Harga Gabah Anjlok: Akibat Cuaca Ekstrem, Petani Merugi

5 - Feb - 2013 | adplus

KUDUS, KOMPAS - Bencana angin ribut di Kabupaten Kudus dan Pati, Jawa Tengah, berdampak pada harga gabah kering panen yang turun hingga sekitar Rp 3.100 per kilogram, dari semula sekitar Rp 4.000 per kilogram. Petani mengalami kerugian hingga jutaan rupiah.

Mereka harus menanggung biaya sewa dos atau alat perontok padi dan buruh tani yang naik.

Suronto (54), petani Desa Lambangan, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Senin (4/2), mengatakan, angin ribut lima hari lalu merusak 2 hektar dari 3 hektar sawahnya. ”Pada panen kali ini seharusnya saya memperoleh penghasilan kotor Rp 84 juta. Namun, akibat angin ribut, pendapatan saya Rp 65,1 juta,” kata Suronto yang berharap ada bantuan benih dari pemerintah.

Romdan (52), petani lainnya, mengaku, penebas tidak mau membeli gabah kering panen (GKP) sesuai kesepakatan, Rp 22,2 juta per bau (tiga perempat hektar). Dia hanya mau membayar Rp 17 juta per bau karena sebagian besar bulir padi rusak dan rontok.

Selain itu, petani masih harus menanggung kenaikan biaya dos. Biaya sewa alat perontok padi itu naik dari Rp 15.000 per kuintal menjadi Rp 25.000 per kuintal. ”Saya juga harus menyewa tenaga buruh tani untuk mengikat padi yang roboh sebanyak 30 orang. Upah tenaga tersebut Rp 25.000 per orang per hari dari sebelumnya Rp 20.000 per orang per hari,” katanya.

Berdasarkan data Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Kudus, sawah yang rusak akibat puting beliung berada di Desa Lambangan, Undaan, seluas 60 hektar. Sawah yang kebanjiran seluas 1.109 hektar di Kecamatan Undaan, Jekulo, Mejobo, Jati, dan Kaliwungu.

Di Pati, harga GKP di areal yang tergenang banjir turun dari Rp 3.900 per kilogram menjadi Rp 3.300 per kilogram. Hal itu terjadi di daerah-daerah pertanian di sejumlah desa di Kecamatan Sukolilo, Gabus, dan Jaken, seluas total 1.200 hektar.

Sementara itu, sebanyak 4.013 hektar tanaman padi di enam kabupaten di Provinsi Lampung gagal panen akibat banjir. Kepala Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung Rozali mengatakan, sepanjang Desember-Februari tercatat 5.884 hektar sawah di Lampung tergenang banjir. Sebanyak 4.013 hektar di antaranya puso. Total luas sawah di Lampung 447.374 hektar.

Sawah yang mengalami puso akibat banjir ini berada di Lampung Tengah, Lampung Selatan, Tanggamus, Tulang Bawang, Pringsewu, dan Lampung Barat. Lampung Tengah dan Selatan adalah wilayah yang terparah terkena banjir. Hingga kemarin, banjir masih menggenangi areal sawah di Lampung Selatan, di antaranya Candipuro dan Palas.

Menurut Rozali, luas tanaman padi yang puso ini bisa saja bertambah banyak. ”BMKG memperingatkan, potensi hujan deras masih akan terjadi hingga Februari mendatang,” tuturnya.

Ia menambahkan, gangguan cuaca ekstrem, khususnya banjir, pada budidaya tanaman pangan semakin sering terjadi beberapa tahun terakhir. Hal ini diyakini karena dampak perubahan iklim. ”Dampak banjir terparah pada 2010. Ketika itu, 13.126 hektar padi puso. Selain banjir, puso adalah akibat kekeringan. Setiap tahun rata-rata (padi) puso akibat kekeringan mencapai 30.000 hektar,” tuturnya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung Eko Dyah mengatakan, petani yang tinggal di daerah rawan banjir dianjurkan menanam padi jenis Inpari 1-20 yang lebih adaptif terhadap air yang melimpah.

Di sejumlah daerah di Kalimantan Selatan, pekan lalu, banjir merendam 100 hektar lahan persawahan. ”Namun, sampai saat ini belum ada laporan mengenai jumlah total kerusakan atau puso yang diakibatkan bencana tersebut,” kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalsel Aus Alkausar. (HEN/JON/WER/RAZ)

Sumber berita: Kompas 05 Februari 2013

Foto: 123rf.com

Depan | RSS 2.0 | Kategori: Kliping Media | Tags: , , , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply