Harapan di Wungon kedelapan

29 - Mar - 2013 | Rinna Shanty

Selapan (36 hari) sekali warga Pegunungan Kendeng Utara mengadakan sebuah kegiatan bersama, Wungon. Malam itu, tepatnya malam Rabu Pon tanggal 19 Maret 2013, bertempat di Omah Kendeng diadakan Wungon yang kedelapan dengan tema “Panen ora Keduman”. Mengapa diangkat tema ini?

Saat ini nasib petani semakin tidak jelas. Panen, yang seharusnya menjadi saat paling indah bagi petani, kini tidak lagi membahagiakan mereka karena bisa dipastikan harga gabah pasti turun. Situasi ini membuat mereka tidak bisa mencukupi kebutuhan atau hutang-hutang mereka yang menumpuk selama masa tanam. Meskipun tidak semua, kebanyakan petani masih bingung mencari hutang kesana kemari untuk menanam meskipun mereka baru saja panen.  Sedangkan kita semua tahu harga bibit,pupuk kimia dan pestisida semakin tinggi dari tahun ke tahun. Situasi ini kemudian memaksa para petani untuk mencari hutang ke bank,koperasi dan bahkan lintah darat utuk membeli semua kebutuhan pertanian.

Selain tingginya biaya produksi,disisi lain juga tidak adannya kebijakan-kebijakan pemerintah yang benar-benar berpihak kepada petani. Seperti apa yang dikatakan oleh bapak Eko Teguh bahwa ada beberapa kabupaten yang diantaranya yaitu kabupaten Blora dan Grobogan yang berkeinginan untuk memperluas daerah konservasi,tetapi anehnya pemerintah kabupaten Pati justru malah ingin mempersempit daerah konservasi. Oleh karena itu jika rencana tersebut terealisasi maka secara tidak langsung juga akan mempengaruhi sektor pertanian khususnya dikabupaten Pati. Situasi seperti ini membuat banyak sekali anak-anak muda tidak tertarik lagi untuk menjadi petani. Mereka lebih memilih merantau diluar jawa maupun diluar negeri untuk memenuhi kebutuhan hidup.  Acara wungon kali ini dimanfaatkan oleh masyarakat khususnya untuk para petani untuk diskusi bersama-sama sambil mencari pemecahan persoalan petani.

Seperti pada acara-acara Wungon sebelumnya, Wungon kali ini juga dimeriahkan oleh beberapa pertunjukan kesenian, antara lain karawitan Wiji Kendeng yang beranggotakan belasan anak kecil dari Sukolilo, lalu Orkes Kroncong Ngajeng Kori dari Grobogan, dan yang terakhir adalah kelompok seni Mandiling “Surya Muda” dari Kecamatan Dukuhseti. Pementasan kelompok kesenian ini mendapat sambutan yang sangat antusias dari ratusan penonton yang datang malam itu.

Sekitar pkl. 23.30, acara Wungon berakhir. Warga yang datangpun satu per satu pulang ke rumah masing-masing dengan harapan agar pemerintah  acara wungonpun berakhir sekitar pukul 23:30 WIB,dan masyarakatpun pulang kerumah masing-masing dengan harapan agar pemerintah bisa ikut memikirkan nasib mereka. Sampai jumpa di Wungon ke-9.

 

Teks: Rinna Shanty

Foto: “Ragil” Kuswanto

Depan | RSS 2.0 | Kategori: berita,kegiatan | Tags: , , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply