PERUSAKAN LINGKUNGAN: Konflik Muncul di Mana-mana

5 - Feb - 2013 | adplus

andung, Kompas - Eksploitasi alam dan penggunaan lahan yang tidak mengikuti aturan dan kaidah konservasi lingkungan di seantero Jawa Barat telah menimbulkan konflik berkepanjangan. Warga tidak lagi memiliki akses terhadap alam dan tak jarang pula mereka tersingkir dari tanah leluhur yang telah mereka diami turun-temurun.

Salah satu contohnya penambangan pasir besi yang kini marak di sepanjang pantai selatan Jawa Barat (Jabar). Perusahaan pasir besi melakukan penambangan di sepadan pantai dalam radius 200 meter. Padahal, cara seperti itu berpotensi memicu abrasi pantai hingga mengancam hilangnya benteng alam penahan bencana alam tsunami. ”Namun, tidak ada tindakan hukum terhadap penambangan yang merusak lingkungan itu,” kata Agus Neraca, warga di pesisir selatan Tasikmalaya, Senin (4/2).

Setiawan Wangsaatmaja, Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jabar, mengatakan, penambangan pasir besi hanya menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) Rp 400 juta per tahun. Namun, biaya rehabilitasinya mencapai Rp 7,5 miliar per tahun.

BPLHD Jabar tidak dapat berbuat banyak karena semua perizinan dikeluarkan pemerintah kabupaten/kota. Pengiriman pasir besi melalui jalan darat juga menimbulkan konflik sosial karena banyak ditentang masyarakat yang tinggal di sekitar lintas selatan Jabar. Dengan muatan melebihi kekuatan jalan, aspal pun mudah terkelupas. Alhasil, jalan menjadi kubangan air saat musim hujan dan rawan terjadi kecelakaan lalu lintas.

Kasus terakhir terjadi di Jalan Raya Cijulang, Ciamis. Warga memblokir truk pengangkut pasir besi asal Cikalong, Tasikmalaya, yang hendak ke Cilacap, Jawa Tengah. Pemicunya adalah jalan semakin rusak tanpa ada perbaikan dari pengusaha tambang atau pemerintah daerah.

Merusak

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Sukabumi Akhmad Riyadi membenarkan, sebanyak 200-400 truk pasir beroperasi setiap hari di Sukabumi. Batas beban angkut jalan yang diizinkan tak lebih dari 21 ton. Namun, truk mengangkut pasir hingga 40 ton sehingga jalan sering rusak.

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan pada peresmian jalan Pangalengan (Kabupaten Bandung)-Talegong (Kabupaten Garut), pekan lalu, menyebutkan, jalan sepanjang 22 kilometer itu dibangun dengan dana Rp 90 miliar. Jika kerusakan jalan akibat truk pasir sepanjang 250 kilometer, dibutuhkan dana perbaikan lebih dari Rp 1 triliun per tahun.

Penambangan pasir Gunung Galunggung di Tasikmalaya juga seperti api dalam sekam. Dengan sumbangan PAD hanya Rp 200 juta per tahun, penambangan pasir merusak lingkungan dan sistem mitigasi bencana Gunung Galunggung yang masih aktif.

Jajang (38), petani Kampung Citamperas, Desa Tawang Banteng, Kecamatan Sukaratu, mengatakan, sawahnya rusak berat akibat kualitas air Sungai Cikunir sangat buruk karena bercampur lumpur. ”Penyebabnya penambangan pasir Gunung Galunggung yang makin marak dua tahun terakhir,” kata Jajang, yang dibenarkan ratusan petani lain.

Sudah beberapa kali warga di kaki Galunggung melancarkan unjuk rasa ke Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, tetapi penambangan pasir jalan terus. Hal yang tidak jauh berbeda juga terjadi pada penambangan pasir di kawasan lindung Gunung Tampomas, Sumedang.

Menurut praktisi dari Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda, Supardiono Sobirin, gunung yang merupakan sumber air warga Sumedang itu dieksploitasi membabi buta sehingga urat-urat sumber airnya hancur.

Di Bandung Utara, peralihan fungsi lahan konservasi seluas 38.548 hektar juga melahirkan sejumlah konflik. ”Dalam tahun 2011 sudah ada 720 kasus sengketa lahan dengan masyarakat, 19 orang sudah dikriminalisasikan,” kata Direktur Eksekutif Walhi Jawa Barat Dadan Ramdan. Terakhir, korban kriminalisasi itu menimpa Aceng Satyadarmawan yang dituduh menyerobot lahan pengembang.

Perum Perhutani tidak luput dari sorotan Walhi. Pertengahan Januari, Perhutani dilaporkan ke Polda Jabar atas dugaan penyalahgunaan kawasan hutan menjadi pertambangan timah hitam di wilayah Resor Pemangkuan Hutan Bogor. Walhi khawatir, dengan tren ini, hutan sebagai penyangga utama kehidupan di Jabar kian menyusut. (REK/NIK/CHE/SEM/MHF/ELD/HEI/DMU)

Sumber berita: Kompas 05 Februari 2013

Foto: Kompas.com

Depan | RSS 2.0 | Kategori: Kliping Media | Tags: , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply