Menyemai Wiji Tukul

20 - Feb - 2013 | Mokh Sobirin

Minggu yang lalu Saya dan beberapa teman dari Pati mendapat undangan dari Pak Joko Bibit, sebagai koordinator acara, untuk datang dalam rangkaian pementasan teater dan pembacaaan puisi di sanggar yang berada di tanggul kali Tanggul Budaya Solo. Saya bukanlah penulis sastra apalagi teater, tapi melalui tulisan ini saya ingin membagi pengalaman saya sebagai penonton acara yang inspiratif ini.

——–

Poster dengan latar putih bergambar tangan-tangan merah terkepal menjulang tertempel di dinding kayu. Sebuah kalimat berwarna merah tertulis di bawah lukisan, “Hanya ada satu kata: Lawan”. Sebuah kalimat dari sang penyair fenomenal, Wiji Thukul, yang begitu populer di kalangan aktivis dan demonstran di akhir masa Orde Baru. Malam itu di sanggar Komunitas Tanggul Budaya yang terletak di kampung Dawungwetan sedang menggelar gawe pementasan Gaul Sastra #9 “Mengeja Wiji Thukul”.

Wiji (biji) thukul (tumbuh), begitulah terjemahan kata per kata dari nama sang penyair fenomenal yang begitu populer di akhir era Orde Baru. Populer di mata para aktivis sebagai penggugah semangat, juga populer di kalangan aparat pemerintah yang alergi dengan segala macam kritikannya. Dilahirkan di Sorogenen dengan nama Wiji Widodo, riwayat kepenyairannya terus tumbuh seiring dengan semangatnya menyuarakan keprihatinannya terhadap nasib buruh. Pengalamannya bersinggungan langsung dengan pekerjaan sebagai penjual koran, calo karcis bioskop hingga tukang pelitur perusahaan mebel menjadi bahan bakar karya puisinya. Tak jarang ia harus berhadapan dengan tindakan represif yang lazim terjadi kala itu. Ia menjadi begitu fenomenal dengan puisi-puisi pemberontakannya, dengan diksi yang sederhana ia mampu menceritakan bagaimana kisah perjuangan hidup kaum buruh di era Soeharto.

Saiful Hajar, penyair yang juga teman dari Wiji Thukul, malam itu menceritakan bagaimana keberanian Thukul tak hanya ditunjukkan dalam berpuisi melainkan juga dalam pilihan-pilihan keputusan yang tak jarang menantang penguasa saat itu. Seperti saat ia memutuskan untuk pemberian penghargaan yang diberikan oleh petinggi ABRI untuk memperingati hari ABRI saat itu. Malam itu Saiful Hajar membacakan sebuah puisi Wiji Thukul berjudul “Tikar Plastik Tikar Pandan”. Sebuah puisi yang begitu menggelitik posisi politik kita untuk memilih nyaman dengan kemewahan duduk di tikar plastik atau meresapi kesederhanaan duduk di tikar pandan.

Kenangan tentang sosok Wiji Thukul juga dikisahkan oleh sang adik, Wahyu Susilo. Ia menceritakan bagaimana Wiji adalah sosok yang kukuh dalam pendirian dan sangat sabar. Tutur katanya begitu lembut dan lugas ketika mengomentari apa yang dilakukan Wahyu. Dalam ingatan Wahyu, Thukul pernah marah dengannya suatu saat ketika ia memilih mengadakan pementasan musik rock di kampus daripada memikirkan persoalan kaum miskin yang ada di luar kampus. “Bahkan ketika marah pun kakak Saya bersuara lembut,” kenang Wahyu. Dalam sesi diskusi malam itu Wahyu menceritakan bagaimana perjuangan keluarga untuk mencari kejelasan nasib Wiji Thukul yang hilang atau dihilangkan dalam peristiwa 27 Juli 1998.

Acara yang digagas oleh Komunitas Tanggul Budaya Solo ini menghadirkan banyak seniman untuk secara sukarela datang dan mengeja sosok Wiji Thukul melalui karya. Satu-persatu kelompok maupun perorangan membacakan puisi Wiji Thukul atau teater yang terinspirasi dari puisi Wiji Thukul. Tak hanya dari Solo, tercatat teater Margin dan Teksas (Purwokerto), Teater Getar (Salatiga) dan teater Zenith (Pekalongan) menampilkan karya yang terinspirasi dari puisi-puisi Thukul. Seperti teater Peron dari Solo yang mementaskan lakon yang terinspirasi dari puisi berjudul Suti. Letupan emosi dari setiap penampil malam ini mengingatkan kita tentang berbagai persoalan-persolan sosial yang coba digugat oleh penyair peraih Yap Thiam Hien Award ini melalui puisi-puisinya yang telah dibukukan dalam sebuah buku kumpulan puisi berjudul: Aku Ingin Jadi Peluru.

Sosok Wiji Thukul coba dihadirkan melalui karya fotografi manual-digital karya Andreas Iswinarto dengan tajuk “hanya satu kata:- lawan”. Pembacaan puisi menjadi bagian dari penghargaan para seniman untuk menghargai karya-karya sang penyair fenomenal. Tak kurang belasan penyair datang di acara yang diadakan di pinggir Kali Tanggul Budaya Solo ini. Pembaca yang hadir malam itu antara lain Landung Simatupang, Yanusa Nugroho (Jakarta), Yacinta (Australia), mbah Hardo (Ngawi), Abdi Munif (Jepara), Agus R Subagio (Nganjuk), Muh Ali (Gresik), Roosdina (Surabaya) dan lain-lain. Walaupun tak semua pembaca memiliki pengalaman berinteraksi dengan Wiji Thukul, tetapi mereka sepakat untuk terus mengenang keberanian Thukul melalui apresiasi puisinya.

“Menghidupkan” Wiji Thukul

Lalu apakah perjuangan Thukul hanya cukup untuk dikenang dan diperingati saja? Jelas tidak cukup. Begitu kata Gunritno, sedulur sikep dari Pati yang malam itu membacakan puisi Wiji Thukul berjudul “Ucapkan Kata-katamu”. Dalam pandangannya, apa yang dilakukan oleh Wiji Thukul tak cukup hanya diperingati tetapi seharusnya menjadi ucapan yang menuntut janji untuk dinyatakan dalam sebuah perbuatan. Perbuatan untuk memecahkan sekian persoalan yang melilit kaum yang dibela oleh Wiji Thukul. Menurutnya seniman harus bisa menyuarakan apa yang seharusnya disuarakan dengan cara dan laku kesenimanannya. Dalam sesi diskusi bersama Slamet Gundono, Gun, panggilan akrab Gunritno, menceritaka bagaiaman persoalan yang dihadapi oleh masyarakat Kendeng Utara yang sedang mengalami ancaman pembangunan pabrik semen sekaligus juga mengajak para seniman yang hadir malam itu untuk mendukung gerakan penyelamatan lingkungan ini.

Keberpihakan menjadi barang mahal dalam jagat seniman saat ini. Seperti yang dikatakan Ki Slamet Gundono yang juga menjadi salah satu pembicara dalam diskusi malam itu. Banalitas ekspresi kesenian yang harus melayani sistem industri media dan politik yang dangkal semakin menjerat para seniman untuk tidak bebas menyatakan keberpihakannya pada mereka yang tertindas. “Jangan berharap pada kami generasi seniman tua”, kata Kang Gundono. Harapan untuk menjadikan kebudayaan sebagai dengan problem sosial masyarakat kelas bawah ada di bahu para seniman muda yang belum terjebak pada jeratan sistem saat ini. “Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk keluar dari sistem, dan itu yang sedang saya kumpulkan”, kata Kang Gundono. Lalu apa tawaran untuk memecahkan jalan buntu persoalan posisi seniman dan persoalan sosial saat ini?

Hari telah mendekati tengah malam ketika beberapa sosok muda mudi berpakaian hitam membopong mayat berkafan menuju tanggul yang malam itu menjadi panggung pertunjukan. Dengan diiringi nyanyian a la gregorian dari Dindon dan lengkingan tembang dari Kang Gundono, rombongan pembawa “mayat” itu menaiki panggung. Seorang anak kecil tiba-tiba berlari mengikuti rombongan pembawa jenazah sambil menangis dan memanggilmanggil ayah dan ibunya yang mati.

Kekagetannya bertambah ketika muncul rombongan lain yang juga menggotong mayat berkafan putih. Seorang anak kembali berlari ke ats panggung sambil memanggil ayah ibunya yang mati. Dua bocah itu salig bershutan memanggil-manggil ayah dan ibunya. Seakan saling coba menerjemahkan, satu bocah menggunakan bahasa Jawa sedangkan yang lain menggunakan bahasa Indonesia. Dua bocah ini menjadi narator berbagai persoalan yang dihadapi manusia saat ini dengan kematian sebagai muaranya, apapun strata sosial yang ditempati. Di tengah dialog dua bocah itu rombongan pengusung mayat memainkan dialognya sendiri dengan meneriakkan bunyi pasal 34 dan 33 UUD 1945 berulang kali. Seakan juga menyangsikan kebenaran pasal yang telah diucapkan berulang kali, bantahan tentang kebenaran pasal-pasal yang menjamin keadilan sosial bagi mereka yang tertindas ini juga diteriakkan oleh salah satu pengusung mayat. Slogan yang terbantahkan oleh realitas berbagai persoalan yang lagi-lagi harus diterima oleh mereka yang berada di pinggiran sistem sosial, ekonomi dan politik negara Pancasila ini.

Suasana pilu berubah menjadi marah ketika ternyata kafan yang diusung oleh rombongan berbaju hitam adalah bambu runcing. Penyesalan dan rasa sedih yang mengumpul membentuk dua buah gunung kemarahan yang harus meletus dan mengeluarkan remaja-remaja yang membawa bambu runcing sebagai laharnya. Gerak bambu dan teriakan amarah membawa penonton hanyut dalam gelombang kemarahan ini. Kemarahan yang harus hadir ketika kesewenang-wenangan dari para pemimpin tak dapat lagi ditolerir. Gerak ritmis bambu runcing dan teriakan tekad untuk melakukan perlawanan dari para pengusung mayat menjadi penutup dari pementasan teater berjudul “Benih yang tumbuh” ini.

Joko Bibit, salah seorang anggota Komunitas Tanggul Budaya, yang juga sutradara pementasan ini dalam obrolan dengan penulis mengatakan bahwa naskah dan pementasan teater ini terinspirasi oleh perjuangan yang dilakukan oleh warga di Pegunungan Kendeng Utara dalam melindungi kelestarian alamnya. Ia mengatakan bahwa apa yang disampaikan lewat pementasan teater ini merupakan tawaran konseptual yang diajukan untuk memecahkan banyak persoalan saat ini. Persoalan yang seharusnya bisa dipecahkan melalui jalan kebudayaan dengan terlebih dulu menyemai bibit yang akan selalu tumbuh untuk menyuarakan ketidakadilan.

Sebagai penutup tulisan ini, saya menulis ulang sebuah puisi Wiji Thukul yang berjudul “Tikar Plastik Tikar Pandan”

Tikar plastik tikar pandan
Kita duduk berhadapan

Tikar plastik tikar pandan
Lambang dua kekuatan

Tikar plastik bikinan pabrik
Tikar pandan dianyam tangan

Tikar plastik makin mendesak
Tikar pandan bertahan
Kalian duduk di mana?


Mokh Sobirin, peneliti Desantara Foundation

Depan | RSS 2.0 | Kategori: artikel | Tags: , , , , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply