Oven dan mimpi seorang petani

26 - Feb - 2013 | Mokh Sobirin

Malam itu Sunar dan beberapa teman duduk di teras rumah. Menikmati malam sambil menikmati suguhan kopi dan cerita-cerita keseharian di tengah kepulan asap rokok. Pertanian menjadi bahan obrolan yang menarik malam ini. “Ya panen kali ini aku masih bisa mengambil gabah di sawah mas, biarpun sedikit” katanya mengawali cerita. Panen padi kali ini terhitung sukses bagi petani desa Tobong, kecuali Sunar, petani dengan beberapa petak lahan di pinggiran tanggul Kali Tus, yang harus berhadapan dengan keganasan tikus.

Petualangan Sunar dimulai sejak ia mulai menanam padi di awal musim tanam. Sehari setelah benih padi telah ditanam, serangan tikus pada batang padi muda memaksanya harus bekerja ekstra keras. Tak jarang ia harus menanam kembali benih padi untuk menggantikan padi-padi muda yang telah mati, itupun kalau curah hujan masih memungkinkan. Berbagai “peralatan tempur” juga disiapkan Sunar dan kawan-kawannya, mulai dari memagari sawah dengan aliran listrik, memagari dengan mika, sampai memagari lahan dengan seng. Cara yang terakhir ini hanya menjadi mimpi bagi petani kecil seperti Sunar karena harga seng yang mencapai jutaan rupiah.

Ketika padi mulai berusia lebih dari tiga minggu, Sunar dan seorang anak lelakinya hampir tak pernah di rumah. Mulai dari pagi hingga sore ia berada di sawah untuk menghalau tikus mendekati sawahnya. Hanya sore hari waktu yang dimiliki untuk pulang dan menikmati makan malam bersama istri dan keempat anaknya yag lain sebelum ia kembali ke sawah. Acapkali ia berpesan kepada anaknya‘Nak, jalani saja apa adanya. Sebagai petani kita hanya bisa menanam dan merawat tanaman kita. Tapi jangan sekali-kali berharap kita bisa panen. Kalaupun kita bisa panen ya itu rejeki kita, kalau tidak ya dinikmati saja,” katanya. Ya, hanya pasrah yang bisa dilakukan Sunar setelah semua usaha dilakukan.

Gabah yang tumbuh. Foto: Suyudi


Kini, ketika ia bisa membawa beberapa belas karung gabah ke rumahnya muncul harapan untuk bisa menjual gabah sebagai pengganti modal saat menanam kemarin. Benar kata Sunar, harapan menjadi barang mahal bagi petani kecil sepertinya. Harapan tinggallah harapan, kini Sunar kesulitan menjual gabahny karena susah megeringkan gabah. Hujan yang masih saja turun membuat ia dan petani di desanya kesulitan mendapatkan panas matahari yang cukup untuk menjemur. Bahkan sampai-sampai gabah yang disimpan telah berkecambah karena terlalu lama di ruangan yang lembab. Andai kata dijual, petanipun merugi karena harga gabah yang anjlok. Dari sekiar Rp. 420/kg beberapa minggu lalu menjadi hanya sekitar Rp. 150/kg. “Lebih baik dimakan sendiri daripada dijual dengan harga itu. Harga segitu sama juga dengan melecehkan petani,” kata Sunar sambil tersenyum pahit. Cerita getir di tengah mahalnya harga beras di pasaran.

Struktur perdagangan yang terjadi memposisikan petani bukan pada posisi yang menentukan harga gabah karena posisi iini sudah diisi oleh para tengkulak. Menurut Gemi, seorang pedagang beras, susahnya mengeringkan gabah dalam jumlah besar memaksa mereka untuk menanggung ongkos penyimpanan gabah yang sudah dibeli dari petani. Kadar air yang relatif tinggi juga membuat proses pengeringan menjadi lebih lama sehingga menyebabkan bertambahnya ongkos jasa pengeringan. Dengan alasan ini lah para tengkulak ini bernegosiasi dengan petani seperti Sunar yang terkadang harus mau menjual gabah dengan harga rendah untuk menutup kebutuhan sehari-hari.

Sebuah bencana bagi petani jika tak bisa mengeringkan padi karena itu berarti mereka tidak bisa menjualnya dalam bentuk gabah atau beras. Satu-satunya harapan bagi mereka adalah sebuah mesin pengering, atau yang biasa disebut oven. Mesin yang bekerja dengan menggunakan panas dari briket, arang kayu ataupun gas elpiji ini mampu mengeringkan gabah meskipun di dalam ruangan. Efektivitas penggunaannya pun bisa diandalkan. Namun persoalan harga yang tinggi membuat petani kecil seperrti Sunar harus berpikir berkali-kali untuk membelinya. Alat yang di pasaran di banderol mulai harga empat sampai dua puluh jutaan ini tentunya bukan barang yang murah untuk petani kecil seperti Sunar dan teman-temannya. Adakah jalan bagi Sunar?

Berserikat, itulah salah satu jawaban untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi oleh petani. Penting untuk para petani seperti Sunar untuk menghimpun diri dalam sebuah kolektif di ruang setingkat desa untuk pengadaan barang produksi pertanian. Menghimpun diri dalam sebuah serikat petani menjadi pilihan penting untuk meringankan beban seperti pengadaan oven pengering ini. Walaupun bukan kisah sukses, kita ingat bagaimana gerakan Koperasi Unit Desa (KUD) menjadi masa awal diperhitungkannya kemampuan desa sebagai katalisator berbagai potensi lokal untuk menghadapi persoalan pertanian di tingkat desa. Saat ini, kita hampir tak bisa lagi menggantungkan harapan pada kelompok tani “plat merah” yang lebih banyak digunakan untuk kepentingan partai dan keroyokan dana bantuan.

TV 14” di rumah Sunar memaksanya untuk lebih pasrah. Ya, lewat TV itu lah hampir setiap hari ia melihat berita berbagai kasus korupsi benih, pupuk sampai yang terbaru adalah korupsi daging sapi di kementerian pertanian. Miris rasanya menggantungkan harapan pada kementerian yang korup untuk mengurusi nasib petani yang menjadi mayoritas di negara, yang katanya, agraris. Dalam hati hanya bisa berkata, “Sabar ya Kang Sunar. Mungkin nasibmu akan membaik saat keadilan agraria menjadi nyata. Atau saat sawahmu telah hilang dan berganti pabrik atau lahan tambang. Atau ketika negara sudah tunduk sepenuh pada WTO dan kamu bisa memakan sayuran impor. Atau nanti saat kau telah memiliki sebuah oven pengering”.

Mokh Sobirin, Peneliti Desantara Foundation

Depan | RSS 2.0 | Kategori: artikel | Tags: , , , , , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply