TANAH AIR: Lambusango, Etalase Kekayaan Hayati Sulawesi

6 - Oct - 2012 | sobirno

Gelap hampir jatuh saat kami tiba di hadapan sebuah pohon beringin di pelosok rimba Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Berisik suara jangkrik dan burung hutan menemani penantian akan sosok mungil yang segera keluar dari pohon itu.

Saat matahari hilang sepenuhnya, pergerakan terlihat di dahan yang berdekatan dengan beringin itu. Awalnya sulit juga mencerna apa gerangan yang melompat dari pohon ke pohon itu. Selain gerakannya memang cepat, minimnya cahaya juga menyulitkan pengamatan.

Tak lama berselang, rentetan suara muncul membuyarkan kebingungan. ”Ciiit… ciiit… ciiit….” Decit panjang berulang itulah yang akhirnya menuntun mata Naudi (29), warga Buton yang memandu kami, menemukannya. ”Itu dia! Itu dia tarsiusnya,” ujarnya berbisik.

Tarsius dari jenis Tarsius tarsier itu dipergoki tengah memeluk sebatang pohon kecil dengan erat. Wajah bulatnya lalu berpaling ke arah sorotan senter. Tubuhnya kira-kira seukuran tikus dengan mata besar dan buntut dua kali lipat panjang tubuhnya.

Hutan bernama Lambusango itu merupakan habitat hewan yang dilindungi tersebut. Tarsius adalah binatang yang hanya beraktivitas pada malam hari (nokturnal) untuk berburu serangga. Saat siang, mereka tidur di rongga beringin besar yang banyak tumbuh di sana.

Rumah satwa

Bukan hanya tarsius, atau yang disebut miye-miye oleh warga lokal, Lambusango juga menjadi rumah bagi berbagai satwa langka dan dilindungi lainnya. Selama perjalanan singkat menjelajahi secuil kawasan itu September lalu, Kompas menyaksikan sebagian di antaranya.

Selain tarsius yang bisa ditemukan hanya dengan berjalan kaki 20 menit menembus hutan, kami juga menjumpai kuskus beruang sulawesi (Ailurops ursinus) tengah bertengger mendekap anaknya di salah satu pucuk pohon.

Lembaga International Union for Conservation of Nature menempatkan kuskus ini ke dalam kategori rentan (vulnerable) karena populasinya yang cenderung menurun. Keberadaan satwa ini bisa menjadi salah satu indikator kealamian hutan karena mereka hanya hidup di hutan tropis dataran rendah yang tak terganggu.

Tidak jauh dari lokasi kuskus, sepasang burung rangkong (Aceros cassidix) yang terusik terlihat terbang dari balik rerimbunan atap jenggala. Sekawanan monyet (Macaca brunnescens) juga terpantau sedang menyisiri lantai hutan mencari makan.

Di luar itu, masih panjang daftar satwa endemik yang menghuni Lambusango, termasuk anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis), anoa dataran tinggi (Bubalus quarlesi), babirusa (Babyrousa babyrussa), hingga musang sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii).

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sultra Sahulata Yohana mengatakan, hampir semua keanekaragaman hayati yang ada di Sulawesi bisa ditemukan di Lambusango. ”Kawasan ini seperti menjadi etalase hutan di Sulawesi,” katanya.

Berdasarkan data BKSDA Sultra, Lambusango dihuni 11 spesies mamalia, 55 aves (burung), 3 reptilia, 1 amfibi, dan 175 spesies kupu-kupu. Untuk kelompok flora terdapat 149 habitus pohon dan 23 jenis semak. Sebagian besar dari kekayaan hayati itu juga hanya bisa ditemukan di Sulawesi.

”Yang agak sulit dicari adalah anoa. Paling kita hanya bisa melihat jejak atau kotorannya. Anoa sangat sensitif dan langsung menjauh jika mencium bau manusia,” kata La Kapo, petugas lapangan BKSDA Sultra, yang turut menemani perjalanan kami.

Naudi menambahkan, anoa hidup jauh di jantung Lambusango yang masih sangat jarang tersentuh manusia. ”Kalau memulai perjalanan dari kampung pagi hari, tiba di lokasi bisa sore,” katanya.

Lembaga Wallacea

Kondisi Lambusango yang masih relatif terjaga dari kerusakan membuat banyak satwa betah hidup di dalamnya. Karena itu pula ratusan ilmuwan dan mahasiswa dari luar negeri menjadikannya lokasi penelitian ataupun obyek ekowisata. Mereka biasanya berkunjung sepanjang Juni-Agustus yang dikoordinasi oleh lembaga ekspedisi ilmiah asal Inggris, Operation Wallacea.

Kompleks Hutan Lambusango terbagi menjadi Suaka Margasatwa Lambusango seluas 27.700 hektar dan Cagar Alam Kakenauwe seluas 810 hektar. Di luar itu terdapat hutan lindung dan hutan produksi yang luasnya mencapai sekitar 35.000 hektar. Lokasi hutan terletak di tengah- tengah Pulau Buton di Kabupaten Buton, yang mencakup enam kecamatan, yakni Lasalimu, Lasalimu Selatan, Siotapina, Wolowa, Kapontori, dan Pasarwajo. Dari Kota Bau-Bau, gerbang Pulau Buton, jarak ke kawasan hutan hanya 30 kilometer.

Secara biogeografi, Lambusango adalah bagian dari kawasan Wallacea, yang terdiri dari Sulawesi, Nusa Tenggara, Timor, dan Maluku. Nama itu diambil dari naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace, yang meneliti keanekaragaman hayati Nusantara pada abad ke-19.

Keunikan kawasan Wallacea ialah memiliki satwa bercorak zona Asia sekaligus Australia. Sebagai contoh, keberadaan tarsius yang berasal dari Asia dan kuskus dari Australia. Namun, terdapat pula satwa ”eksklusif” yang tak ditemukan di kedua benua itu dan benua lain, seperti anoa dan babirusa.

Direktur Operation Wallacea Trust, lembaga swadaya masyarakat pelestarian lingkungan yang berpusat di Bau-Bau, Edi Purwanto mengatakan, Lambusango juga memiliki keunikan dibandingkan hutan lain di Sulawesi karena terbentuk melalui proses jutaan tahun pada tanah berbatu kapur. Jika rusak, hutan itu membutuhkan proses yang amat lama untuk pulih kembali karena vegetasi sulit tumbuh di batuan kapur.

Penulis: Mohamad Final Daeng
Sumber berita: Kompas 6 Oktober 2012 hlm. 21
Foto: potensiwilayah.wordpress.com

Depan | RSS 2.0 | Kategori: berita,Kliping Media | Tags: , , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply