KEMANDIRIAN: Rumah Pangan Lestari

30 - Sep - 2012 | sobirno

Ada yang menggembirakan dari pengembangan pangan nasional. Di tengah sejumlah kesulitan pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional, baru-baru ini Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) berkeinginan mengadopsi model pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari ala Indonesia.

FAO melihat konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) cocok diterapkan di negara-negara lain di dunia dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim global terhadap ketersediaan pangan rakyat di negara lain dan dunia.

Bagi kita sebagai orang Indonesia, tentu ini membahagiakan. Karya kita bisa memberikan kontribusi bagi permasalahan pangan rakyat dunia.

Konsep KRPL sejatinya bukan barang baru. Pada era Orde Baru, kita mengenal istilah apotek hidup, sebuah gerakan menanam tanaman obat-obatan di pekarangan rumah. Saat itu, tidak semua masyarakat bisa dengan mudah mengakses puskesmas ketika sakit.

Apabila pada era Presiden Soeharto jenis tanaman di pekarangan rumah yang ditanam merupakan tanaman obat-obatan, di KRPL yang dikembangkan adalah komoditas pangan seperti tanaman sayuran, buah-buahan, ternak, dan budidaya.

Tujuannya adalah membuat konsumsi pangan masyarakat lebih beragam sehingga asupan gizi lebih berimbang dan menekan pengeluaran untuk kebutuhan makan harian antara Rp 200.000 sampai Rp 800.000 per bulan. KRPL tidak hanya untuk warga pemilik pekarangan di desa, tetapi juga di kota dengan pola tanam vertikal.

Potensi lahan pekarangan di Indonesia luas, mencapai 10 juta hektar. Kalau KRPL bisa dikembangkan optimal, konsumsi beras nasional akan dengan sendirinya berkurang. Menteri Pertanian Suswono mengklaim pengurangan konsumsi beras per tahun bisa mencapai 30 persen atau lebih dari 10 juta ton.

Kita menyambut baik gagasan mengembangkan KRPL. Dengan model ini, ada harapan ketahanan dan kemandirian pangan nasional dapat tercipta mulai tingkat rumah tangga.

Namun, jika melihat sejarahnya, KRPL pada awalnya bukan merupakan program prioritas. Saat digagas, KRPL sekadar menjadi bagian dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan melalui pengurangan konsumsi beras.

Program utama pemerintah, terutama Kementerian Pertanian (Kementan), adalah meningkatkan produksi lima komoditas pangan strategis, yakni beras, jagung, kedelai, gula, dan daging sapi. Belakangan Kementan kesulitan mewujudkannya karena tersandera perluasan lahan melalui pencetakan lahan baru yang tak kunjung bisa dilakukan.

Konversi lahan pertanian juga tak terbendung sampai sekarang. Di sisi lain, peningkatan produktivitas melalui sejumlah program, seperti subsidi benih dan pendampingan, juga hanya terdongkrak sedikit.

KRPL merupakan terobosan dalam mewujudkan ketahanan pangan. Bagaimanapun, tanggung jawab penyediaan pangan tetap ada di pundak negara. Jangan sampai, dengan keberhasilan KRPL, kita lupa menjaga lahan pertanian kita.

Hal ini karena produksi pangan sampai kapan pun tetap membutuhkan lahan. Euforia KRPL jangan sampai membuat pemerintah abai dan lepas tangan dalam menjaga lahan baku pertanian yang terus dikonversi.

Jangan sampai kita ”terperangkap” dalam program-program jangka pendek, tetapi mengabaikan sumber daya lahan yang menjadi modal bagi ketahanan dan kemandirian pangan nasional pada masa mendatang.

(HERMAS E PRABOWO)

Sumber berita: Kompas, 29 September 2012.
Foto: in.gov

Depan | RSS 2.0 | Kategori: berita,Kliping Media | Tags: , , Trackback | 1 Comment

One Response to “KEMANDIRIAN: Rumah Pangan Lestari”

  1. novi salimah says:

    Sukses untuk program KRPL kementan RI. Saya mendukung dan akan ikut menggerakkan program tsb ?? lingkungan rumah. Dengan KRPL kebutuhan pangan keluarga dapat dipenuhi. Dengan pengaturan siklus tanam yang baik diharapkan hasil pekarangan dapat menghemat pengeluaran keluarga bahkan dapat menjadi tambahan penghasilan keluarga. Lebih sekedar tambahan penghasilan keluarga, jika hasil pekarangan ini dikelola secara kolektif dalam sistem kelembagaan yang baik, diyakini dapat membuka lapangan pekerjaan baru. Sukses KRPL…

Leave a Reply