Jejak Merusak Para Penelusur Goa: Catatan untuk rencana penelusuran goa

15 - Mar - 2013 | Sunu Widjanarko

Pemanfaatan goa oleh manusia mengalami perkembangan dari tahap satu ke tahap lainnya. Dimulai dengan masyarakat lokal yang memanfaatkan goa untuk berbagai kegiatan seperti berteduh, memanfaatkan aliran air atau bahkan untuk melakukan berbagai ritual sesuai dengan kepercayaan lokal. Penjelajahan sederhana ini kemudian dilanjutkan dengan penjelajahan yang lebih terencana oleh para speleologiwan yang memiliki pengetahuan lebih dalam tentang teknik-teknik speleologi. Begitu keindahan dalam goa diketahui dan dikabarkan ke banyak orang, goa berubah menjadi tempat tujuan rekreasi dengan penelusuran goa (caving) sebagai salah satu aktivitasnya. Tak ketinggalan pula berbagai kegiatan riset spesifik yang dilakukan oleh para ilmuwan.

Berbagai kegiatan pemanfaatan goa yang pada awalnya mungkin ditujukan untuk mengeskpresikan kecintaan pada alam goa ini ternyata menimbulkan efek negatif pada goa. Penipisan sumber daya fisik dan biologi menjadi hal yang paling terjadi dalam ekosistem goa, terutama pada goa-goa yang tergolong baru ditemukan atau oleh para speleologiwan sering disebut sebagai “goa perawan”. Jika hal ini yang terjadi maka kemudian diperlukan tindakan-tindakan konservasi untuk bisa menyelamatkan keberadaan ekosistem goa yang telah rusak.

Kerusakan Goa
Semua pengunjung goa memiliki dampak pada goa itu sendiri dan biologi yang dikandungnya. Kita semua bersalah, saat tertentu, sengaja atau tidak penelusuran kita menyebabkan degradasi terhadap goa tertentu, Sayangnya bahwa dokumentasi mengenai pengaruh dari caving rekreasi terbatas pada pengamatan yang kecil saja, sering kali diperoleh sebagai bagian dari penelitian lain. Stit (1977) telah membuat bagan tingkat pengaruh eksternal maupun internal pada goa, sementara Everson et al. (1987) telah menyurvei pengaruh rekreasional di goa-goa Missouri. Tipe khusus dampak goa belantara dipaparkan oleh Gamble (1981) dan Kiernan (1989). Observasi langsung pengaruh goa pada faunanya oleh Tercafs (1988) untuk Belgia, dan Carlson (1993), Crawford dan Senger (1988) dan McCracken (1989) untuk Amerika Serikat. Area ini sangat membutuhkan riset yang sistematis, menyajikan bagan kerentanan ekosistem goa di bab sebelumnya. Hal ini harus menjadi perhatian, bahwa para ilmuwan goa juga menyebabkan dampak yang berarti terhadap lingkungan goa sebagai salah satu bagian dari kegiatan mereka. Termasuk diantaranya adalah terlalu banyak merusak bentukan, terlalu banyak koleksi biota, penggalian atau meninggalkan bekas penggalian tanpa ditimbun lagi, membuat penanda permanen pada lokasi penelitian atau stasiun survey dengan media yang tidak semestinya (cat, label permanen, flagging tape), dan meninggalkan peralatan monitor di dalam goa. Semua ilmuwan telah bersalah dengan melakukan ini semua, besar atau kecil, di dalam kegiatannya tersebut. Pada sebagian besar peraturan dan rencana pengelolaan area dan perlindungan alam, sekarang hal ini tidak dapat diperbolehkan lagi.
Beberapa kerusakan goa yang diakibatkan oleh para penelusur goa, diantaranya:

