KEMARAU PANJANG: 60 Persen Ikan Keramba Mati

5 - Oct - 2012 | sobirno

Palangkaraya, Kompas – Tingkat kematian ikan dalam keramba di Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah, mencapai 60 persen. Kematian yang tinggi itu dipicu hawa panas sehingga debit air jauh berkurang. Pembudidaya terpaksa memanen ikan lebih awal agar tidak mengalami kerugian lebih besar.

Menurut Wahyuni (40), warga Kelurahan Pahandut Seberang, Kecamatan Pahandut, Palangkaraya, Kalteng, dampak kekeringan sangat terasa. ”Kualitas air Sungai Kahayan menurun. Permukaan air sungai lebih rendah. Itu yang memicu kematian ikan. Sudah tiga bulan kondisi itu terjadi sejak intensitas hujan berkurang,” ujarnya, Kamis (4/10).

Ikan-ikan yang dibudidayakan seperti nila, bawal, dan patin. Pencemaran sungai menambah parah mutu air sungai. Di hulu Sungai Kahayan banyak terdapat penambangan emas tradisional. Masyarakat yang bermukim di daerah hulu biasanya juga membuang sampah ke sungai.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Darmawan menjelaskan, saat kemarau panjang, pembudidaya diminta jeli membaca situasi. Saat kondisi seperti ini, yang cocok dibudidayakan adalah ikan lele. Budidaya ikan jenis lainnya dalam keramba harus dibatasi. Misalnya, 2.000 ekor jadi 1.500 atau 1.000 ekor atau dari 1.000 ekor menjadi 750 ekor.

Belakangan, kecepatan arus air berkurang sehingga makanan untuk ikan dalam keramba juga tidak memadai. ”Air surut. Ikan jadi sakit, lalu mati. Produksi ikan budidaya pun berkurang. Selain itu, saya dengar pencarian ikan dengan racun dan setrum di sungai masih terjadi,” katanya.

Amat (35), petani ikan di Kelurahan Pahandut, Kecamatan Pahandut, Palangkaraya, menuturkan, ia menebar bibit ikan di delapan keramba. ”Namun, baru tiga bulan ikan-ikan itu sudah dipanen. Biasanya, panen ikan setelah enam bulan. Soalnya, banyak ikan mati,” ujarnya.

Sementara itu, sebagian petani di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, terpaksa membeli air dari dusun tetangga untuk mengairi tanaman dan lahan pertanian miliknya. Hal ini dilakukan karena debit sumber air yang tersedia di wilayahnya mengecil dan tidak mencukupi kebutuhan air bagi tanaman.

Parmuji, petani Desa Tirto, Kecamatan Salam, mengatakan, sejak awal September lalu, dia membeli air dari warga Dusun Semen, Desa Sucen, Kecamatan Salam. ”Untuk mendapatkan jatah air, kami harus membayar Rp 40.000 per 12 jam kepada warga Dusun Semen,” ujarnya.

Hal serupa juga dilakukan Supardi, petani salak di Dusun Jombong, Desa Sudimoro, Kecamatan Srumbung. Untuk mendapatkan air dari dusun tetangga, dia harus mengeluarkan Rp 50.000 per malam. ”Setiap minggu, kami hanya mendapatkan alokasi air satu kali, hanya satu malam,” ujarnya. Dia harus mengeluarkan tambahan biaya Rp 200.000 per bulan. (BAY/EGI)

Sumber berita: Kompas, 5 Oktober 2012 hlm. 22
Foto: unvertical.com

Depan | RSS 2.0 | Kategori: berita,Kliping Media | Tags: , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply