Tanaman di Halaman Kita: Temulawak

6 - Oct - 2012 | sobirno

Salam Kendeng.
Umur metode pengobatan mungkin sama tuanya dengan umur penyakit yang pernah di derita oleh manusia. Cara manusia mengobati, meredakan atau bahkan menghilangkan penyakitnya berkembang mulai dari cara yang laing sederhana sampai pada cara yang sangat rumit dengan banyak piranti modern maupun kekuatan magis nenek moyang. Dalam artikel yang ditampilkan melalui situs omahkendeng.org ini kami ingin menunjukkan potensi tanaman di sekitar Pegunungan Kendeng Utara yang dapat dijadikan obat tradisional. Pengetahuan tentang pengobatan tradisional ini menjadi penting agar kita memiliki alternative dan tidak tersuruk makin jauh dalam kapitalisasi dunia kesehatan yang menggurita saat ini.
Tanaman berkhasiat kali ini adalah temu lawak atau dalam bahasa Latin disebut Curcuma Xanthorriza. Tanaman yang oleh masyarakat Sunda disebut Koneng gede atau temu labak bagi masyarakat Madura ini dipercaya mampu mengobati penyakit maag dan liver. Tanaman yang tumbuh subur di daerah dengan ketinggian mencapai 1500 m dpl ini mengandung 48-59,64 % zat tepung, 1,6-2,2 % kurkumin dan 1,48-1,63 % minyak asiri dan dipercaya dapat meningkatkan kerja ginjal serta anti inflamasi. Selain itu tanaman ini juga memiliki efek farmakologi yaitu, hepatoprotektor (mencegah penyakit hati), menurunkan kadar kolesterol, anti inflamasi (anti radang), laxative (pencahar), diuretik (peluruh kencing), dan menghilangkan nyeri sendi.

Pemanfaatan
Saat ini banyak dijual temulawak instan di pasaran, tapi sebenarnya kita juga bisa membuatnya sendiri karena caranya tidak rumit. Cara penggunaannya adalah dengan mengambil rimpang temulawak, dibersihkan, lalu diparut atau dipotong kecil kemudian digiling dengan blender. Setelah itu, diseduh dengan air panas, lalu diperas dan disaring. Untuk menambah nikmat minuman berhasiat ini bisa ditambahkan gula aren dan madu.
Pembudidayaan temulawak juga tidak memerlukan lahan yang terlalu luas. Lahan penanaman diolah dengan cangkul sedalam 25-30 sentimeter, kemudian dibuat bedengan berukuran 3-4 meter dengan panjang sesuai dengan ukuran lahan, untuk mempermudah drainase agar rimpang tidak tergenang dan membusuk[5]. Lubang tanam dibuat dengan ukuran 20 sentimeter x 20 sentimeter x 20 sentimeter dengan jarak tanam 100 sentimeter x 75 sentimeter, pada setiap lubang tanam dimasukkan 2-3 kilogram pupuk kandang[1]. Penanaman bibit dapat pula dilakukan pada alur tanam/ rorak sepanjang bedengan, kemudian pupuk kandang ditaburkan di sepanjang alur tanam, kemudian masukkan rimpang bibit sedalam 7.5-10 sentimeter dengan mata tunas menghadap ke atas.
Pemeliharaan tanaman dilakukan dengan penyiangan gulma sebanyak 2-5 kali, tergantung dari pertumbuhan gulma, sedangkan pembumbunan tanah dilakukan bila terdapat banyak rimpang yang tumbuh menyembul dari tanah[1]. Waktu panen yang paling baik untuk temu lawak yaitu pada umur 11-12 bulan karena hasilnya lebih banyak dan kualitas lebih baik daripada temu lawak yang dipanen pada umur 7-8 bulan. Pemanenan dilakukan dengan cara menggali atau membongkar tanah disekitar rimpang dengan menggunakan garpu atau cangkul.
Selamat mencoba di sekitar rumah Anda.
Salam kendeng.

Sumber: kompilasi.
Foto: infoherbal.com

Depan | RSS 2.0 | Kategori: artikel,Potensi Kendeng | Tags: , , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply