KEHUTANAN: Perhutani Galakkan Tumpang Sari

7 - Jan - 2013 | adplus

SEMARANG, KOMPAS - Perum Perhutani menyediakan lahan seluas 32.000 hektar di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, untuk ditanami rimpang di sela-sela tanaman utama. Tanaman rimpang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan dalam kunjungannya ke pabrik jamu PT Sido Muncul di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (5/1), mengungkapkan, pihaknya bekerja sama dengan Sido Muncul untuk membeli rimpang yang dihasilkan oleh petani yang tinggal di sekitar hutan.

”Kami melihat ada ketimpangan yang terjadi di sekitar kawasan hutan. Hasil hutan melimpah, tetapi masyarakatnya miskin. Karena itu, saya mencoba bekerja sama dengan perusahaan jamu agar hasil penanaman rimpang dari hasil tumpang sari dapat diserap,” kata Dahlan.

Kepala Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah Teguh Hadi Siswanto menyebutkan, seluas 32.000 hektar lahan hutan di Kabupaten Blora disiapkan untuk ditanami tanaman rimpang oleh masyarakat di sekitar hutan melalui lembaga masyarakat desa hutan (LMDH).

Dari jumlah itu, seluas 300- 500 hektar akan menjadi lahan percobaan, sementara 5 hektar di antaranya sudah dicoba ditanami temulawak. Selama ini lahan tersebut banyak dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk ditanami jagung atau padi.

Tak terserap

Namun, permasalahan utama yang selama ini menghambat adalah minimnya akses pemasaran. Banyak produk yang dihasilkan tak dapat terserap. Karena itu, kerja sama antara Perhutani dan Sido Muncul diharapkan mampu mengatasi kesulitan tersebut.

Lahan hutan milik Perhutani di Jawa Tengah seluas 635.000 hektar. Namun, yang disiapkan untuk kerja sama penanaman rimpang hanya di Kabupaten Blora.

Direktur Utama Sido Muncul Irwan Hidayat mengungkapkan, pihaknya siap membeli panenan rimpang dari masyarakat berapa pun besarnya. Masalah kualitas, kata dia, dapat disiasati dengan teknologi yang ada di pabrik.

Irwan menyebutkan, kebutuhan bahan baku Sido Muncul mencapai 15 ton kering atau 90 ton basah setiap hari. Rata-rata per bulan, kebutuhan 160 jenis tanaman obat mencapai 350 ton kering. Dari angka tersebut, 40 persen di antaranya didapat langsung dari petani yang telah bekerja sama. (UTI)

Sumber berita: Kompas 7 Januari 2013 hlm. 23

Foto: trubus-online.co.id

Depan | RSS 2.0 | Kategori: berita,Potensi Kendeng | Tags: , , , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply