Kepunahan Jauh Lebih Cepat: Konservasi Tumbuhan Melalui Kebun Raya Daerah

7 - Feb - 2013 | adplus

Jakarta, Kompas - Maraknya pengalihan fungsi hutan membuat kepunahan berbagai jenis tumbuhan jauh lebih cepat dibandingkan dengan kegiatan riset untuk mengetahui manfaatnya. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mendorong penyelamatan melalui pembuatan kebun raya di daerah.

”Kecepatan menggali manfaat dari keanekaragaman tumbuhan sangat lambat. Dibutuhkan penyelamatan sebelum terjadi kepunahan yang jauh lebih cepat,” kata Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Mustaid Siregar, Rabu (6/2), di Bogor.

Indonesia dengan luas daratan 1,3 persen dari luas daratan dunia, diperkirakan menyimpan lebih dari 27.500 jenis (sekitar 10 persen) tumbuhan berbunga di dunia. Namun, hingga saat ini, baru sekitar 6.000 jenis yang diketahui potensi dan manfaatnya.

Pada periode 2000-2005, laju perusakan hutan mencapai 1,1 juta hektar per tahun. Tidak sedikit jenis tumbuhan ataupun satwa endemis menjadi punah atau rentan punah.

Peneliti utama Pusat Penelitian Biologi LIPI Endang Sukara mengatakan, kekayaan biodiversitas menjadi ladang penelitian mendasar yang bisa bermanfaat bagi kesejahteraan umat manusia. Sebagai contoh, penelitian biodiversitas mikroorganisme yang sangat diperlukan untuk menggantikan bahan antibiotika yang sudah resisten.

Kebun raya daerah

Mustaid mengatakan, sekarang disiapkan pembangunan 21 kebun raya daerah untuk penyelamatan tumbuhan endemis rentan punah di sejumlah daerah. Empat kebun raya yang dikelola LIPI membuktikan, keberadaannya tidak menimbulkan masalah bagi masyarakat ataupun pemerintah daerah.

”Kebun raya sebagai tempat konservasi tumbuhan, sekaligus dapat bersinergi untuk pembangunan sosial ekonomi masyarakat,” katanya.

LIPI mengelola Kebun Raya (KR) Bogor, KR Cibodas, KR Purwodadi, dan KR Eka Karya Bali. Dari 21 kebun raya, ada 12 kebun raya masuk tahap pembangunan fisik berupa pengumpulan koleksi ataupun pembangunan infrastruktur pendukung.

Ke-12 kebun raya tersebut meliputi KR Baturraden, KR Balikpapan, KR Enrekang, KR Kuningan, KR Samosir, KR Katingan, KR Lombok, KR Liwa, KR Pucak, KR Jambi, KR Parepare, dan KR Cibinong.

Sebanyak lima kebun raya masuk tahap pembangunan fisik tahun 2013, yaitu KR Minahasa, KR Banua Kalimantan Selatan, KR Sumatera Selatan, KR Sambas, dan KR Wamena. Empat kebun raya lain direncanakan mulai dibangun tahun 2014, yaitu KR Batam, KR Solok, KR Kendari, dan KR Danau Lait.

”Ada dua kebun raya yang akan dikelola LIPI, yaitu Wamena dan Cibinong. Selebihnya, dikelola pemerintah daerah masing-masing,” kata Mustaid.

Pada tahun 2025, ditargetkan Indonesia memiliki 45 kebun raya. Menurut Mustaid, jumlah ini sebenarnya masih terlampau sedikit dibandingkan dengan negara-negara lain.

Mustaid mencontohkan, China memiliki 138 kebun raya, Australia memiliki 128 kebun raya, Amerika Serikat memiliki 134 kebun raya. Dibandingkan dengan India pun, Indonesia masih kalah jauh. India memiliki 125 kebun raya. (NAW)

Sumber berita: Kompas 7 Februari 2013 hlm. 13

 

Depan | RSS 2.0 | Kategori: Kliping Media | Trackback | 0 Comments

Leave a Reply