Ancaman Bencana Hidrometeorologi: Kombinasi Perubahan Iklim dan Ulah Manusia

14 - Dec - 2012 | adplus

Sumber foto: ufz.de

Jakarta, Kompas – Bencana hidrometeorologi, yaitu banjir, kekeringan, tanah longsor, puting beliung, hingga gelombang pasang, menjadi ancaman terbesar negara di Asia, termasuk Indonesia. Bencana ini dipicu oleh kerusakan lingkungan dan pemanasan global.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Kamis (13/12), mengatakan, sejak Januari hingga 13 Desember 2012, tercatat 729 kejadian bencana di Indonesia. Sebanyak 85 persen adalah bencana hidrometeorologi berupa banjir, kekeringan, tanah longsor, puting beliung, kebakaran lahan dan hutan, serta gelombang pasang.

Kejadian ini lebih besar daripada rata-rata tahun 2002- 2011, yakni 77 persen. Puting beliung merupakan bencana paling sering terjadi, yaitu 36 persen, mengalahkan banjir dan longsor yang sebelumnya mendominasi.

Menurut Sutopo, meningkatnya bencana hidrometeorologi disebabkan oleh kerusakan lingkungan akibat ulah manusia (antropogenik) dan faktor perubahan iklim. Khusus untuk banjir di Jawa, penyebab dominannya ialah antropogenik. ”Faktor kerusakan daerah aliran sungai lebih dominan,” katanya. ”Memang ada pengaruh perubahan iklim, tetapi tidak begitu besar.”

Akan tetapi, fenomena peningkatan frekuensi dan daerah terdampak puting beliung menunjukkan pengaruh perubahan iklim. Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Edvin Aldrian mengatakan, naiknya suhu Bumi menyebabkan frekuensi kejadian puting beliung, sekalipun pembuktian langsung secara statistik sulit dilakukan.

Sutopo menambahkan, bencana hidrometeorologi menjadi ancaman serius di masa mendatang. Secara bulanan, dari data bencana 2002-2012 menunjukkan, puncak bencana terjadi pada Januari. Artinya, pada puncak musim hujan, yaitu di Januari, ancaman bencana hidrometeorologi mencapai puncaknya. Ini perlu diantisipasi masyarakat.

”Saat ini puting beliung terjadi bukan hanya pada masa transisi atau peralihan musim, melainkan berlangsung selama musim hujan hingga akhir musim hujan, yakni dari sekitar Oktober hingga April,” katanya.

Fenomena global

Dominasi bencana hidrometeorologi di Indonesia ini sejalan dengan fenomena Asia dan global. Secara global, 76 persen bencana di dunia sepanjang tahun 1900-2011 adalah bencana hidrometeorologi.

Pekan ini, Badan PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana (UNISDR) merilis hasil penelitian yang menyebutkan banjir merupakan bencana paling kerap terjadi di Asia sepanjang 2012, yaitu mencapai 44 persen. Bencana ini menyebabkan dampak korban jiwa terbanyak dan kerugian ekonomi terbesar. Sebanyak 54 persen korban tewas di Asia diakibatkan banjir dan 56 persen dari total kerugian ekonomi di Asia disebabkan banjir.

Penelitian itu dilakukan UNISDR bekerja sama dengan Louvain University Centre for Research on the Epidemiology of Disasters (CRED). Disebutkan, Pakistan paling menderita akibat banjir. Sebanyak 480 warga Pakistan tewas sepanjang Agustus hingga Oktober 2012. Adapun banjir yang melanda China pada Juni-Juli berdampak terhadap 17 juta orang dan menyebabkan kerugian ekonomi terbesar, yaitu 4,8 miliar dollar AS.

Selain banjir, badai juga menjadi ancaman serius di Asia. Pekan lalu di Filipina terjadi topan Bopha yang menewaskan 500 orang.

Di Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Asia Timur terjadi 83 bencana yang menyebabkan total tewas 3.103 jiwa, berdampak terhadap 64,5 juta jiwa, dan total kerugian ekonomi hingga 15,1 miliar dollar AS. Bencana di tiga kawasan ini menyumbang 57 persen total kematian akibat bencana, 74 persen orang terdampak bencana, dan 34 persen total jumlah kerugian ekonomi selama tahun 2012.

Di dunia, jumlah bencana mencapai 231 kali, menyebabkan 5.469 korban tewas, berdampak terhadap 87 juta jiwa, dan menyebabkan kerugian hingga 44,6 miliar dollar AS. (AIK)

Sumber berita: Kompas, 14 Desember 2012 hlm. 14

Sumber foto: ufz.de

Depan | RSS 2.0 | Kategori: berita | Tags: , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply