PRANATAMANGSA: Menjaga “Titen” Leluhur…

7 - Dec - 2012 | adplus

Sisa hujan semalam menyisakan tanah basah di Desa Trirenggo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (17/11) pagi. Bulir-bulir air pun masih tersisa di ujung dedaunan, menumbuhkan harapan bagi petani akan segera tibanya musim tanam.

Sebagian petani mulai menyemai benih padi di sawah. Sementara yang lain memanen palawija atau padi yang ditanam Agustus lalu. Namun, sebagian petani ada yang masih membiarkan sawah mereka sembari menyiapkan alat-alat tani yang akan digunakan nantinya.

”Dari perhitungan pranatamangsa, waktu tanam yang paling baik tahun ini 15-25 Desember,” kata Duriyat (60), petani di Dusun Gedangan, Trirenggo, Bantul. Rentang waktu ini diperuntukkan bagi petani yang ingin menanam padi umur pendek antara 90 dan 100 hari.

Pranatamangsa adalah ilmu titen atau hasil cermatan nenek moyang terhadap perubahan alam dikaitkan dengan berbagai aspek kehidupan yang dialami. Tanda yang dijadikan datangnya suatu mangsa atau musim sangat beragam, mulai dari perilaku hewan dan tumbuhan, gerak Matahari, curah hujan, hingga penampakan bintang tertentu di langit malam.

Di Bantul, hujan sudah mengguyur daerah itu pertengahan Oktober lalu. Bahkan, sejak awal November, hujan turun hampir setiap hari dengan intensitas yang bervariasi. Kementerian Pertanian pun sudah mempersilakan petani untuk mulai menanam. Namun, itu semua tak membuat petani yakin untuk segera menanami sawahnya.

Petani yang saat ini menyemai benih padi adalah mereka yang ingin menanam padi umur panjang, sekitar 120 hari. Bagi mereka, waktu terbaik menanam padi jenis ini 25-30 November. Penampilan fisik padi umur panjang dan umur pendek sama, tetapi beras dari padi umur panjang dinilai lebih enak rasanya.

”Jika menanam di luar waktu tanam itu, walau hanya beberapa hari lebih cepat atau lebih lambat, panen pasti gagal,” ujar Subardi (50), petani asal Dusun Prenggan, Desa Palbapang, Bantul. Gagal panen bisa disebabkan banyak hal, mulai dari serangan hama, tanaman roboh tertiup angin, hingga bulir padi tak berisi.

Duriyat menambahkan, waktu tanam itu dipilih agar sekitar Februari, saat angin bertiup kencang dan hujan turun deras, tanaman padi mereka tetap tumbuh kokoh. Pengalaman selama ini, jika padi terlambat ditanam, padi akan roboh. Usia padi yang muda membuat akar tanaman belum mampu menopang daun dan batang di atasnya. Sebaliknya, jika terlalu dini ditanam, padi akan roboh karena padi mulai menua dan berbunga sehingga membuat bagian atas tanaman lebih berat.

Ketua Laboratorium Agroklimatologi Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Rosich Attaqy menilai, perkiraan petani dalam penentuan waktu tanam memiliki kebenaran ilmiah. Jika ditanam lebih cepat beberapa hari, tanaman bisa mati karena kekurangan air. Terlebih lagi, padi muda sensitif terhadap air. Sebaliknya, jika terlambat beberapa hari, padi bisa tergenang. Petani sering tak menyadari sawahnya kelebihan air dari irigasi dan air hujan. Akibatnya, pertumbuhan padi tidak maksimal.

Sesuai perhitungan pranatamangsa saat ini adalah mangsa kanem atau musim keenam antara 9 November dan 21 Desember. Ini merupakan musim terakhir pada mangsa labuh atau masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. Pada masa ini, sungai-sungai mulai berisi, sawah yang semula mengering kembali menghijau, dan petani mulai membajak sawah.

Menanam padi baru dapat dilakukan pada mangsa kapitu atau musim ketujuh antara 22 Desember dan 2 Februari. Musim ini merupakan mangsa pertama dari mangsa rendheng alias musim hujan. Saat itu, curah hujan tinggi, angin bertiup kencang, dan air sungai mulai meluap hingga menimbulkan banjir. Di balik ancaman bencana ini, mangsa kapitu menyimpan berkah akan datangnya panen pada mangsa kasanga (musim kesembilan) pada 1 Maret-25 Maret nanti.

Meski demikian, kata Duriyat, mengikuti aturan pranatamangsa saja tak cukup. Pranatamangsa menjadi acuan waktu tanam yang sesuai, tetapi harus diikuti pemilihan benih, pengolahan tanah, perawatan tanaman, dan pemupukan yang baik. ”Mengikuti pranatamangsa hanya salah satu syarat agar penanaman berhasil,” katanya.

Maju

Pengetahuan pranatamangsa diwariskan turun-temurun dari petani tua ke anaknya. Petani muda umumnya mengikuti apa yang disampaikan petani tua, tanpa ada catatan khusus sebagai dokumentasi. Ilmu ini biasanya hanya dikenal petani dan keluarganya karena memang tak diajarkan di sekolah, termasuk sekolah pertanian.

”Pranatamangsa diperoleh dari observasi dan analisis apa yang terjadi di alam dan lingkungan sekitar mereka sehari-hari,” kata F Nangsir Soenanto, pemandu lapangan pertanian berkelanjutan yang merupakan pensiunan Dinas Pertanian DI Yogyakarta.

Ilmu pranatamangsa yang dikenal petani saat ini umumnya hanya berupa rentang waktu di setiap mangsa serta sebagian perilaku binatang dan tumbuhan. Kalender yang digunakan di sejumlah daerah pertanian sekarang sebagian masih mencantumkan rentang waktu mangsa, berdampingan dengan penanggalan Islam dan penanggalan Jawa. Sementara bintang-bintang dan panjang bayangan Matahari yang juga dijadikan penanda suatu mangsa kurang dikenal.

Seiring pelaksanaan program intensifikasi pertanian untuk menggenjot produksi padi, pranatamangsa mulai dilupakan sebagian petani. Pengairan yang baik dengan ditopang bantuan benih dan pupuk mendorong petani menanam padi di luar ketentuan pranatamangsa. Terlebih, tinggi dan stabilnya harga gabah saat ini sangat menggoda petani untuk menanam padi kapan pun.

Walau demikian, pengalaman sejumlah petani di Bantul menunjukkan, banyak petani gagal jika menanam di luar ketentuan pranatamangsa. Dukungan teknologi pertanian yang ada ternyata tidak cukup membuat petani sukses menanam.

”Jika sudah gagal atau terserang hama, petani yang paling rugi. Kehilangan satu masa tanam berarti hilangnya sumber penghidupan selama 3-4 bulan,” imbuh Hery Astono, petani Dusun Dowaluh, Trirenggo, Bantul, yang juga mengelola organisasi petani Lumbung Tales.

Jika petani tetap ingin menggunakan patokan waktu pranatamangsa dalam bercocok tanam, petugas penyuluh lapangan pertanian umumnya hanya membiarkan petani. Mereka tak melarang, tetapi juga tak menganjurkan.

Sukardi Wisnubroto dalam Pengenalan Waktu Tradisional Pranata Mangsa Menurut Jabaran Meteorologi dan Pemanfaatannya di Jurnal Agroklimat Volume XI Nomor 1 dan 2, 1995, menyebut, mangsa-mangsa dalam pranatamangsa sampai batas tertentu mempunyai kesamaan dengan unsur-unsur meteorologi yang menentukan kapan waktu terbaik menanam padi sesuai ilmu modern, seperti paparan sinar Matahari, curah hujan, kelembaban udara, dan suhu udara. Dengan demikian, pranatamangsa dapat digunakan sebagai pedoman berbagai kegiatan pertanian.

Rosich sepakat, pranatamangsa masih bisa dipakai sebagai acuan waktu pertanian, khususnya untuk waktu tanam. Prediksi pranatamangsa dan kalender pertanian lainnya di sejumlah daerah kadang jauh lebih akurat dibandingkan dengan prakiraan ahli-ahli cuaca dan iklim.

Persoalannya, hal-hal yang dijadikan tanda akan datangnya hujan atau tibanya musim kemarau sebagian sudah mulai hilang. Misalnya datangnya musim hujan ditandai dengan munculnya bunga tanaman gadung (Dioscorea hispida Dennst) yang menunjukkan kelembaban udara sudah meningkat.

Sementara datangnya kemarau ditandai dengan pecahnya bunga pohon randu (Ceiba pentandra) atau bunyi hama kelapa kwangwung (Oryctes rhinoceros) yang menunjukkan kelembaban udara sudah berkurang.

Selain itu, pranatamangsa bersifat sangat lokal sehingga tidak bisa dipedomani secara universal. Aturan musim di sekitar Surakarta, Boyolali, dan Klaten berbeda dengan aturan pranatamangsa di Gunung Kidul, Pacitan, atau Trenggalek, yang daerahnya lebih kering.

”Meski tetap bisa memedomani pranatamangsa, petani perlu juga memperhatikan prakiraan yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, memanfaatkan teknologi modern yang kini sudah ada,” kata Rosich.

(M Zaid Wahyudi/Aloysius Budi Kurniawan)

Sumber berita: Kompas, 07 Desember 2012 hlm. 45

Sumber foto: kabupatenmadiun.blogspot.com

Depan | RSS 2.0 | Kategori: berita | Trackback | 0 Comments

Leave a Reply