Cerita Seorang Mapala

16 - Jan - 2013 | Adib Fauzi

Mencintai Indonesia dengan jalan terbaik, begitu kira-kira yang dipikirkan Soe Hok Gie dalam bukunya, Catatan Seorang Demonstran. Ya, karakter yang diperankan oleh Nicholas Saputra dalam film “Gie” ini merupakan kelompok mahasiswa awal yang melahirkan konsep Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) di Indonesia melalui berbagai kegiatannya. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi saya sebagai salah seorang anggota MAPALA terhadap posisi Mapala dan isu lingkungan yang terjadi saat ini.

Berbeda dengan apa yang terjadi saat ini, kemunculan Mapala sangat kental dengan nuansa perlawanan terhadap struktur politik saat itu. Tepatnya pada awal 1960-an, ketika kehidupan kampus begitu riuh dengan gerakan politik dengan bermacam ideologi, lahir mahasiswa kritis macam Gie yang mencoba memberikan pandangan lain. Ia dan teman-teman seidenya merasa jengah dengan kemunafikan para politisi di tengah realitas memprihatinkan rakyat Indonesia saat itu. Menurut mereka, pemahaman akan realitas hanya bisa didapatkan oleh seorang mahasiswa jika ia bertemu langsung dengan realitas itu tanpa terhalang sekat apapun termasuk kemunafikan para politisi saat itu.
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia – manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi ( kemunafikan ) dan slogan – slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.” ( Soe Hok Gie – Catatan Seorang Demonstran )
Kini mahasiswa pecinta alam terdapat hampir di semua kampus, bahkan lembaga pendidikan di timkat SMA. Kesan dari mahasiswa ini biasanya suka dengan ekspedisi naik gunung, urakan, berambut gondrong dan dekil. Bisa jadi ini gaya personal mereka untuk mendekati realitas masyarakat di luar kampus mereka.

Bukan itu saja cara yang dipakai untuk mengekspresikan kecintaan mereka pada alam. Mapala, yang merunut definisi dan sejarahnya memiliki arti “Mahasiswa yang merasa memiliki alam”, memiliki peran lebih dibandingkan mahasiswa lainnya dalam memecahkan persoalan lingkungan. Menanami kembali hutan yang gundul, memanfaatkan sampah plastik untuk hal yang lebih bermanfaat dan beberapa cara-cara lain yang berorientasi pada perlindungan kelestarian lam merupakan hal minimal yang bisa dilakukan oleh seorang MAPALA. Yang perlu dipahami dalam sebuah kegiatan ekspedisi adalah bahwa petualangan itu sendiri bukanlah tujuan, melainkan cara untuk mencapai hal yang lebih penting, yaitu menginginkan alam yang lestari.

Salah satu kegiatan yang masih segar dalam ingatan Saya adalah keterlibatan Mapala dalam persoalan lingkungan hidup di Jawa Tengah, tepatnya dalam isu mengenai Pegunungan Kendeng utara. Pegunungan kapur penyimpan air ini kini tengah menghadapi ancaman dari beberapa industri semen seperti PT. Semen Gresik di Rembang, PT. Vanda Prima Listi di Grobogan, PT. Indocement di Pati dan PT. Imasco Tambang Raya di Blora. Mayoritas warga di beberapa wilayah ini melakukan protes akan kebijakan eksploitasi yang “direstui” oleh regulasi Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Tengah. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan melakukan aksi demonstrasi pada tanggal 12 Desember 2012 menuntut revisi Perda No. 6 tahun 2010 tentang RTRW Jawa Tengah tahun 2009-2029. Beberapa elemen MAPALA Jawa Tengah yang terlibat dalam aksi ini merasa bahwa suara rakyat yang kritis seperti inilah yang harus dijadikan contoh bagi mahasiswa yang ingin lebih peduli pada persoalan lingkungan hidup.

Cerita tentang ancaman terhadap kelestarian lingkungan akan terus berlangsung sepanjang peradaban manusia itu sendiri. Pemahaman dan kecintaan perlu pula ditanamkan sejak kecil melalui berbagai cara dan institusi pendidikan. Seperti yang dilakukan oleh Forum Mapala Se-Indonesia yang telah menerapkan materi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) dalam materi muatan local SD di Kota Bandung. Project yang dimulai sejak tahun 2007 ini melibatkan Mapala secara aktif sejak tataran konsep hingga realisasi. Besar harapan agar usaha ini juga dilakukan di banyak tempat. Semoga dengan usaha ini berbagai kegiatan kepedulian akan kelestarian alam akan lebih sering dilakukan, tidak hanya oleh MAPALA tapi oleh semua umat manusia.
Salam Lestari . . .

Adib Fauzi adalah salah satu anggota Mapala Argajaladri, Semarang.

Sumber foto: pandasurya.files.wordpress.com

Depan | RSS 2.0 | Kategori: artikel | Tags: , , , Trackback | 2 Comments

2 Responses to “Cerita Seorang Mapala”

  1. uzollginting says:

    setidak nya pengetauan teori yang aku miliki bertambah setelah membaca sedikit tentang MAPALA.

  2. Piko says:

    sekarang naik gunung biar bisa foto terus diapload Gie :(

Leave a Reply