Rencana pemanfaatan goa harus mempertimbangkan dampak pengunjung terhadap fauna bawah tanah. Dampak secara biologis karena kunjungan goa yang berulang kali, jauh lebih berbahaya daripada pengaruh fisik yang berupa pemadatan sedimen, pengotoran flowstone dan erosi. Banyak binatang goa yang binasa oleh sepatu boot penelusur goa, bahkan mungkin sangking kecilnya binatang dalam goa, para penelusur goa sampai-sampai tidak mengetahui keberadaan binatang-binatang tersebut. Kunjungan berulang kali dapat memadatkan sedimen dan menghilangkan habitat potensial dan dapat menghasilkan peningkatan aliran air serta erosi aliran-aliran kecil di turunan-turunan pada flowstone dan dripstone.
Saat kita melangkah atau memegang ornamen dalam goa, longsoran sedimen akibat dilewati oleh caver (penelusur goa) dapat masuk kedalam air sehingga mencekik fauna atau mahkluk hidup lain yang ada di dalam air tersebut. Sedangkan fauna aquatik ini sangat besar pengaruhnya terhadap ekosistem goa.
Kita ambil contoh saja ketika kita sedang memasuki goa yang “perawan”. Di suatu lorong yang berlumpur tebal (katakanlah lebih dari 30 cm), sehingga jalanpun susah. Dan di lumpur ini seringkali dijumpai fauna terestrial (fauna daratan), sampai berukuran milimeter. Di salah satu atau beberapa bagiannya terdapat saluran air atau parit-parit kecil. Di jalur air ini, biasanya lumpur lebih padat sehingga lebih mudah dilalui. Namun di air ini pula hampir selalu hidup fauna aquatik yang tidak dapat hidup di lumpur disekitarnya, ukurannya pun juga sangat kecil. Jalur mana yang anda pilih untuk melewati lorong ini? Jalur yang pertama kali dilewati oleh penelusur pertama, cenderung untuk diikuti oleh kunjungan berikutnya. Maka, jika anda spesialis goa “perawan”, harap berhati-hati dalam menentukan jalur penelusuran.
Pemadatan sedimen dapat menghasilkan efek sinergi pada goa yang memiliki saluran aliran, sedimen dapat tererosi mengisi kolam-kolam goa yang ada, biota goa dapat tercekik oleh minimnya udara, dan merosotnya tumpukan sedimen pada lorong. Pengaruh dari sepuluh orang dapat lebih dari dua kali pengaruh dari lima orang (Stitt 1977). Saat saya muda, saya salah satu dari lima orang yang memperoleh kesempatan untuk mengunjungi salah satu goa perawan dengan lantai silt yang datar yang kaya dengan material organik kedalam 10 sampai 15 cm. Goa kaya akan fauna invertebrata yang telah dikumpulkan oleh ahli entomologi pada perjalanan ke dua dengan duabelas orang. Setelah perjalanan ke enam sekitar 100 orang telah melihat goa, lantainya sudah memadat, aliran air telah terpusat menjadi parit-parit, dan silt yang porous telah terpadatkan pada area yang luas. Jumlah biota dan kekayaan spesies turun drastis kurang dari satu tahun. Ironisnya goa tersebut sekarang sudah tenggelam di bawah air karena dam suplai irigasi.

Nilai khas dari goa adalah lingkungan yang memiliki energy-rendah dengan sedikit input energi yang melalui masa kegiatan manusia. Masuknya seorang caver akan merubah regim energi, sekalipun sedikit, dari panas, cahaya dan mungkin dari makanan. Pengaruhnya kecil pada batu itu sendiri kecuali jika jumlah pengunjungnya besar, seperti halnya pada goa wisata. Sumber daya goa sesungguhnya adalah tidak terbaharui, dan dampaknya akumulatif, mungkin sinergis (Stitt 1977) dan tidak dapat diubah, sekalipun jika teknologi dan waktu terbawa untuk meyelesaikan salah satu masalah tertentu. Sebagai contoh, penggalian mulut goa dapat ditutup kembali tetapi telah ada perubahan atmosfir goa dan mungkin hidrologinya yang dapat merugikan atau mematikan fauna goa.
Masuknya sumber energi tambahan kedalam goa adalah salah satu cara dimana caver dapat merubah ekosistem goa secara drastis atau pelan-pelan. Sementara, banyak goa yang flora atau faunanya dapat bertahan hidup karena energi yang ada di dalam goa rendah dan konstan. Sebagian lain membutuhkan energi lebih besar. Dan ini bisa terbawa masuk oleh caver.
Caver dapat memanaskan lingkungan goa dengan panas tubuhnya sendiri, sehingga ini menyediakan energi tambahan dari kondisi semula. Di Goa Remouchamps, Belgia, satu rombongan wisatawan terdiri dari 87 orang, telah menaikkan suhu udara goa 1,5°C selama kunjungan lima menit (Merenne-Schoumaker 1975).
Sumber energi tambahan, dapat dihasilkan dari sisa-sisa makanan caver. Disarankan bahwa setiap caver membawa lembaran plastik, dimana caver duduk diatasnya saat dia makan. Di sekitar tubuh caver akan tersebar sisa-sisa atau remah makanan – coklat, biskuit, tetesan – yang mewakili peningkatan ketersediaan energi di dalam goa. Hal-hal ini menjadi tempat yang potensial untuk kolonisasi jamur dan bakteri, atau makanan fauna goa.
Penelusur goa juga harus memilih jenis pakaian yang dikenakan. Sweaters dan jenis lain yang menghasilkan bulu tidak boleh dipakai sebagai pakaian lapis luar. Di lorong yang sempit, pakaian semacam itu akan meninggalkan serabut kecil dan bulu yang asing terhadap lingkungan goa.
Racun
Pembuangan karbit melalui lampu yang biasa dipakai oleh caver berpotensi untuk membunuh fauna goa, terutama goa dengan sistem energi rendah dimana menghasilkan reaksi sisa selama beberapa minggu. Karbit kalsium bereaksi menghasilkan gas asetilene dan kapur. Dan mungkin dapat berisi unsur lain seperti sulfit dan logam tertentu. Senyawa ini dapat terlepas ke aliran goa atau air bawah tanah dan mengotorinya. Di beberapa goa di Taman Nasional Sequoia dan Kings Canyon di Amerika, penelusur goa tidak boleh menggunakan lampu karbit sebagai penerangan.
Disamping itu, di beberapa goa di Taman Nasional tersebut, pengujung juga dilarang membawa segala macam bentuk tembakau. Termasuk rokok, cerutu, tembakau sedot, dan tembakau kunyah yang kemungkinan dibawa oleh para caver.

Beberapa goa memiliki area yang “tidak boleh ada sepatu”, yaitu saat melewati bentukan goa yang lembut. Kaos kaki wool dapat menyebabkan masalah yang sama di area ini dan tidak boleh dipakai sebagai lapisan terluar saat berjalan pada flowstone atau rimstone. Pada goa lain ada yang mengharuskan caver untuk menggunakan boot dengan sol ringan. Kadang jika kita melewati bagian lantai yang halus dan sensitif, jika perlu jalur penelusuran menggunakan lembaran plastik sebagai alas untuk mengurangi kontak langsung dengan lantai.
Selain yang telah dijelaskan di atas, terdapat bpula beberapa pengaruh lain dalam kegiatan caver rekresasional pada goa, antara lain:

  1. Kotoran karbit dan tanda pada dinding
  2. Pemadatan sedimen dan pengaruhnya pada hidrologi dan fauna
  3. Erosi pada permukaan batuan (alur ladder dan tali, secara langsung turun oleh lalulintas kaki)
  4. Awal sumber energi dari lumpur pada pakaian dan sisa makanan
  5. Awal terjadinya polusi air dari kotoran dan urine
  6. Pelebaran mulut goa atau lorong oleh lalulintas atau penggalian
  7. Vandalisme goa dan graffiti

Banyak goa yang seringkali dikunjungi dan tidak memiliki suatu bentuk kontrol akses telah mengalami bentuk-bentuk vandalisme. Mulai dari grafiti sampai perusakan speleothem dan pelebaran lorong secara mekanis. Yang menarik, grafiti kuno menjadi suatu warisan – contoh, tanda-tanda abad delapan belas di Goa Baradla dan Mammoth; pahatan dinasti Sung atau Ming terpahat pada Goa Lung Yin Tung, Guilin, China; dan tanda-tanda era Victoria akhir pada speleothem di atas sebalik syphon Goa Murray, Cooleman Plain, Australia. Pelukis grafiti moderen menggunakan kaleng semprot cat pekerjaan mereka lebih tahan lama hanya dapat dihilangkan dengan deterjen atau cairan pelarut.
Ini adalah beberapa cara untuk membatasi dampak pengunjung pada goa wisata dan goa belantara:

  1. Pengerasan lingkungan untuk menurunkan dampak, dengan pemasangan track, rute jalan dan tanda
  2. Mengurangi permintaan untuk memasuki goa dengan membatasi arus informasi tentang goa dalam mediaMeningkatkan jumlah goa dengan penemuan baru
  3. Mengeksport permintaan ke negara lain yang lebih kaya goa
  4. membatasi akses pada goa dengan membuat pintu dan/ atau ijin
  5. mengurangi dampak pengunjung melalui pendidikan dan membuat peraturan dapak minimal

Semua pilihan tersebut, yang paling akhir mungkin sekali dibuat dalam jangka waktu lama, dan harus melibatkan semua pengguna goa yang dapat diidentifikasi. Pengembangan rencana pengelolaan goa individu oleh speleologiwan adalah cara untuk menjamin perilaku yang bertanggungjawab (Glasser dan Barber 1995) dan menyelenggarakan konsultasi bersama masyarakat dalam proses perencanaan.

Dari paparan di atas dapat didapatkan gambaran bahwa ekosistem goa merupakan ekosistem yang sangat sensitif dan rentan terhadap perubahan sekecil apapun. Bahkan caving yang diniati untuk mengapresiasi keindahan goa pun memiliki efek negatif, apalagi dengan pertambangan yang niatnya memang merusak goa?


Depan | RSS 2.0 | Kategori: artikel | Tags: , , , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply