PERTANIAN: Petani Diminta Tidak Sedot Air Irigasi

3 - Oct - 2012 | sobirno

GROBOGAN, KOMPAS – Mulai 1 Oktober, air dari Bendung Klambu untuk wilayah Kabupaten Kudus, Demak, Grobogan, Jepara, dan Pati, Jawa Tengah, mulai digelontorkan untuk kebutuhan lahan irigasi. Selama 15 hari ke depan saat air dari bendung dialirkan, petani sawah tadah hujah diimbau tidak menyedot air irigasi.

”Air itu diperuntukkan bagi petani lahan irigasi. Petani sawah tadah hujan untuk sementara dilarang menyedot air agar aliran air merata sampai di sawah bersistem irigasi,” kata penjaga pintu air Bangunan Irigasi Wilalung (BWi) II Sukarno di Karangmas, Kecamatan Klambu, Kabupaten Grobogan, Jateng, Selasa (2/10).

Air dari Bendung Klambu berasal dari Waduk Kedung Ombo yang dibuka dengan debit air 50 meter kubik per detik selama 24 jam. Dari Bendung Klambu, air yang digelontorkan melalui BWi II 5 meter kubik per detik.

”Prioritas air untuk lahan irigasi sudah jadi kesepakatan antara Balai Pengelola Sumber Daya Air Serang Lusi Juwana dengan petani pengguna air sistem irigasi Waduk Kedung Ombo. Kami juga menyosialisasikan kepada petani sawah tadah hujan,” kata dia.

Ketua Federasi Perkumpulan Petani Pemakai Air (FP3A) Sistem Irigasi Kedung Ombo Kaspono menyatakan, penggelontoran air kali ini belum maksimal. Petugas pintu air diminta memantau dan memastikan agar tidak terjadi penyedotan air irigasi saat petani lahan irigasi memakai air.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Kudus Budi Santoso mengemukakan, sawah irigasi teknis di Kudus seluas 6.564 hektar. Adapun sawah tadah hujan seluas 5.623 hektar.

”Saya berharap petani sawah tadah hujan bersabar dan mau mendahulukan petani sawah irigasi teknis. Jangan sampai terjadi konflik antarpetani gara-gara berebut air,” kata Budi.

Tanaman puso

Tanaman padi seluas 139,8 hektar di Kabupaten Temanggung puso akibat kekeringan dan kekurangan air selama Agustus hingga September. Usia tanaman padi tersebut berkisar dua bulan hingga 2,5 bulan.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan, Kabupaten Temanggung, Harnani Imtihandari mengaku gagal panen ikut dipicu petani yang kurang tepat memprediksi cuaca. Data tahun-tahun sebelumnya, akhir Agustus mulai turun hujan, tetapi pada kenyataan musim kemarau justru terjadi berkepanjangan.

Selain kekeringan, petani padi di wilayah Aceh Utara, Pidie, dan Aceh Besar saat ini juga menghadapi persoalan rusaknya jaringan irigasi ke area persawahan. Banyak aliran irigasi yang sudah jebol, sebagian lagi tertutup sedimentasi. Petani khawatir buruknya infrastruktur tersebut akan mengganggu masa tanam Oktober-November ini.

Di Aceh Utara, saluran irigasi sepanjang 18 kilometer dari wilayah Baktiya Barat hingga Lapang kondisinya memprihatinkan. Saluran irigasi sekunder yang menuju ke lahan pertanian banyak yang jebol. Saluran tersebut mengairi sekitar 3.000 hektar lahan pertanian di wilayah Aceh Utara.

”Kerusakannya sudah lama, sudah setahun lebih. Tapi, sampai sekarang belum diperbaiki oleh pemerintah. Padahal, beberapa waktu lalu sudah cek,” kata M Adnan (43), petani di Baktiya Barat, Aceh Utara, Selasa (2/10).

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Aceh Iskandar mengakui banyaknya kerusakan pada saluran irigasi pertanian di sejumlah wilayah di Aceh tersebut.

”Sektor pertanian masih menjadi tumpuan 60 persen perekonomian masyarakat Aceh dan persoalan irigasi saat ini menjadi masalah utama. Karena itu, dalam rencana pembangunan tahun 2013, kami akan mengutamakannya,” kata dia.

(EGI/HEN/HAN)

Sumber berita: Kompas 03 September 2012 hlm 21
Foto: e-education.psu.edu

Depan | RSS 2.0 | Kategori: berita,Kliping Media | Tags: , , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply