TRADISI LAMPORAN: Petani Diingatkan untuk Kembali pada Alam

18 - Jan - 2013 | adplus

Lir-ilir, lir-ilir tandure wus sumilir. Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar. Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi. Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro. Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir. Dondomono jrumatono kanggo sebo mengko sore. Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane. Yo surako… surak hiyo.

Tembang karangan Sunan Kalijaga itu mengalun merdu di lereng Pegunungan Kendeng Utara, Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, pekan lalu. Tembang yang membawa pesan kehidupan itu dinyanyikan ratusan petani dan puluhan warga Sedulur Sikep atau pengikut ajaran Samin Surosentiko.

Mereka mengelilingi kendi dan aneka hasil olahan bumi sembari membawa obor. Terang obor itu menjadi penunjuk arah kehidupan agar manusia selalu memihak terang dan tidak terkungkung kegelapan. Terang itu membawa pada makna dan pesan tembang ”Lir-ilir”.

”Bangun, bangunlah ke alam pemikiran yang baru. Lihatlah tanaman yang mulai bersemi itu. Tanaman yang mulai bersemi adalah benih iman. Hakikatnya Allah sudah mengisi setiap manusia dengan benih-benih kebaikan. Terserah manusianya, mau merawat atau mengacuhkannya,” ujar Bambang (55), petani lereng Kendeng, menguraikan sebagian makna Lir-ilir itu.

Kegiatan itu dikenal sebagai tradisi Lamporan, yang digelar petani lereng Pegunungan Kendeng Utara. Lamporan adalah tradisi petani menolak bala, berupa hama dan penyakit yang kerap menyerang tanaman dan ternak milik mereka.

Tradisi itu masih dilestarikan di sejumlah desa di Kabupaten Rembang, Blora, dan Pati, Jateng. Tradisi itu dilakukan dengan cara berkeliling desa dan areal persawahan dengan menggunakan obor bambu dan menyanyikan parikan (pantun).

Pantun yang dilontarkan pada saat berkeliling amat beragam. Misalnya, jaran ngidak arit, cah lamporan nolak penyakit (kuda menginjak sabit, anak lamporan menolak penyakit) dan ling kolang-kaling sing rak lampor sapine gering tanduran garing (barang siapa yang tidak turut lamporan, sapinya kurus dan tanamannya kering). Ada pula yang mengemasnya dengan kesenian barongan, brokohan, atau selamatan, dan tembang ”Lir-ilir”.

Bambang mengatakan, tradisi Lamporan di Pati adalah tradisi petani di kala tanah masih murni. Saat itu petani masih menggunakan pupuk kandang atau pupuk organik. Bahkan, dahulu petani tidak perlu menggunakan pupuk, tanah tinggal dibajak dan dicangkul sudah subur.

”Tradisi itu kian pudar ketika petani menggunakan pupuk dan obat kimiawi. Kala sawah tidak subur lagi,” kata Bambang.

Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java, menulis, ”Jawa sangat bagus untuk pertanian, karena tanahnya subur. Salah satu ciri khas tanah Jawa adalah tidak perlu menggunakan pupuk. Di lahan sawah, pengairan tahunan sudah cukup untuk meremajakan tanah dan bisa menghasilkan panen tahunan yang bagus tanpa ada tanda-tanda kurang subur.”

Tokoh Sedulur Sikep Pati, Gunretno, menambahkan, tradisi itu ingin mengingatkan petani agar kembali pada alam dan menjaga bumi. Alam tidak hanya rusak karena pupuk dan obat kimiawi, tetapi juga karena ulah manusia dan industri.

Tanah adalah bumi yang diibaratkan sebagai ibu. Menjadi tempat berpijak, harus dihormati dan dirawat karena bisa menghasilkan dan memberikan sandang dan pangan lintas generasi. ”Tanah harus lestari dan sehat. Jika sakit, tanah tidak memberi kesuburan,” kata Gunretno lagi. (HENDRIYO WIDI)

Sumber berita: Kompas, 17 Januari 2013 hlm.

Foto: omahkendeng.org

Depan | RSS 2.0 | Kategori: berita,Kliping Media | Trackback | 0 Comments

Leave a Reply