ADAPTASI BENCANA: Padi Apung untuk Siasati Banjir

3 - Apr - 2013 | adplus

Banjir rutin merundung Desa Ciganjeng, Kecamatan Padeherang, Ciamis, Jawa Barat. Tak hanya menggenangi rumah, banjir juga menenggelamkan sawah. Tak mau menyerah, petani Ciganjeng dibantu Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia menyiasati banjir melalui padi apung.

Kamis (14/3), anggota kelompok tani Taruna Mekar Baru Desa Ciganjeng sukses memanen padi di lahan banjir. Padi jenis IR 64 itu ditanam di atas air sedalam 1 meter pada area 1.400 meter persegi. ”Ini percobaan ketiga dan hasilnya cukup baik. Hasilnya 6,2 ton gabah per hektar,” kata Tahmo Cahyonom (38), ketua kelompok tani.

”Setiap musim hujan, sekitar 400 hektar sawah di sini kebanjiran. Bulan Desember bisa sampai 2 meter lebih kedalamannya,” kata Tahmo. ”Padi apung memberi harapan baru bagi kami.”

Kawasan Ciganjeng, sekitar 67 kilometer sebelah selatan Kota Ciamis, berada di daerah parkir air anak-anak Sungai Citanduy dan bisa dipastikan kebanjiran begitu hujan tiba. Banjir ini diperkirakan sudah terjadi sejak lama, terlihat dari nama Ciganjeng yang dalam bahasa Sunda berarti ’tempat air tidak dapat berkutik (bergerak)’.

Banjir di Padaherang, termasuk di Ciganjeng, tercatat pertama kali di Kompas pada edisi Rabu, 24 September 1986. Saat itu diberitakan, 39 rumah penduduk dan 190 hektar padi yang menguning di Desa Ciganjeng, Karang Pari, dan Balater Pojok di Kecamatan Padaherang terendam banjir.

Berikutnya, hampir tiap tahun Ciganjeng diberitakan kebanjiran. Sebagian besar dari 480 hektar sawah di desa di pinggir jalan raya Ciamis-Pangandaran itu selalu kebanjiran dengan ketinggian air antara 30 sentimeter dan 3 meter.

Ciganjeng merupakan kawasan bermuaranya Sungai Ciseel ke Citanduy. Pada musim hujan, air dari Sungai Ciseel bisa dipastikan tidak bisa masuk ke Citanduy. Akibatnya, arus Ciseel meluap menggenangi lahan pertanian dan permukiman penduduk. Lama genangan bisa berminggu-minggu, tergantung dari lamanya musim hujan.

Belakangan, banjir makin kerap terjadi. Sebelum tahun 1990-an, banjir biasanya agak reda sekitar Mei sampai September. Setelah tahun 1990-an, banjir sulit diperkirakan datangnya karena iklim cenderung tidak menentu.

Selain dipengaruhi hujan, banjir di Padaherang juga diakibatkan ketinggian tanahnya yang lebih rendah dari permukaan laut sehingga kerap dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Jika air laut sedang pasang, meski tidak ada hujan, Ciganjeng yang berjarak 30 kilometer dari laut ini pun terendam air.

Walaupun terus-menerus dilanda banjir, warga Ciganjeng tak pernah menyerah. Mereka tetap menanam padi meski kerap gagal panen. Bahkan, benih padi yang baru disemai pun kerap mati karena kebanjiran.

”Kami sering menanam padi sampai empat kali atau lebih karena sering kali padi kebanjiran sebelum dipindahkan dari persemaian,” kata Daju (60), petani Ciganjeng.

Daju menyebutkan, petani di desanya biasanya butuh padi untuk benih hingga 200 kilogram. Belum lagi usia persemaian padi bisa lebih dari 40 hari karena jika ditanam masih kecil mudah rusak dan tergenang air. Akibatnya, usia tanam dan produktivitas petani menjadi rendah.

Media tanam

Sejak tiga tahun silam, Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) dengan dukungan dana dari Diakonie Katastrophenhilfe (DKH) Indonesia mencoba mengembangkan padi terapung.

Sekretaris Jenderal IPPHTI Kustiwa Adinata mengatakan, pada percobaan pertama, media tanam yang dipakai jerami dan poly bag. Eksperimen kedua menggunakan media tanam sabut dan bawahnya diberi jaring.

”Sekarang, kami menggunakan bambu dibelah (palupuh) sebagai rakit dan landasan bagi media tanam berupa sabut kelapa, jerami, dan pupuk organik. Media tanam ini bisa naik turun mengikuti ketinggian air,” katanya.

Menurut perhitungan Kustiwa, total biaya untuk pembuatan rakit bambu per hektar Rp 76 juta. ”Biaya ini masih cukup mahal bagi petani. Namun, rakit ini sebenarnya bisa tahan hingga tiga tahun,” katanya.

Kustiwa menambahkan, ”Karena itu, untuk permodalan awal memerlukan dukungan pemerintah daerah dalam bentuk kredit. Pada tahun kedua, modal awal ini sudah bisa terbayar.”

Menurut Kustiwa, hasil panenan dalam uji coba terakhir sebesar 6,2 ton per hektar. Hasil itu masih berpotensi ditingkatkan karena dari pengalaman pola SRI biasanya mencapai 10-11 ton per hektar. Padi yang dipanen dengan teknik apung juga organik sehingga nilai jualnya bisa lebih tinggi. Selain itu, padi apung ini bisa dikombinasikan dengan ternak ikan.

Jika menggunakan pola pikir usaha tani tersebut, menurut Kustiwa, keuntungan akan diperoleh pada musim ke-2 (tahun pertama), serta musim- musim berikutnya sampai dengan musim ke-6 (tahun ketiga).

”Dibandingkan subsidi pemerintah untuk puso akibat kebanjiran setiap tahun, teknologi ini menjadi sangat murah karena risiko sangat kecil,” katanya.

Kustiwa mengakui, sistem padi apung yang dikembangkan bersama petani di Ciganjeng masih memiliki kelemahan, khususnya tingginya modal awal untuk membuat rakit. Namun, dia optimistis bisa terus menyempurnakan teknik padi apung ini. Apalagi, eksperimen ini memiliki urgensi tinggi mengingat semakin seringnya banjir melanda area pertanian di Indonesia.

”Saat ini, perubahan iklim dan perubahan lingkungan sudah hadir di depan kita. Mau tak mau, kita harus beradaptasi untuk memaksimalkan sumber daya dan mengubah bencana menjadi peluang serta sumber penghidupan,” katanya.

Penulis: Ahmad Arif

Sumber berita: Kompas, Rabu 03 April 2013.
Foto: KOMPAS/RONY ARIANTO NUGROHO

Depan | RSS 2.0 | Kategori: Kliping Media | Tags: , , , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply