotdog, atau chicken nugget, dan kentang goreng. Ehm, tambah sambal yang pedas, lezatnya langsung terbayang!

Namun, apa iya sih tubuh kita bakal terus sehat kalau terbiasa mengonsumsi makanan instan seperti itu? Sebagian teman mengeluh, orangtua mereka justru membatasi makanan instan tersebut.

Orangtua malah minta anaknya yang sudah SMA membawa bekal makanan dari rumah. Kebayang, kan, seperti anak SD, kita bawa bekal nasi, sayur, dan lauk ke sekolah.

”Sebenarnya boleh saja kita makan mi instan, burger, siomai, atau nugget. Tetapi, ya, jangan hanya mengonsumsi makanan itu sebab tubuh kita juga perlu lauk dari ikan, telur, sayur, tempe dan buah,” ujar S Multi Karina, ahli gizi yang juga pengajar pada Politeknik Kesehatan Jakarta II.

Antisayur

Setiap hari, tubuh kita memerlukan karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral sehingga apa pun yang kita makan harus memenuhi unsur-unsur tersebut. Itu kalau kita mau fungsi tubuh berjalan baik karena ditopang kecukupan gizi.

Masalahnya, tren gaya hidup anak muda justru kurang memperhatikan kelengkapan kandungan zat yang dibutuhkan tubuh.

”Anak remaja biasanya lebih suka mengonsumsi mi instan dengan telur dan sedikit sayur daripada makan nasi lengkap dengan lauk dan sayur,” kata Rina, panggilannya.

Kebiasaan mengonsumsi makanan serba instan atau cepat saji (fast food) seolah pas dengan tren antisayur pada sebagian remaja.

”Dari kecil aku enggak suka sayur. Jadi, setiap makan lebih sering lauk yang kering. Sayur yang aku doyan juga cuma bayam, tetapi ini pun jangan banyak-banyak, ya,” kata Yuniarti, siswa kelas XII SMAN 7 Malang, Jawa Timur.

Tak hanya itu, dia juga mengaku hanya sesekali makan buah atau minum jus buah. Jadilah pola makan cewek yang mengaku takut gemuk ini sehari-harinya lebih banyak mengandung karbohidrat tanpa diimbangi sayur dan buah yang cukup.

Walau tak setiap hari menyantap mi instan, dia kerap tak tahan menghadapi aroma mi di depannya. ”Aduh enak banget. Aku dan teman-teman kalau lagi pergi bareng suka beli mi instan yang rasanya beda-beda, terus kami coba-cobaan,” ceritanya.

Maria Rezitadina, siswa kelas XI SMAN 78 Jakarta, memilih membawa bekal makanan dari rumah. ”Memang membawa sayur dari rumah agak repot. Pilihan lain aku makan banyak sayur waktu di rumah,” kata Maria yang mengaku jarang mengonsumsi mi instan.

Memang tak mudah melepaskan diri dari godaan makanan instan yang relatif lezat itu. Namun, kita harus ingat, ketidak-seimbangan pasokan makanan dalam tubuh kita akan memengaruhi pertumbuhan badan.

Misalnya, kita suka mi instan dan telur, berarti tubuh hanya punya zat tenaga dan sedikit protein. Tubuh kita tak memiliki cukup serat untuk memudahkan buang air besar.

Sepertinya hal itu sepele, tetapi bila kondisi itu berlangsung terus-menerus dan dalam waktu lama, bermacam penyakit akan mengintai tubuh kita. ”Penyakit yang paling dekat adalah obesitas (kegemukan),” kata Rina.

Jadi, makanan instan boleh, tetapi jangan berlebihan dan imbangi pula dengan mengonsumsi bahan dari kacang-kacangan, seperti tahu dan tempe, serta sayur dan buah.

(SOELASTRI SOEKIRNO)

Sumber berita: Kompas, Jumat 28 September 2012 hlm. 43.
Foto: thatsit.com

Depan | RSS 2.0 | Kategori: berita,Kliping Media | Trackback | 0 Comments

Leave a Reply