TANAH AIR: Naga Tidur, Penjaga Keseimbangan Kendeng

2 - Mar - 2013 | Hendriyo Widi

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Seniman yang tergabung dalam kelompok seni barongan Gembong Samijoyo mementaskan lakon “Ngrungkeping Bumi Pertiwi” di Desa Bangkle, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Selasa (26/2). Kesenian ini berkembang di sekitar lereng Pegunungan Kendeng dan menjadi cerita tutur masyarakat setempat tentang keseimbangan alam lingkungan.


Oleh HENDRIYO WIDI

Puluhan anak bertopeng naga dan barongan bermain di antara batu kapur dan pepohonan jati di lereng Pegunungan Kendeng Utara, Desa Gandu, Kecamatan Bogorejo, Blora, Jawa Tengah. Sesekali, wajah topeng mereka berhadapan dan diadu.

Yang terdesak lalu

bersembunyi untuk mengatur strategi dan melawan kembali. Tak jarang mereka menari-nari sambil menggerakkan mulut topeng kayu hingga terdengar tak-tak-tak…. Itulah salah satu permainan tradisional nagaraja dan barongan di kawasan itu.

Permainan itu menunjukkan pertarungan naga atau nagaraja dan singa barong, yang merupakan mitos masyarakat di lereng Pegunungan Kendeng Utara. Mereka meyakini pegunungan yang membentang mulai dari Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, hingga Kabupaten Tuban, Jawa Timur, merupakan nagaraja yang tengah tidur. Sementara hutan-hutan jati di sekitar pegunungan itu dijaga singa barong, sang raja hutan. Mereka akan marah jika keseimbangan alamnya terusik.

Pabrik semen

”Kalau Pegunungan Kendeng terus diusik, nagaraja akan bangun dan menghakimi mereka yang merusak tempat tinggal tersebut. Begitu pula jika hutan dijarah habis-habisan, singa barong akan mengejar penjarahnya. Demikian pesan pelestarian alam yang dikisahkan turun-temurun. Sayangnya, kisah itu jarang terdengar dan bergaung lagi,” tutur seniman patung kayu dan batu Pegunungan Kendeng Utara, Punky Adi Sulistyo (42), di Blora, Selasa (26/2).

Pesan pelestarian alam itu kini muncul karena Pegunungan Kendeng Utara merupakan ruang yang menghidupi masyarakat di kawasan pegunungan kapur dan karst, yang menyimpan potensi alam sangat besar, terutama air. Namun, sebagai ruang hidup masyarakat, kawasan itu telah terusik menyusul munculnya rencana pembangunan pabrik semen dan penambangan batu gamping dan kapur berskala besar di kawasan itu.

”Naga dan singa barong itu sekarang tak lagi berupa mitos dan simbol keseimbangan lingkungan, tetapi mencerminkan masyarakat Pegunungan Kendeng Utara yang menjaga keseimbangan alam,” kata aktivis Lembaga Kajian Budaya dan Lingkungan Pasang Surut Blora, Eko Arifianto.

Potensi Pegunungan Kendeng Utara itulah yang jadi alasan sebagian besar masyarakat untuk mempertahankan tanah air sumber hidup mereka sebagai ruang kehidupan abadi.

Ribuan tahun lalu

Geolog Belanda, RW van Bemmelen, dalam The Geology of Indonesia (1949), yang membagi fisiografi Pulau Jawa, menyatakan, Pegunungan Kendeng Utara merupakan bagian dari Zona Rembang, yaitu kelompok perbukitan yang terbentuk oleh struktur lipatan dengan arah sumbu lipatan barat daya-timur laut. Zona Rembang didominasi endapan laut berumur tersier dan terkenal dengan lapangan minyaknya yang beroperasi sejak abad ke-20.

Di pegunungan itu terdapat kawasan karst Sukolilo yang membentang di bagian utara Provinsi Jawa Tengah seluas 19.472 hektar, meliputi Kabupaten Blora 45,3 hektar, Kabupaten Grobogan 721 hektar, dan Kabupaten Pati 11.802 hektar.

Karena tergolong sebagai pegunungan kapur dan karst, Pegunungan Kendeng Utara berfungsi sebagai daerah tangkapan, imbuhan, dan kantong air. Di kawasan itu terdapat goa-goa air, sungai bawah tanah, dan mata air-mata air yang menjadi sumber hidup masyarakat. Air kemudian dimanfaatkan sebagai bahan baku air minum, mandi-cuci-kakus, dan pertanian.

Warga juga mengalirkan air itu ke permukiman dengan sistem pemipaan dan mengalirkan ke persawahan dengan sistem irigasi alam atau mengikuti alur atau jalan-jalan air yang terbentuk secara alami.

Tokoh Sedulur Sikep Pati atau pengikut ajaran Samin Surosentiko (1859-1914), Gunretno, mengatakan, kawasan karst Sukolilo menjadi tempat penelitian ahli geologi dan speleologi. Salah satu lembaga yang meneliti kawasan itu sejak 1994-1996 adalah Acintyacunyata Speleological Club (ASC) Yogyakarta.

Hasilnya, di Pegunungan Kendeng Utara Grobogan terdapat 49 mulut goa dan 33 mata air permanen. Tim ASC juga memetakan dua sistem sungai bawah tanah yang memiliki jaringan hidrologi terpisah, yaitu sistem Urang-Kembang dan Pakel-Ngeposan.

”Di Pati, ASC bekerja sama dengan masyarakat Sukolilo dan Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Yogyakarta, menjumpai 79 mata air dan 24 mulut goa. Mata air yang ditemukan adalah mata air karst yang bersifat permanen atau mampu mengalirkan air sepanjang musim,” kata Gunretno.

Di antaranya Goa Pancur di Desa Jimbaran, Kecamatan Kajen, Pati, yang bisa dimanfaatkan sebagai wisata jelajah goa. Goa sepanjang 800 meter itu salah satu lokasi mengalirnya sungai bawah tanah dengan stalaktit dan stalakmit yang indah.

Dengan sumber air tawar yang baik, sejak ribuan tahun lalu, Pegunungan Kendeng Utara pun jadi tempat tinggal manusia. Waktu itu, kawasan sekitar pegunungan masih berupa rawa air payau dan laut. Selain potensi air, karst yang awalnya tertutup hutan juga berfungsi sebagai habitat flora dan fauna.

Dari pendataan awal Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng di Kecamatan Tambakromo, Kajen, dan Sukolilo, kawasan ini juga kaya tanaman yang bermanfaat. Di sana juga tumbuh sejumlah fauna yang menjaga keseimbangan ekosistem alam. Wajar, dengan potensi seperti itu, masyarakat dengan berbagai cara menentang gangguan keseimbangan alam Pegunungan Kendeng.

Sumber: Kompas 02 Maret 2013 hlm. 1

Depan | RSS 2.0 | Kategori: artikel | Trackback | 0 Comments

Leave a Reply