Bioekologi burung hantu (Tyto alba) sebagai predator tikus

22 - Jan - 2013 | Surtikanti

Tikus sawah (Rattus rattus argentiventer) merupakan hama yang dapat menimbulkan kerugian bagi tanaman pertanian, yang dapat menyerang tanaman padi, jagung, kedelai, kacang tanah dan ubi-ubian. Perkembangbiakan tikus sangat cepat, sehingga perlu dikendalikan dengan menikuti konsep PHT, Salah satu cara mengendalikan tikus adalah menggunakan musuh alami (biologis).

Selain ular, musuh alami tikus adalah burung hantu T. alba yang daerah penyebarannya luas Burung ini digunakan sebagai predator., karena burung hantu sebagai burung pemangsa (rapeor) yang berburu hewan lain untuk makanannya.Burung ini dapat beradaptasi khusus (unik), membuatnya berbeda dengan mahluk yang lain. Mempunyai kemampuan visual yang luar biasa, pendengaran yang tajam, kemampuan terbang dengan senyap, mempunyai cakar dan paruh burung ini dapat bertelur 2 – 3 kali setahun,sekali bertelur 6 – 12 butir. Baik digunakan sebagai musuh alami tikus, karena cepat berkembang biak.

Burung hantu termasuk spesies burung nokturnal, yang beraktivitas pada malam hari, penglihatannya sangat tajam, dimana dapat melihat mangsanya dari jarak jauh. Memiliki pendengaran sangat tajam dan mampu mendengar suara tikus dari jarak 500 m. Hidupnya berkelompok dan cepat berkembang biak. Induknya mampu bertelur 2 – 3 kali setahun. Sekali bertelur bias mencapai 6 – 12 butir dengan masa mengeram selama 27 – 30 hari (Agus Mulyono, 2010). Bentuk telur bulat, berwarna putih, berukuran panjang 38 – 46 mm, dan lebar 30 – 35 mm. (Saniscara, 2008).

Burung hantu Tyto alba merupakan salah satu predator yang potensial karena spesies ini memiliki kelebihan dibandingkan dengan spesies lain yaitu ukuran tubuh yang relatif lebih besar , memiliki kemampuan membunuh dan memangsa tikus cukup baik, mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan cepat berkembang biak.


BIOEKOLOGI, CIRI-CIRI UMUM, TAHAP PERKEMBANGBIAKAN DAN TINGKAH LAKU BURUNG HANTU

Bioekologi burung hantu, ciri-ciri umumnya yang dapat dilihat dialam bebas, cara dan proses perkembangbiakan dan tingkah laku dalam hubungannya dan interaksi dengan alam dan mangsa utama dan mangsa lain (non utama) seperti serangga dan sebagainya adalah sebagai berikut:

Bioekologi burung hantu
Bioekologi Burung Hantu (Tyto alba) Burung hantu dapat hidup tersebar luas hampir diseluruh dunia (warna hijau), tetapi tidak terdapat di Antartika dan bahkan hampir di seluruh bagian dunia. Burung Serak Jawa (Tyto alba) pertama kali dideskripsikan oleh Giovani Soopolli tahun 1769, nama alba berkaitan dengan warnanya yang putih (Lewis, 1998). T. alba termasuk family Tytonidae.

Ciri-Ciri Umum T. alba

Warna bulu sayap atas dan punggung abu-abu agak kuning. Sayap bawah dan dada sampai perut warna putih
berbintik hitam. T. alba betina bulu leher depan berwarna kuning berbintik hitam, dan yang jantan warnanya putih berbintik hitam. Bola matanya hitam, tajam, keduanya menghadap kedepan dan dibawahnya terdapat paruh yang ujungnya bengkok kebawah, tajam dan kokoh. Kaki berbulu dengan empat jari dan mempunyai kuku yang tajam. Bobot dewasa 450 – 600 g, tinggi badan 23 – 30 cm dengan rentang sayap kanan 33,5 cm, sedangkan rentang sayap kiri 33 cm. Panjang kaki 11,45 cm, panjang tubuh 30,75 cm. Diameter kaki 1,14 cm, dan panjang ekor 10,85 cm. Tyto alba betina lebih berat daripada yang jantan (Sujatmiko, 2010).

Tahap Perkembangbiakan T. alba T. alba ditempatkan sepasang atau beberapa pasang dalam sarang buatan. Sarang buatan diperlukan karena burung hantu bukan tipe burung pembuat sarang. 7 hari setelah penetasan telur pertama anak burung dapat memuntahkan sisa makanan yang tidak tercerna, tetapi belum berbentuk pellet. Pada 8 hari mata mulai terbuka, pada hari ke 10 anak burung mulai mengeluarkan faeces, pada hari ke 11 induk betina mulai jarang mengerami anaknya dan induk mulai berburu makan untuk anak dan dirinya, pada hari ke 14 anak burung dapat menelan mangsa secara utuh (tanpa bantuan pengunyahan induknya), pada hari ke 15 anak burung mulai mengeksplorasi sekitar sarang, pada hari ke 21 anak tertua sudah berumur berumur 3 – 4 minggu, induk betina berhenti mengerami, mengunjungi sarang hanya untuk memberi makan.

Selanjutnya pada hari 35 – 42 anak burung mulai melatih sayapnya dan berjalan keluar dari sarang, kadang- kadang anak burung yang tertua memangsa anakan yang muda (melakukan kanibalisme), pada hari ke 49 – 56 anak burung tertua meninggalkan sarang. Induk tetap memberi makan anak-anaknya baik di luar maupun di dalam sarang sampai semua keturunannya mampu terbang. Pada hari ke 60 anak yang baru sudah bisa terbang dan mulai bermain dengan mangsa seperti serangga. Pada hari ke 72 anak burung mulai menangkap mangsa sendiri dari ketinggian, pada 78 hari anak burung mulai meninggalkan sarang dan membentuk teritori sendiri dan setelah cukup berumur 10 – 18 bulan seluruh anggota keluarga burung sudah mulai mampu berkembang biak (Saniscara, 2008).

Cara Berburu Mangsa Tyto alba Burung hantu
T. alba merupakan burung pemangsa (raptor), yang berburu hewan lain untuk makanannya.
Burung dewasa berburu sesaat setelah senja, dan perburuan berikutnya sekitar 2 jam menjelang fajar Namun jika sedang membesarkan anak , akan aktif berburu sepanjang malam. Sangat jarang dijumpai berburu pada siang hari. Jika terjadi perburuan di siang hari, bisa diduga burung tersebut sedang mengalami kelaparan. Burung hantu aktif pada malam hari, karenanya ia memiliki system pendengaran yang baik, dan wajah cakram yang sangat terbuka, yang berlaku sebagai radar. Paruhnya mengarah lurus ke bawah, meningkatkan luas permukaan sehingga gelombang suara dapat dikumpulkan oleh cakram wajah sehingga memungkinkan untuk mendengar suara yang sangat pelan sekalipun dari mangsa di dalam vegetasi. Sekali mengetahui arah korbannya, ia akan terbang menghampiri, menjaga kepalanya segaris dengan arah suara. Jika mangsa bergerak, burung akan mampu mengoreksi di tengah penerbangan. Saat sekitar 60 cm dari mangsa, burung akan memajukan kakinya ke depan dan cakarnya dibentangkan membentuk pola oval.. Sesaat sebelum menyerang , akan menghentakkan kakinya melewati mukanya dan seringkali dekat matanya sebelum membunuh (Saniscara, 2008).

Setiap ekor burung akan memakan 2 – 3 ekor per hari, dengan jangkauan terbang hingga 12 km. Pada tahun 2004, Dinas Pertanian Jatim mencatat sedikitnya 46 ha lebih lahan sawah yang rusak akibat serangan tikus. Jumlah ini mengalami penurunan setelah mendapat bantuan burung hantu hingga menjadi 19 ha pada tahun 2005 (Warsono, 2007). Pada perkebunan kelapa sawit dengan memelihara burung hantu dapat menurunkan serangan tikus dari 20 – 30% menjadi 5%. Ambang kritis serangan tikus di perkebunan kelapa sawit adalah 10%. Sepasang T, alba di dalam sangkar mampu memangsa 3650 ekor tikus per tahun, dan seekor burung hantu mampu memangsa tikus 2 – 5 ekor per hari (Erik, 2008).

KESIMPULAN
Dengan memelihara burung hantu dalam sangkar dapat mengurangi serangan tikus, baik dipersawahan maupun di perkebunan kelapa sawit. T. alba cepat berkembang biak, mampu bertelur 2 – 3 kali setahun, kemudian menjadi dewasa setelah berumur 8 bulan. Burung hantu T. alba dapat merupakan predator tikus yang sangat potensial, mampu menurunkan kerusakan pada tanaman muda kelapa sawit dari 20 – 30% menjadi 5%. Seekor burung mampu memangsa 2 – 5 ekor tikus per malam.

Surtikanti, Peneliti pada Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros
Sumber tulisan: Seminar dan Pertemuan Tahunan XXI PEI, PFI Komda Sulawesi Selatan dan Dinas Perkebunan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan tanggal 7 Juni 2011.
Foto: bahasajepun.com

Depan | RSS 2.0 | Kategori: artikel | Tags: , , Trackback | 2 Comments

2 Responses to “Bioekologi burung hantu (Tyto alba) sebagai predator tikus”

  1. dini says:

    dulu di wuluhan kecamatan gumu asem banyak banget di tempATq tinggal sekarang,tapi sekarang gak dengar suaranya,mungkin karena desaq mulai ramai kali ya….kan banyak yang cari emas :)

  2. Pak Choy says:

    Secara umum artikikel memuat informasi yang bagus namum menjadi agak keliru dalam mengambil kesimpulan terutama pada kalimat pertama “Dengan memelihara burung hantu dalam sangkar”.
    Ini menjadi persepsi yang salah karena burung hantu bukan untuk dipelihara dalam sangkar. Memelihara burung hantu dalam sangkar tidak dapat mengurangi serangan tikus, yang ada malah harus meneyediakan tikus untuk makanan si burung hantu.
    Yang dapat dilakukan adalah menyediakan tempat bersangarang dan penangkaran untuk merawat (bukan memelihara dalam sangkar). Hal ini sudah dilakukan di Desa Tlogoweru, Kec. Guntur, Kab. Demak, Jawa Tengah.
    salam Lestari.

Leave a Reply