TANAH AIR: Semen Menghantui Kendeng Utara…

2 - Mar - 2013 | adplus

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Warga merawat tanaman padinya di sekitar lereng Pegunungan Kendeng, Desa Jimbaran, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Senin (25/2). Hingga saat ini, mereka terus mempertahankan lahan pertanian di sekitar lereng Pegunungan Kendeng yang rencananya akan dieksploitasi untuk industri semen. Kawasan Pegunungan Kendeng menyimpan puluhan sumber mata air yang dimanfaatkan sebagai sumber air bersih dan untuk irigasi pertanian.

Oleh HENDRIYO WIDI

Sujono (50), petani dari Desa Jimbaran, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, selalu bersyukur. Sawah seluas 4 hektar miliknya selalu membuahkan hasil serta bisa ditanami tanaman pangan dan buah setiap musim tanam.

Pada musim tanam pertama tahun ini, Sujono bisa memanen gabah kering panen sekitar 12 ton per hektar. Pada musim tanam ketiga tahun lalu, dia panen jagung 8 ton per ha. Tanahnya menghasilkan semangka pula hingga Rp 60 juta per tahun.

”Semuanya berkah dari air Goa Pancur di lereng Pegunungan Kendeng Utara yang selalu mengalir tidak kenal musim,” kata Sujono, di Pati, pekan lalu.

Parjan (56), warga Desa Keben, Kecamatan Tambakromo, Pati, juga bersyukur atas kelimpahan air dari Kendeng Utara. Selain untuk mengairi sawah, air di lima mata air di Desa Keben juga dialirkan ke permukiman dengan pipa untuk memenuhi kebutuhan warga sehari-hari.

Di Sendang Lanang, misalnya, dua sumber air di bawah pohon beringin dan randu hutan dimanfaatkan sekitar 200 keluarga Desa Keben. Mereka memasang pompa air di sendang yang tak pernah kering dan mengalirkan dengan pipa menuju ke rumah warga. Di Kabupaten Grobogan, manfaat air Pegunungan Kendeng Utara juga dirasakan masyarakat. Di Desa Kemadohbatur, Kecamatan Tawangharjo, misalnya, terdapat 15 mata air permukaan.

Kepala Desa Kemadohbatur Ignatius Adi Winarno mengatakan, mata air itu dimanfaatkan oleh sekitar 1.200 keluarga untuk keperluan sehari-hari. Mata air itu juga untuk mengairi sekitar 1.600 ha sawah warga. Belasan mata air itu juga dimanfaatkan warga di sembilan desa lain di Kecamatan Tawangharjo untuk mengairi sawah mereka.

Di Kabupaten Blora, air Pegunungan Kendeng Utara menjadi sumber air Sungai Lusi yang mengalir hingga Grobogan. Di Desa Gandu, Kecamatan Bogorejo, terdapat sejumlah mata air, seperti mata air Cerawa, Cemplung, Blimbing, dan Panasan. Namun, sumber air kini terancam penambangan gamping, bahan baku semen, yang berada di Kabupaten Rembang. Wilayah tambang bahan baku semen itu di Kecamatan Sale, Gunem, dan Bulu yang berbatasan dengan Pegunungan Kendeng Utara di Blora.

”Kami khawatir jika di kawasan Pegunungan Kendeng Utara ada pabrik dan tambang bahan baku semen dalam skala besar, lingkungan menjadi rusak,” kata Sujono.

Investasi semen

Pegunungan Kendeng Utara memiliki cadangan batu kapur, materi utama bahan baku semen. Data Balai Energi dan Sumber Daya Mineral Wilayah Kendeng Muria menunjukkan, cadangan batu gamping di Grobogan, Pati, Blora, dan Rembang sebesar 9.994,5 juta ton.

Hal itu membuat sejumlah perusahaan semen tertarik berinvestasi di Pati, Blora, Grobogan, dan Rembang. Perusahaan yang mengincar pegunungan kapur itu, antara lain, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, PT Sahabat Mulia Sakti, PT Vanda Prima Listri, dan PT Solusi Mortar Pratama. PT Semen Indonesia mengincar wilayah Kecamatan Sukolilo di Pati, beberapa tahun lalu. Sekarang, perusahaan yang semula bernama PT Semen Gresik itu telah mengantongi izin pembangunan pabrik dan menambang bahan baku semen di Rembang.

PT Sahabat Mulia Sakti meminati pegunungan kapur di wilayah Kecamatan Kayen dan Tambakromo, Pati. PT Vanda Prima Listri mengincar wilayah Kecamatan Ngaliyan, Grobogan. PT Solusi Mortar Pratama mengingini wilayah Kecamatan Jepon, Blora.

Niat investasi itu, terutama di Pati, Blora, dan Grobogan, selalu ditolak masyarakat. Para penolak beralasan penambangan kapur dapat menghancurkan keseimbangan alam dan keberlangsungan mata pencarian. Mereka khawatir penambangan bahan baku semen itu bisa merusak sumber air. Mata pencarian mereka sebagai petani pun akan memudar.

Penolakan masyarakat itu kurang mendapat dukungan dari pemerintah daerah setempat. Pemerintah daerah terkesan lebih mengedepankan peningkatan ekonomi dan pendapatan asli daerah melalui investasi. Bahkan, sejumlah peraturan dibuat untuk mendukung hal itu, terutama dalam peraturan tentang rencana tata ruang wilayah.

Dalam peraturan itu, Pegunungan Kendeng Utara masuk dalam kawasan industri dan sekaligus kawasan lindung-konservasi. Untuk melindungi kawasan konservasi, terutama di Rembang, pemerintah kabupaten mengurangi luasan lahan tambang bahan baku semen.

Ketua Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah Kabupaten Rembang Hamzah Fatoni mengatakan, PT Semen Indonesia membutuhkan lahan tambang seluas 1.500 hektar. Namun, setelah dikurangi lahan di daerah resapan dan imbuhan air, Pemkab Rembang mengizinkan 900 hektar saja. ”Dari luasan itu, baru 205 hektar lahan yang sudah dibebaskan. Lainnya menyusul,” paparnya.

Perlawanan warga

Hingga kini pertentangan antara warga yang menolak, pemerintah daerah, dan perusahaan semen masih terjadi. Kelestarian lingkungan versus investasi itu juga menimbulkan konflik sosial di masyarakat. Antartetangga dan keluarga ada yang berseberangan karena ada yang mendukung pembangunan pabrik semen dan ada pula yang menolak.

Perusahaan semen pun terus berupaya mendapatkan dukungan masyarakat. Sebuah perusahaan, misalnya, memberikan bantuan pompa air, alat pendeteksi hama, dan menjanjikan studi hidrologi bagi masyarakat Pati.

Di sisi lain, warga yang menolak terus berunjuk rasa dan menggelar studi tandingan. Mereka juga memasang tulisan berisi penolakan di rumah dan lahannya. ”Kami tak akan berhenti mempertahankan tanah kami,” kata Koordinator Lingkar Kendeng Sejahtera, Suyitno.

Sumber: Kompas 02 Maret 2013 hlm. 24.

Depan | RSS 2.0 | Kategori: berita | Trackback | 1 Comment

One Response to “TANAH AIR: Semen Menghantui Kendeng Utara…”

  1. harris says:

    karst kendeng lestarikan pati ktika tiada ditambang

Leave a Reply