HARI BUMI INTERNASIONAL: Menginjak Hak Ibu Bumi

22 - Apr - 2013 | Brigitta Isworo L

Suronto (54), petani Desa Lambangan, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Senin (4/2), mengatakan, angin ribut lima hari sebelumnya merusak 2 hektar dari 3 hektar sawahnya. Suronto membayangkan penghasilan Rp 84 juta. Namun, dia hanya bisa menerima Rp 65,1 juta.

Kalimantan Tengah yang dulu tak pernah banjir, kini terendam hingga 50 sentimeter akibat rusaknya daerah tangkapan di hulu.

Januari lalu, sedikitnya 20.000 domba di Australlia terbakar akibat gelombang panas yang melintasi benua. Suhu udara mencapai 40 derajat celsius, bahkan bisa mencapai 50 derajat celsius.

Cuaca buruk akibat gelombang dingin dari Rusia menyapu Timur Tengah, mengakibatkan banjir dan badai salju di kawasan gurun. Jordania disiram salju hingga ketebalan 30 sentimeter.

Di Amerika Serikat, tahun 2012 adalah tahun terpanas sepanjang catatan meteorologis yang mengakibatkan 3,7 juta lahan terbakar. Di Semenanjung Antartika, data galian inti es di James Ross Island, yang dilaporkan Nature Geoscience pekan lalu, menunjukkan, laju meleleh lapisan es mencapai rekor tertinggi dalam 100 tahun terakhir. Suhu lapisan es mencapai ”suhu rentan”, kenaikan suhu meski sedikit akan melelehkan es.

Berdasarkan riset Zoological Society of London, hampir seperlima spesies reptil dari sekitar 9.500 spesies di dunia akan punah, antara lain, karena pemanasan global selain kerusakan lingkungan. Naiknya suhu bumi memengaruhi kecenderungan jenis kelamin dan ukuran hewan.

Reptil, seperti kura-kura, penyu, ular, kadal, dan buaya, serta hewan amfibi merupakan indikator lingkungan, termasuk perubahan iklim.

Studi oleh Tyndall Centre for Climate Change Research di University of East Anglia, Inggris, memperingatkan, tingkat kenaikan emisi gas karbon, sebagai gas utama gas rumah kaca, meningkat pada level yang mengarah pada kenaikan suhu 4-6 derajat celsius pada akhir abad ini. Konferensi Perubahan Iklim di Kopenhagen, Denmark, 2009, merekomendasikan batas ambang kenaikan suhu 2 derajat celsius. Itulah ”Wajah-wajah Perubahan Iklim”, tema Hari Bumi Internasional.

Hak Ibu Bumi

Nasib Ibu Bumi terus merana. Bahan bakar fosil, mulai dari batubara hingga minyak, terus-menerus dikuras dari perut Ibu Bumi, menyisakan kerusakan lahan dan ekosistem, mengakibatkan bencana dan putusnya rantai kehidupan.

Paradigma pembangunan yang mengejar pertumbuhan ekonomi telah menafikan ”kesejahteraan”. Paradigma ”pembangunan berkelanjutan” yang diperkenalkan Komisi Brundtland tak mewujud.

Konferensi global tentang perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan terus berlangsung, yang berimplikasi penghamburan emisi—yang dijawab dengan ”offset” (”kompensasi”) yang tak relevan.

Gerah dengan pembangunan dunia yang semakin merusak, Konferensi Masyarakat Dunia tentang Perubahan Iklim dan Hak-hak Ibu Bumi (World People’s Conference on Climate Change and the Rights of Mother Earth) di Bolivia pada April 2010 melahirkan Deklarasi Hak-hak Ibu Bumi.

Pantas digarisbawahi salah satu butirnya menyebutkan, ”Hak setiap ’makhluk’ (Ibu Bumi termasuk di dalamnya sebagai ’living being’) dibatasi oleh hak-hak dari ’makhluk’ lain dan setiap konflik yang terjadi harus diselesaikan dengan bertujuan mempertahankan integritas, keseimbangan, kesehatan Ibu Bumi.”

Poin lain, pernyataan bahwa ”perburuan kesejahteraan (wellbeing) manusia harus berkontribusi pada kesejahteraan Ibu Bumi, sekarang dan di masa depan.”

Korbankan kesejahteraan

Dari berbagai ilustrasi di awal tulisan, nyata betapa perburuan kesejahteraan manusia telah mengorbankan kesejahteraan Ibu Bumi. Hitungan nominal hasil dari ”pertumbuhan ekonomi” luput disandingkan dengan hitungan nominal untuk membangun kembali kehidupan yang rusak akibat bencana—yang semakin masif dampaknya.

Potret sekilas, berapa nilai nominal ekspor batubara dari tanah Kalimantan? Apakah sebanding dengan nilai nominal yang harus dibayarkan untuk mengembalikan kehidupan penduduk yang terkena bencana. Atau sengaja tidak dihitung? Toh, biaya perbaikan rumah dan penggantian perabot rusak tidak ditanggung oleh pemerintah.

Padahal, pemberi izin pertambangan batubara adalah pemerintah yang sering kali tak melibatkan penduduk lokal.

Mantan menteri yang mengurus lingkungan hidup, Emil Salim, selalu menegaskan, ”Pembangunan yang berlangsung tak memasukkan biaya sosial dan biaya lingkungan.”

Ketika orangutan dan gajah mati akibat pembukaan lahan untuk pertambangan atau perkebunan, apakah itu tergantikan? Apakah pohon-pohon berusia puluhan dan ratusan tahun yang ditebang habis bisa tergantikan? Lalu, rantai kehidupan di dalam ekosistem? Masalah-masalah itu tak pernah muncul dalam narasi pembangunan yang memburu pertumbuhan ekonomi.

Indonesia dengan Rencana Induk Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang bermuara pada pengurasan batubara, mineral, dan migas berada di hulu rantai perusakan Ibu Bumi dan semua ”living being”.

Hak-hak Ibu Bumi telah diinjak-injak tanpa pemahaman bahwa itu hanya bermakna tunggal: semakin buruknya ”wajah-wajah…”, rusaknya rahim Ibu Bumi, yang berujung pada hilangnya kehidupan.

Penulis: Brigitta Isworo L

Sumber: Kompas, Senin 22 April 2013 hlm.

Foto: fadhileinstein.blogspot.com

Depan | RSS 2.0 | Kategori: artikel | Tags: , , , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply