SEKALI BER(T)ANI, TERUS BER(T)ANI: DI KENDENG UTARA…

11 - May - 2013 | Kang Putu

 

PETANI kita selama ini rata-rata hidup di garis batas kemiskinan. Keadaan makin mengkhawatirkan jika benar pemerintah hendakmengimpor beras, justru ketika diperkirakan produksi padi bakal melimpah. Bagaimana menyikapi perkara itu? Berikut perbincangan (yang semula dalam bahasa Jawa ngoko dan krama madya) dengan Gunretno, eksponen Sedulur Sikep Sukolilo, Pati, sekaligus yang dituakan dalam Serikat Petani Pati, di rumahnya, Sukolilo, Pati, Kamis, 26 Juli 2012.

 

Gunawan Budi Susanto (GBS): Kenapa Sedulur Sikep sepertinya hanyaj adi petani?

Gunretno: Bagi Sedulur Sikep, untuk mencukupi kebutuhan ya harus mencangkul. Namun itu tak berarti semata-mata bertani. Kami juga merawat tanah setiap hari. Tak hanya menanam, kami juga harus merawat tanah dengan baik. Bertani itu berhubungan dengan (tanah) yang dipijak, merawat (tanah) yang dipijak.

 GBS: Apa wujud nyata merawat tanah itu?

Gunretno: Sampai saat ini terlihat jelas: semua orang sudah merasakan hasil dari tanah, hasil dari bumi. Namun kebanyakan orang cuma mau merasakan. Jarang yang mau merawat.

 GBS: Buktinya?

Gunretno: Sedulur Sikep sampai sekarang hanya menjadi petani, tak ingin menjadi yang lain. Itu salah satu cara, menurut istilah sekarang komitmen, untuk merawat tanah. Sekarang jarang yang mau menjadi petani kan? Kakek-nenek melarang kami berdagang. Kalaupun berdagang, membeli seribu menjual delapan ratus. Arahan itu selalu mengingatkan dan membuat kami mengerti: kami harus selalu mengingat bumi yang kami pijak.

GBS: Itu berkait erat dengan pilihan tanaman?Jika menanam padi, apa padi pilihan Anda? Padi baru atau padi jawa? Memakai pupuk buatan pabrik atau bertani secara organik?

Gunretno: Lebih dari delapan tahun saya tak pernah membeli pupuk buatan pabrik atau pupuk kimia, pestisida atau obat-obatan kimia. Saya memakai pupuk buatan sendiri. Selama 10 tahun ini, prinsip saya, petani jangan sampai membeli benih. Benih bagus atau tidak, petanilah yang tahu. Petani pula yang harus mengupayakan lewat seleksi. Bertahun-tahun ini, benih apa pun yang saya tanam, hasilnya bagus.

Tanah garapan saya dikenal rada tandus, berbatu-batu, dari Gunung Kendeng. Dulu, saya menjadi petani penggarap karena tak punya lahan. Setelah Kakek salin sandhangan (meninggal dunia), saya diminta menukar lahan itu dengan uang. Saya senang sekali. Apalagi sejak dulu saya berpikir jika kelak punya lahan akan saya tanami secara organik.

Saya sejakdulu, ketika orang-orang menggunakan traktor, saya tetap mencangkul. Saya cangkul sendiri. Memang seperti orang aneh di lingkungan. Namun bertani secara organik sudah menyatu dengan diri saya. Lalu, saya berpikir apa yang cocok buat tanah saya? Dulu saya menanam 64, hasilnya juga bagus. Saya menanam menthikwangi– yang dianggap berbatang tidak keras, gampang terkena hama penyakit seperti wereng – hasilnya juga bagus. Orang-orang menyatakan, keruan saja begitu karena menthikwangi tak butuh banyak pupuk. Kemarin saya menanam impari, bibit buatan pemerintah. Saya menabur benih setengah kilogram. Tanpa pupuk (kimia), hasilnya tak kalah dari padi lain. Jadi, intinya, petani harus punya benih sendiri.

Saya mengajak teman-teman petani untuk tidak membiasakan diri membeli benih. Kalau cuma untuksawah mereka, tak masalah minta dari saya. Saya pernah menanam padi untuk, misalnya, 1 hektare hanya butuh benih tak sampai 10 kg. Padahal, teman-teman butuh sGBampai 60 kg, setengah kuintal. Namun bagi saya 10 kg cukup. Dari aspek budaya kerukunan, jangan sampai memperdagangkan benih. Saya ingin melestarikan hal itudan itu saya sampaikan itu dari mulut ke mulut.

GBS: Mengapa? Apa pengaruh obat-obatan kimia terhadap tanah?

Gunretno: Benih sekarang, hibrida, yang dinilai unggul, itu sepaket dengan kebutuhan akan pupuk kimia. Jika diganti, tidak dipupuk kimia, hasilnya tidak bagus. Kami bisa melakukan sendiri, kok dijadikan pembeli terus-menerus. Padahal, kelak saat panen yang mengambil untung juga pedagang. Begitulah pemikiran saya. Jadi jika bisa membuat pupuk sendiri dan kelak hasilnya juga bagus, kenapa mesti membeli?

GBS: Pengaruh obat-obatan kimia itu?

Gunretno: Tanaman gampang terkena hama. Lalu, ketika memakai Furadan, Kulater, orang bilang, “Wah, ini membunuh banyak cacing, tanah jadi gembur.” Memang gembur, tetapi cuma sesaat. Lama-kelamaan cacing mati. Tanah jadi tandus lantaran cacing dibunuhi. Ya, kawan-kawan menganggap cacing sebagai salah satu musuh. Padahal, tak semua yang hidup di dalam tanah, pada tanaman, musuh. Harus dibedakan, banyak mana hewan yang menjadi musuh dan teman petani? Agar tak jadi pembunuh, jika ada hewan mati padahal bermanfaat, ya kita harus mampu memperbanyak hewan yang menjadi sahabat petani. Begitulah, selama ini, cara yang saya lakukan.

Sampai-sampai saya pernah bilang – sebenarnya tak baik menyatakan hal ini, tetapi bagaimana lagi, begitulah kenyataannya – ketika Pak Bibit (Waluyo) mengatakan Kendeng tidak produktif, rumput pun tak mau tumbuh, saya bilang, “La, yang dia lewati jalan raya. Itu pun berlari.” Di atas pegunungan itu banyak permukiman penduduk, desa-desa. Sejak dulu, zaman nenek moyang, pemenuhan kebutuhan mereka dari sana. Jadi tak bisa disebut tidak produktif. Saya bilang, “Sudahlah, mana lahan yang tidak produktif, berikan kepada saya, biar saya garap. Kelak, pasti subur.” Ya, terpaksa saya bilang begitu lantaran sejak dulu sampai sekarang petani tak pernah dianggap, bahkan hendak dilenyapkan. Padahal diposisikan sebagai apa pun selama ini, kami terima.

GBS: Jadi bertani selaras dengan alam berarti juga erat berkait dengan hubungan antarmanusia? Misalnya, soal benih sebisa-bisa tidak membeli. Tidak semata-mata urusan tanaman. Ada hubungan dengan kehidupan sehari-hari?

Gunretno: Ya, sangat berkait erat. Contoh soal benih, itu kan tak hanya memikirkan tanah garapan? Namun proses pelestarian kerukunan dalam hubungan antarkepentingan dengan sesama petani. Membiasakan diri tidak membeli benih untuk merawat hubungan antarkepentingan dengan siapa pun.

GBS: Tidak sekadar untuk mengontrol cocok tanam?

Gunretno: Ya. Dan, tidak semua hal mesti dihitung dengan uang. Kebutuhan dalam pergaulan toh bukan karena uang.

GBS: Dan karena alasan itulah Anda bertani secara organik? Organik berarti selaras dengan alam, merawat alam….

Gunretno: Selain itu, bisa dirasakan betul pertanian organik itu menyehatkan. Kita tak memaksa tanah untuk menghasilkan banyak, tetapi hasil banyak dan menyehatkan bagi siapa saja. Itu yang penting.

GBS: Mencukupi?

Gunretno: Semestinya begitu. Namun jika cuma mencukupi, biasanya terpatok pada bagaimana bisa menghasilkan lebih banyak. Namun tak memikirkan apakah hasil yang banyak itu menyehatkan atau tidak.

GBS: Itulah yang menjadi landasan bagi Anda menolak pembangunan pabrik semen? Apakah keberadaan pabrik itu bakal mengguncang keseimbangan alam?

Gunretno: Bukan cuma itu. Sekarang, rakyat kecil yang menjadi petani, terlebih lagi petani yang memiliki lahan, makin jarang. Padahal, penghidupan penduduk di tiga kecamatan, Sukolilo, Kayen, Tambakromo, ini rata-rata ya tergantung pada pertanian. Rata-rata petani.

Jika petani tak bertanah, apa yang terjadi? Padahal bagi petani pun tak cukup hanya tersedia lahan luas, tetapi juga harus memiliki cadangan air. Cadangan air harus dipelihara, dilestarikan. Jelas pendirian pabrik semen akan mengurangi luasan lahan dan cadangan air. Jika itu terjadi, akan sangat banyak mengorbankan rakyat kecil. Apalagi kini petani yang memiliki tanah pun makin jarang.

Di kalangan petani, masih hidup nilai-nilai kerukunan. Saat panen, tetangga pun merasakan. Beda dari kehidupan buruh pabrik, yang menciptakan tingkatan-tingkatan, misalnya harus lulusan sekolah (formal). Nah, bagaimana dengan orang-orang yang telah kelewat umur, yang tak mempunyai pekerjaan? Padahal, mereka tetap bisa hidup bersama-sama dalam dunia pertanian, dunia kaum tani, yang masih mengandung nilai-nilai kerukunan.

GBS: Namun Anda dinilai membangkang, menuruti keinginan sendiri?

Gunretno: Ya, terserah. Namun sebenarnya saya tidak asal menolak, tidak asal bilang pokoknya, sebab saya mempunyai dasar penolakan. Itulah keberpihakan kepada yang lebih kecil. Selain itu, saya menolak tindakan ketidakjujuran, melawan ketidakjujuran yang dilakukan para pihak. Dalam proses Semen Gresik dulu, misalnya, PPLH Undip yang membuat analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) menyatakan setelah menelitidi lahan 900 hektare hanya menemukan enam mata air aktif. Saya dan kawan-kawan akhirnya belajar, ya meski tak sekolah kami belajar bagaimana bisa mengoperasikan GPS untukmemetakan titik koordinat. Saya menyisir, batas pemetaan titik koordinat 900 hektare itu di mana saja di Sukolilo. Kami menemukan 49 mata air aktif berdebit air 1.009 liter per detik.

Nah, sekarang, kami terancam oleh bakal pabrik Indocement. Lewat pendataan yang dilakukan PT Mitra Adipranata, katanya ditemukan 24 mata air. Mungkin itu masih berlanjut, tetapi kami menemukan di lahan seluas itu ada 110 mata air. Itu belum semua di wilayah hampir 2.000 hektare yang batu kapurnya bakal dieksploitasi.

GBS: Berwujud apa? Sendang?

Gunretno: Ya, sendang yang tetap mengalirkan air baik saat musim hujan maupun kemarau. Di sendang ada air, ada penyimpanan air. Nah, wujud pelestarian mata air itu, ya antara lain, jangan sampai ada penambangan. Lalu, jika hutan gundul, ya harus ditanami. Jika di dekat sumber air ada pohon besar dan pohon itu ambruk atau mati, tidak diganti, ya air mengering, berkurang, menghilang.

Nah, pada titik inilah, ada pertarungan kejujuran. Saya mengukuhi temuan kami. Jika orang-orang yang tidak jujur saja percaya diri, bahkan berani memaksa-maksa, kenapa kami yang berpijak pada kenyataan mesti takut? Itulah dasar tindakan kami. Jadi tidak hanya berkata pokoknya cuma ingin jadi petani, tetapi bertani yang memiliki keterkaitan dengan berbagai hal. Apalagi ketika dinyatakan lahan di Pati, terutama Sukolilo, tidak produktif, gersang. Itu saya tolak.

Sukolilo memiliki lahan terluas di Kabupaten Pati. Dari 21 kecamatan, lahan terluas berada di Kecamatan Sukolilo. Kebutuhan akan pupuk saja 6.500 ton. Kedua Kayen, hanya butuh pupuk 3.500-an ton. Terpaut jauh. Sukolilo terluas. Pati yang bersemboyan minatani sering memperoleh penghargaan ketahanan pangan, surplus pangan, itu kontribusi Sukolilo. Namun kenapa Sukolilo dinyatakan berlahan tidak produktif? Apakah kami harus berdiam diri? Ya, kami bicara apa adanya. Itu sesungguhnya perlawanan terhadap ketidakjujuran orang-orang yang memiliki kepentingan.

Apalagi sekarang ini yang terjadi lebih tak jujur lagi. Dulu, dalam Perda Tata Ruang Kabupaten Pati Tahun 2007, peruntukan lahan di Sukolilo, Kayen, Tambakromo untuk pariwisata dan pertanian. Namun Bupati mengeluarkan izin lokasi penambangan. Bukankah itu tak sesuai dengan Perda Tata Ruang? Dalam persidangan, pihak penolak penambangan menang. Namun, kini, berbohong, bahkan lebih gede.

GBS: Wujudnya?

Gunretno: Perda itu berakhir 2007, lalu membuat lagi perda baru dan lahan di tiga kecamatan ini dialihfungsikan sebagai kawasan tambang dan industri. Apakah itu sesuai dengan daya dukung dan daya tampung yang dimiliki? Masyarakat di sini rata-rata petani. Sawah luas, air ada. Selain memperoleh air dari Pegunungan Kendeng, juga ada irigasi teknis Waduk Kedungombo. Bukankah membuat perda yang tak sesuai dengan daya dukung, daya tampung, itu kebohongan? Berbohong kok dibela banyak orang? Bagaimana ini?

Banyak hal merupakan pembohongan, bukan cuma soal Perda Tata Ruang. Perda Tata Ruang sudah dikondisikan dari Perda Tata Ruang Provinsi. Perda Tata Ruang di bawahnya mengikuti.

Apalagi kini ada peraturan baru. Pada 20 Juni lalu, Menteri ESDM Jero Wacik membuat keputusan baru berkait dengan penetapan kawasan karst bahwa yang punya wewenang adalah bupati, gubernur. Padahal, sebelum ada bupati, ada gubernur, masyarakat sudah tinggal di sini. Saya bilang, asal benar kenapa mesti takut?

GBS: Intinya memerangi ketidakjujuran?

Gunretno: Ya.

GBS: Itu menjadi landasan kehidupan bersama? Harus jujur?

Gunretno: Kalau tidak jujur, ya semua rusak. Jika orang berani berbohong berarti hanya ingin hidup sendiri. Pada tanah pun kita mesti berlaku jujur, apalagi kepada sesama manusia.

GBS:Contoh kejujuran paling nyata?

Gunretno: Jika diringkas, kejujuran itu: iya ya iya, tidak ya tidak.

GBS: Ungkapan jangankan mencuri, menemu pun tak mau?

Gunretno: Itu menjadi dasar. Jadi hidup jangan sampai dengki, iri hati, gampang marah atau naik darah. Jangan mengambil, jangan mencuri. Jujur itu iya ya iya, tidak ya tidak.

GBS: Sikap Anda kini ketika kejujuran melangka?

Gunretno: Tidak hanya menyikapi, tetapi karena itu dasar, ya harus kami wujudkan, kami lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hubungan apa pun, dengan siapa pun, manusia dan manusia, manusia dan alam, harus berlaku jujur.

GBS: Bukankah sekarang kejujuran menghadapi tantangan berat?

Gunretno: Seberat apa pun, jika itu sudah menjadi keyakinan, ya jangan menganggap berat.

GBS: Bukankah Anda dan kawan-kawan jadi berkesan aneh?

Gunretno: Terserah yang menganggap. Saya merasa wajar-wajar saja, tak berbeda dari yang lain. Orang lain, terserah mau bilang apa.

GBS: Orang pun bilang Anda membangkang.

Gunretno: Ha-ha-ha…. Jika saya lihat …, ya karena itulah tadi saya bilang, dulu saya sering bergaul. Nah, apakah sekarang saya tidak bergaul? Nyatanya saya tetap bergaul. Tanpa mengajak-ajak. Namun, begitulah, kembali ke diri masing-masing, keluarga masing-masing. Itulah yang harus diteguhkan kembali untuk menghadapi keadaan yang semacam ini. Jadi, jika diri kita sudah rapuh ya…. Saya sendiri tak khawatir; jika orang pintar tak dianggap, orang jujur tak diperhitungkan, lalu yang tidak jujur hendak diperlakukan seperti apa?

GBS: Bukankah sekarang ada ungkapan: jujur, hancur.

Gunretno: Itu kan cuma ungkapan. Ukuran hancur itu kan bagi orang yang punya kepentingan, lantaran keinginan mereka tak tercapai. “Aku sudah berlaku jujur kok malah hancur.” Kan begitu? Bagi kami, itu tak masalah.… Sudahlah, ayo bergaul, tak perlu punya pengharapan terlampau besar, tak perlu punya keinginan yang tidak-tidak, maka tak kita gampang terkaget-kaget, tak gampang terheran-heran.

GBS: Apa wujud penguatan terhadap pribadi dan keluarga itu?

Gunretno: Ya, berbincang, berembuk, berkumpul dan musyawarah.

GBS: Adakah forum rutin sebagai sarana merembuk berbagai persoalan itu? Sarana peneguhan terhadap pribadi secara bersama-sama?

Gunretno: Yang penting, penegakan keluarga adalah tanggung jawab keluarga masing-masing. Forum untuk berkumpul memang ada. Itu ajang komunikasi, berhubungan, dengan saudara. Ya, antara lain, untuk berbagi informasi, saling mengingatkan saja.

GBS: Apa harapan Anda berkait dengan hubungan antarmanusia sekarang ini?

Gunretno: Ya, bagi kami, petani, menanam ya berharap mengunduh. Jika dalam pergaulan ada yang berupaya menjatuhkan, saya ingatkan bahwa seseorang menanam kelak bakal menuai. Entah kelak mengunduh apa. Namun nenanam padi, ya pasti memanen padi. Cuma begitu saja. Jika telah menanam banyak dan untuk kebaikan bersama, masa sih tak memperoleh balasan serupa?

GBS: Bagaimana soal hubungan dengan yang menciptakan kehidupan?

Gunretno: Sebelum saya menjawab, menurut pendapat Anda, siapa sih yang menciptakan kehidupan ini?

GBS: Pangeran.

Gunretno: Pangeran siapa?

GBS: Itulah yang hendak saya ketahui dariAnda.

Gunretno: Lo, Anda bertanya kan semestinya sudah tahu. Jadi saya tak keliru menjawab. Sepengetahuan saya, saya ada karena ada yang mengadakan. Kata orang tua, ya diadakan oleh Bapak dan Ibu. Bapak-Ibu merawat, ya sekadar merawat. Begitu besar, ya besar sendiri, tak ada yang membesarkan. Peningkatan pengertian juga berasal dari Bapak dan Ibu. Jadi sepengetahuan saya seperti itu. Jadi soal pencipta kehidupan, saya mesti bertanya dulu. Yang dipahami sebagai pencipta kehidupan itu siapa? Apa? Kan begitu. Berada di mana? Beri tahulah saya. Jika sudah mengerti, saya baru bisa menjawab. Hubungan dengan pencipta kehidupan itu bagaimana, seperti apa, kan perlu tahu lebih dulu?

GBS: Anda bilang, aku ada karena diadakan. Semestinya alam ini pun ada, ada yang mengadakan.

Gunretno: Ya, itu harus dibedakan. Saya ada, Bapak yang menurunkan, Ibu yang melahirkan. Setahu saya begitu. Nah, alam? Alam seperti apa yang dipahami? Bukankah alam yang tergelar ini pun bermacam-macam?

GBS: Bagaimana hubungan manusia dengan tanaman, dengan hewan, dengan sesama manusia? Bukankah hubungan dengan alam, dengan sesama makhluk, dengan sesama manusia, adalah cermin hubungan dengan pencipta segala kehidupan?

Gunretno: Menurut pendapat saya, hubungan antarkeperluan dengan sesama hidup harus dibedakan. Bukan cuma hidup manusia. Itu kan berbeda, apalagi jika dihubungkan dengan sang pencipta. Setahu saya, selain manusia, ya sandang pangan, misalnya pohon jagung itu jika tak dirawat manusia ternyata juga tak bisa hidup. Yang lain juga begitu. Ya, kalaupun ada keterkaitan, misalnya keterkaitan dengan kita, sebagai pihak yang berkedudukan lebih mengerti ketimbang yang lain, ya kita perlu menjaga keseimbangan tersebut.

GBS: Apa sarana menjaga keseimbangan itu?

Gunretno: Perbuatan. Penolakan terhadap pendirian pabrik semen, misalnya, adalah untuk menjaga keseimbangan. Sekarang yang butuh makan makin banyak, tetapi jika tidak ada petani, tidak ada yang menanam, bukankah itu tak seimbang? Bersikukuh agar di Jawa Tengah jangan sampai ada pabrik semen. Kakek-kakek saya juga memikirkan hal itu – tak usah memikirkan Jawa Timur yang sudah menjadi kawasan industri, juga Jawa Barat yang sudah menjadi kawasan industri. Toh di sana, rakyat kecil tergusur. Lo, seperti itu kok mau ditiru? Jadi, ternyata, memang perlu ada keseimbangan dalam perkara apa saja, termasuk ekonomi dan sosial.

GBS: Jadi bertani tak hanya perkara menanam, tetapi erat berkait dengan menjaga keseimbangan? Bagaimana hubungannya dengan kehidupan sosial? Adakah lumbung pangan? Lumbung pangan yang sejak zaman moyang kita dulu bukan hanya untuk kepentingan sekeluarga? Bukankah kita mempunyai saudara lain? Apakah itu juga untuk menjaga keseimbangan?

Gunretno: Masih ada dan itu juga saya lakukan. Sebab, itu budaya petani, bukan hanya bagi Sedulur Sikep. Itu bermula dari cara berpikir kakek-kakek kami, ya bukan cuma kakek saya, bahwa petani dulu panen hanya sekali dalam setahun. Padi jawa. Namun, meski cuma sekali setahun, toh mencukup kehidupan para kakek kami. Mereka tetap bisa bergaul dengan siapa pun, bepergian ke mana pun. Mereka juga bisa bertahan hidup sampai tua. Nah, sekarang, telah terjadi penyeragaman pola tanam, irigasi teknis, semua-mua diseragamkan, panen tidak hanya dua kali, bahkan sampai tiga kali. Namun kenapa semua itu tidak mencukupi bagi kehidupan petani? Jadi ada pemahaman berbeda dari para kakek zaman dulu dan sekarang. Namun yang lebih penting bagi mereka adalah menjaga kesehatan. Keberadaan lumbung padi itu berkait dengan keadaan petani yang panen berkali-kali, tetapi berlaku sembrono, menyepelekan. “Panen pertama saya jual, hasilnya untuk menutupi kebutuhan, membeli sesuatu. Nanti panen kedua menjadi cadangan pangan.” Namun ternyata yang kedua tidak panen. Padahal, telanjur utang. Akhirnya lantaran utang berbunga, sawah pun disewakan, digadaikan, sehingga tak bisa panen lagi, dan sawah pun dijual. Yang membeli orang-orang yang punya duit, yang tak mempunyai nilai hubungan sosial dengan pertanian, yang hanya butuh membeli; perkara mau dibikin apa, ya terserah mereka. Begitu kan?

Nah, menyikapi hal itu, sejak 2005-2006 saya bersama Sedulur Sikep Sukolilo, ya di Ngawen, Bombong, Kaliyoso, membuat lumbung pangan. Lumbung tidak berada di suatu tempat dan petani mengumpulkan gabah. Gabah yang terkumpul dipergunakan ketika paceklik. Juga untuk simpan-pinjam. Itu saya lakukan sampai sekarang.

GBS: Untuk bersama?

Gunretno: Ya. Berbentuk simpan-pinjam, tetapi jika ada yang patut diberi ya diberi. Bukankah nasib orang berbeda-beda? Jadi pengurus berembuk, “Oh, dia patut diberi.” Itulah yang berjalan dan tidak hanya bagi Sedulur Sikep. Berlaku juga bagi saudara lain yang selama ini mempunyai hubungan baik. Itu kami lakukan. (Imam Bucah menginformasikan: tahun 2007-2008, ketika terjadi banjir besar yang memutus jalur transportasi antara Pati dan Juwana, Sedulur Sikep mengeluarkan gabah dari lumbung pangan mereka. Lalu, mereka menanak nasi dan membagikan makanan kepada para pengguna jalan yang berminggu-minggu terjebak kemacetan sepanjang 27 kilometer. Tindakan Sedulur Sikep membagikan makanan itu kemudian ditiru oleh berbagai eksponen masyarakat yang lain, dan tertolonglah para sopir segala macam kendaraan besar-kecil yang tak bisa beranjak dari jalanan dari Kudus sampai Juwana itu. gbs)

Dulu, tahun2004-2005, saya dituakan di Serikat Petani Pati. Saya tawarkan ke pemerintah program ketahanan pangan. Ya, tak apa-apa kalau tak dijalankan, saya jalani sendiri. Salah satu program saya itu. Panen raya pertama biasanya pada saat musim hujan. Harga gabah biasanya anjlok di tingkat petani. Nah, saat itulah pemerintah mencukupi kebutuhan petani dengan agunan gabah. Jadi bukan sertifikat, melainkan gabah. Dalam satu tahun, ketika ada kenaikan harga gabah, petani membayar utang. Pasti mereka bertanggung jawab, lantaran gabah mereka diambil kan? Keuntungan dikembalikan ke petani. Pemerintah tidak merugikan, bahkan bisa menolong para petani.

Dolog itu buat orang-orang kaya. Namun saya percaya diri saja. Jika tak mau melakukan dengan cara berpikir seperti itu, ya saya kerjakan sendiri. Terbukti berjalan.

GBS: Lumbung itu menjadi bagian dari pengelolaan keseimbangan?

Gunretno: Ya. Bukankah ketika petani mengalami paceklik, harga gabah mahal, pemerintah impor, bukankah yang memperoleh untung lagi-lagi pemerintah?

* Versi lebihpendek dari wawancara eksklusif ini dimuat dalam rubrik “Bincang-bincang” Suara  Merdeka, Minggu, 5 Agustus 2012, halaman 2. Terima kasih kepada Azis Wisanggeni, Imam Bucah, Aan Hidayah, dan Peyok (?) yang telah mengantar dan menemani saya ke Sukolilo pergi-pulang.

Gunawan Budi Susanto, atau yang biasa dipanggil Kang Putu adalah seorang jurnalis dan esais dari Semarang.

Foto ilustrasi: Dok. JM-PPK

 

Depan | RSS 2.0 | Kategori: artikel | Tags: , , , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply