Semen Membinasakan Petani

21 - Dec - 2012 | adplus

Ribuan penduduk Provinsi Jawa Tengah mengkhawatirkan timbulnya kerusakan alam akibat pabrik semen yang baru. Pabrik itu sedianya akan dibangun oleh Anak Perusahaan HeidelbergCement 

Tulisan dari Anett Keller dimuat di taz, Jerman, pada tanggal 14 Desember, http://www.taz.de/Umweltzerstoerung-in-Indonesien/!107390/

Investor Jerman menjanjikan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan. Namun sejumlah besar masyarakat Jawa Tengah melakukan protes menolak rencana pendirian pabrik semen milik perusahaan PT Sahabat Mulia Sakti. Perusahaan ini adalah milik Indocement, perusahaan semen terbesar kedua di Indonesia, yang saham terbesarnya dimiliki oleh perusahaan Jerman HeidelbergCement.

Di Kabupaten Pati, sampai tahun 2015, perusahaan ini berencana membangun pabrik semen dengan kapasitas mencapai 2,5 juta ton setahun. Saat ini, proyek tersebut sedang dalam proses perizinan. Untuk produksi semen tersebut, rencananya akan ditambang pegunungan karst Kendeng, tempat terdapat 80 mata air yang menopang kehidupan desa-desa di sekitarnya.

Pegunungan Kendeng terbentang sepanjang lima kabupaten di Jawa Tengah. Selain pabrik di Pati, tiga pabrik semen lain dari investor yang berbeda ingin menyusul mendirikan pabrik di sana. Pada tanggal 12 Desember, warga setempat menggelar protes di jalanan ibukota Provinsi Jawa Tengah, Semarang.

Salah satu di antaranya adalah seorang petani berusia 37 tahun bernama Gunarti. “Dari generasi ke generasi, kami hidup dari menanam padi. Pabrik ini akan menghancurkan sumber penghidupan kami,“ kata ibu tiga anak ini kepada taz. Masyarakat desa mereka sering berselisih paham, karena sebagian percaya pada janji-janji investor, sebagian tidak. “Perselisihan ini memecah belah persatuan keluarga-keluarga kami. Kerugian ini tidak dapat diganti dengan uang. Tidak satupun investor yang bisa mengembalikan kedamaian kami,” kata Gunarti.

Kebanyakan warga di wilayah ini adalah petani. ”Lahan di sini sangat subur,” jelas Mokh Sobirin, perwakilan LSM Desantara yang membela penduduk Pati. Awalnya peraturan di tingkat kabupaten dan daerah disusun supaya wilayah Kendeng dikembangkan sebagai kawasan pertanian dan wisata. Akan tetapi pada tahun 2010, diterbitkanlah dua peraturan baru–baik dari provinsi maupun kabupaten– yang membuka jalan untuk industrialisasi dan penambangan gunung.

”Peraturan-peraturan ini bertentangan dengan undang-undang nasional yang menyatakan bahwa kawasan karst adalah kawasan lindung,” ujar Sobirin. Dampak buruk yang ditimbulkan sebuah pabrik semen yang telah ada di wilayah itu didokumentasikan dalam sebuah film oleh Sobirin http://www.youtube.com/watch?v=bpM2skUqH50.

Memang kepada para penduduk dijanjikan akan ada ribuan lapangan kerja. Namun hanya sedikit yang dapat dipekerjakan di pabrik semen. Padahal, setelah para petani menjual sawah-sawah mereka, mereka kehilangan sumber penghidupan abadi. Ditambah lagi, sehari-hari mereka akan berhadapan dengan masalah debu yang menyebar dari cerobong pabrik hingga radius berkilo-kilometer.

Oleh karena itulah, para penduduk mengorganisir protes bersama dengan penduduk daerah tetangga yang menghadapi masalah investasi yang sama. Tambang Karst Kendeng tidak hanya merusak lingkungan tetapi juga menjadi ancaman serius bagi warisan budaya. ”Kawasan Karst Kendeng merupakan situs penemuan arkeologi yang penting,” kata Sobirin. ”Seharusnya pemerintah dengan penuh penghargaan melakukan penelitian mendetail dan menetapkan tata ruang yang tepat, sebelum karst tersebut benar-benar rusak dan tak dapat dipulihkan lagi.”

Indonesia adalah pasar terbesar HeidelbergCement di Asia, menurut data perusahaan yg dapat diakses lewat Internet http://www.heidelbergcement.com/global/en/company/group_areas/asia_pacific/indonesia.htm. Tahun lalu, permintaan semen meningkat sekitar 17,7 persen. Permintaan dari koran taz supaya HeidelbergCement memberikan tanggapan atas protes warga Pati tidak dijawab oleh perusahaan tersebut.

 

Depan | RSS 2.0 | Kategori: artikel | Tags: , , , Trackback | 1 Comment

One Response to “Semen Membinasakan Petani”

  1. suroso says:

    apa setiap pabrik semen itu pasti menghancurkan sumber penghidupan masyarakat?, pasti membuat pertanian hancur?, mbak Gunarti berlebihan, tentu semua sudah ada rambu-rambu peraturannnya dong, tidak boleh mematikan mata air, harus bisa menjaga terjaminnya pertanian, wong pemilik dan pegawai pabrik semen juga makan nasi sama dengan mbak gunarti.

    lalau soal warga menjadi tidak rukun, itu karena ,bak gunarti atau temen mbak memprovokasi warga, menyuruh memusuhi warga yang tidak mau mbak gunarti ajak berdemo dan masuk koran ama TV. siapa yang mengintimidasi warga dengan menempel tulisan pro semen di rumah warga yang tidak sependapat dengan mbak gunarti hayo?

    siapa pula yang sukanya grudak gruduk tidak mau saling mendengar hayo, ada talkshow di radio saja temen2 mbak gunarti gruduk studio radio kami to? itu yang membuat tidak rukun

    omong-omong, rumha mbak gunarti pakai semen apa nggak ya, atau cuma pakai lumpur? lalu saluran irigasi pakai semen apa nggak?

    kalau semua pabrik semen mbak gunarti suruh tutup, kami mbangun musholla pakai apa mbak? kami butuh musholla lho mbak.

    tapi ya semua memang berhak memilih, setiap orang boleh memilih untuk jadi artis dadakan, boleh juga memilih untuk menolak pabrik semen, tapi juga hormati yang berbeda pendapat, jangan dipaksa, diprovokasi yang berlebihan, dibuatkan video yang mencekam, dengan gambar entah darimana ada rumah digusur paksa pakai buldoser,,,,

Leave a Reply