TATA RUANG: Aksi Tolak Investor Semen Berlanjut

13 - Dec - 2012 | sobirno

Sumber foto: Uul (JM-PPK)

Semarang, Kompas – Penolakan masyarakat kawasan Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah, terhadap Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Jawa Tengah terus berlanjut. Pada Rabu (12/12), ribuan warga Kabupaten Pati, Rembang, Blora, Grobogan, dan Kudus, menggelar aksi penolakan RTRW Jateng di depan Gedung DPRD Jateng, Semarang.

Pengunjuk rasa menilai, walau pemerintah menetapkan Pegunungan Kendeng sebagai kawasan lindung, kenyataannya dalam RTRW Jateng 2009-2029 justru terdapat pasal-pasal yang memperbolehkan kawasan tertentu sebagai kawasan pertambangan dan industri. Warga meminta Perda RTRW Jateng segera direvisi karena pasal-pasal tersebut membuat kawasan Pegunungan Kendeng hingga kini terus diincar investor pabrik semen.

”Perda Nomor 6 Tahun 2010 harus direvisi agar kawasan Pegunungan Kendeng dipertahankan sebagai pusat kehidupan bagi masyarakat dan anak cucu kelak. Kami juga menolak Perda soal RTRW Jateng karena perda ini disusun tanpa pelibatan masyarakat setempat,” kata koordinator aksi Bambang Sutiknyo.

Menanggapi aksi tersebut, sejumlah perwakilan warga lima kabupaten itu diajak berdialog oleh anggota DPRD Jateng, yakni Hadi Santoso dan Abdul Aziz.

Dihubungi secara terpisah, Gubernur Jateng Bibit Waluyo menegaskan, revisi terhadap Perda RTRW Jateng tidak mungkin dilakukan karena pembuatan RTRW tersebut sudah melalui tahapan yang benar dan dikaji secara mendalam.

Bibit juga mengatakan, saat ini banyak penambang liar di kawasan Pegunungan Kendeng yang seharusnya juga dilarang. ”Nanti kalau ditertibkan, saya didemo lagi. Padahal, yang liar-liar itu kan juga merusak lingkungan. Kalau perusahaan, sudah dikaji secara ilmiah,” katanya.

Di Kudus, Jateng, Direktorat Jenderal Bina Pengelolaan Daerah Alisan Sungai dan Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan Hilman Nugroho mengatakan bahwa Pegunungan Kendeng Utara merupakan bagian dari wilayah daerah aliran sungai Juwana. Artinya, kawasan tersebut merupakan wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan ekosistem sungai dan anak Sungai Juwana yang berfungsi menampung, menyimpang, dan mengalirkan air.(WHO/UTI/HEN/ink/ita)

Sumber berita: Kompas, 13 Desember 2012 hlm. 13.
Sumber foto: Uul (JM-PPK)

Depan | RSS 2.0 | Kategori: berita | Tags: , , , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply