REFORMA AGRARIA: Petani Berjalan Kaki Menagih Janji Pak Yudhoyono

22 - Jan - 2013 | adplus

Sukirno (52) duduk selonjor di bawah pohon di Jalan Diponegoro, Kota Salatiga, Jawa Tengah, Jumat (18/1), sambil memijat kedua kakinya yang bengkak setelah berjalan sekitar 300 kilometer. ”Tak apa. Semangat saya masih ada. Semoga kami tiba di Istana Presiden dengan selamat,” ujar Sukirno yang berjalan kaki bersama 99 petani lainnya dari Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Perjalanan masih jauh. Masih sekitar 550 kilometer lagi yang harus ditempuh menuju Ibu Kota, Jakarta. Petani yang tergabung dalam Front Perjuangan Petani Mataraman itu berangkat dengan perbekalan seadanya, 11 Januari lalu, dengan tujuan bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, untuk menagih janji yang pernah diucapkannya saat kampanye pemilihan presiden tahun 2009.

Janji itu tertulis dalam spanduk yang mereka bawa, yaitu redistribusi lahan seluas 9,27 hektar untuk rakyat. ”Saya ingat betul janji itu. Tidak ragu lagi, saya nyoblos Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Namun, sampai sekarang belum juga terealisasi. Kami tetap tak memiliki lahan, sementara perusahaan diberi izin terus,” ujar Sukirno, petani di Desa Sumber- asri, Kecamatan Nglego, Blitar.

Mereka membawa dua truk berisi logistik untuk kebutuhan makan dan minum selama perjalanan. Rombongan berjalan kaki, dengan sandal jepit dan topi caping, khas petani. Setiap orang mengantongi jas hujan tipis. Panas dan hujan bukan halangan untuk terus berjalan.

Dipulangkan dokter

Mereka pun rentan terkena penyakit. Saat diterima Wali Kota Salatiga Yuliyanto, petani itu diperiksa oleh dokter. Hasilnya, tiga orang sakit dan tak diperbolehkan melanjutkan perjalanan. Mereka pun harus pulang.

”Gantinya menyusul di Kota Semarang. Sedapat mungkin, kami harus tetap berjumlah 100 orang,” kata koordinator aksi itu, Endra Wirawan Rudianto.

Mereka tiba di Salatiga, Kamis sore, dan menginap di kantor Pemerintah Kota Salatiga. Pemkot Salatiga menyediakan makan untuk mereka pula.

Sepanjang perjalanan dari Blitar, mereka singgah di beberapa kota, seperti Ponorogo, Madiun, Sragen, dan Solo, untuk beristirahat. Tak hanya membawa logistik, petani yang andal mengurut juga dibawa. Ada delapan orang yang siap memijat dan mengurut kaki yang pegal, bengkak, atau keseleo.

Tikto (59), misalnya, meski mengaku lelah dan dinyatakan sakit oleh dokter, ia bertekad tetap berjalan sampai Jakarta. Ia juga masih memijat kaki Endra yang keseleo karena terjerembap di jalan berlubang.

”Saya hanya kelelahan. Sebenarnya sudah ditawari naik mobil, tetapi tak enak, sebab tidak terasa perjuangannya,” kata Tikto, petani dari Desa Ringinrejo, Kecamatan Wates, Blitar.

Tikto mengaku hanya membawa uang saku Rp 100.000, dan hampir habis. Yang menghibur, sepanjang perjalanan, mereka bertemu dengan orang yang peduli, yang mau berbagi dan menambah perbekalan mereka.

Polres Salatiga, misalnya, ikut memberi dua dus roti dan air mineral. Ada pula orang yang memberi mi instan, beras, atau air mineral. Rombongan juga membawa sejumlah ibu yang bertugas untuk memasak.

”Kami memasak untuk makan pagi, siang, dan malam. Kompor kami bawa di truk. Memasaknya di truk, kecuali kalau ada orang yang memberi makan, saya tak masak,” tutur Musitun (41), yang mengaku hanya memiliki lahan seluas 20 meter persegi. Lahan itu ditanami jagung dan ketela, hanya untuk konsumsi sehari-hari bersama suami dan satu anaknya.

Konflik lahan

Petani itu bergabung dalam berbagai organisasi, seperti Serikat Petani Blitar Utara, Sepakat Bersatu, dan Kampung Merah Putih. Mereka didampingi aktivis dari organisasi kemasyarakatan Ratu Adil.

Permasalahan petani di Blitar umumnya konflik lahan. Seperti di Desa Ringinrejo, Kecamatan Wates, tanah eks Perkebunan Gondang Tapen seluas 850 hektar selama ini digarap petani, setelah sejak 1985 telantar. Namun, pemerintah kini memberikan hak guna usaha bagi perusahaan atas tanah itu. (uti)

Sumber berita: Kompas 22 Januari 2013 hlm.

Foto: www.vangoghgallery.com

Depan | RSS 2.0 | Kategori: Kliping Media | Tags: , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply