Paceklik di Kabupaten Semarang: Bibit, Lihatlah Fakta Ini !

30 - Sep - 2012 | sobirno

SETIDAKNYA lima dari 15 balita di Dusun Banyutarung, Bancak, Kabupaten Semarang menderita gizi buruk.

Fakta ini ada sejak adanya perubahan pola makan warganya dari nasi ke ubi kayu atau singkong, menyusul sejak empat bulan ini lahan padinya mengalami puso alias tidak bisa dipanen karena kekeringan.

“Agar warga tidak lapar, maka harus digajul (didukung, Red) dengan makan ubi. Yakni makan ubi pagi, lalu maka siang dan malam ladang-kadang nasi,” aku Ratno (45) kepala dusun.

Tarsini (27), salah satu warga Banyutarung juga mengakui keluarganya mengonsumsi singkong, semata-mata dilakukan untuk lebih mengirit beras, agar bisa mencukupi sampai musim penghujan tiba. Sehingga, kebiasaan ini pun dilakukan oleh anak-anak mereka yang masih balita.

Maka saat ini singkong menjadi makanan favorit warga dusun itu, terlebih saat jatah raskin dari Pemkab Semarang sudah habis. Selama ini warga setiap bulan menerima jatah 15 kg tiap kepala keluarga selama satu bulan.

Di dusun ini ada 64 KK dengan penduduk 360 jiwa, 54 diantaranya adalah balita. Bahkan sebagian balita, karena keadaan akhirnya juga terbiasa makan ubi sejak terjadi puso di wilayahnya sehingga tidak ada produksi beras.

“Memang sejak sejak bulan Mei 2012 yakni pada panen kedua, lebih banyak pentani yang gagal panen,” kata Amin Sunaryo Kades Bancak ditemui terpisah.

Butuh penyuluh

Di samping bantuan riil berupa beras dan sembako, saat ini yang dibutuhkan warga Banyutarung, adalah penyuluhan pertanian.

Penyuluhan pertanian ini, menurut Ratno, Kepala Dusun Banyutarung adalah para peneliti dari Dinas Pertanian yang bisa mengarahkan para petani, “Kira-kira untuk sifat tanah wilayah ini yang labil mengandung lempung (tanah liat, Red) itu bisa ditanami apa saja selain padi,” kata Ratno, Senin (24/9)

Para penyuluh pertanian ini penting didatangkan mengingat para petani di wilayah dusun yang berada paling ujung di sebelah selatan Desa Bancak itu tidah tahu harus berbuat apa ketika kemarau panjang.

Kekeringan yang terjadi sejak 4 bulan ini membuat petani tidak panen. “Memang tidak semuanya puso, paling yang bisa dipanen hanya sekitar 15 persen. Ini kekeringan paling parah, karena tahun-tahun lalu tidak seperti ini,” timpal Amin Sunaryo, Kepala Desa Bancak.

Kekeringan parah ini baru terjadi dalam tahun ini, sehingga membuat warga sempat “kaget”. Sungai Manding, satu-satunya sungai besar yang membelah Bancak pun kering kerontang. Hanya menyisakan sedikit genangan air, yang digunakan warga untuk mandi atau mencuci pakaian.

Kalau sudah begini, tidak saja Pemkab Semarang, tapi pemerintah provinsi harus perhatian. Maka Bibit Waluyo, lihatlah fakta ini!
(Bambang Isti/CN25)

Sumber berita: http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/layar/2012/09/26/955/Bibit-Lihatlah-Fakta-Ini-
Foto: internalthreatindia.blogspot.com

Depan | RSS 2.0 | Kategori: berita,Kliping Media | Trackback | 0 Comments

Leave a Reply