Mari Mendata Kawasan Karst

15 - May - 2013 | Bravo Tenda

Karst sebagai medan dengan kondisi hidrologi yang khas sebagai akibat dari batuan yang mudah larut dan mempunyai porositas sekunder yang berkembang baik. “Menurut Clements, di Indonesia luasan kawasan karst mencapai 145.000 km2, yang tersebar mulai dari ujung barat sampai dengan ujung Timur Indonesia”, kata Dr. Cahyo Rahmadi (Peneliti Puslit Biologi LIPI). Penjelasan tersebut dipaparkan dalam Seminar “Studi Potensi Kawasan Karst” yang diselenggarakan oleh IMPALA Universitas Brawijaya pada tanggal 21-22 April 2012 di Gedung Inkubator Bisnis Universitas Brawijaya, Kota Malang.

Sehingga karst yang banyak dijumpai di Indonesia adalah karst yang berkembang di batuan karbonat (batu gamping). Karst di lapisan permukaan ditandai dengan terbentuknya bukit-bukit dan lembah-lembah yang terjal. Sedangkan lapisan bawah tanah terjadi pelarutan menyebabkan terbentuknya ruangan-ruangan, lorong sungai bawah tanah, yang di kenal dengan gua atau sistem perguaan.

Namun, karst di Indonesia selama ini hanya dipandang sebagai batu gamping yang kemudian diekspoitasi seperti penambangan untuk kebutuhan industri semen. Padahal, karst memiliki potensi non tambang yang mempunyai peran penting bagi peradaban manusia dan ekologi.

Karst telah memberikan manfaat kepada masyarakat yang nilai dan perannya jauh lebih penting dari sekedar ditambang untuk semen. Dr. Pindi Setiawan (Peneliti lukisan prasejarah di dinding gua) pada seminar yang diikuti oleh 107 peserta ini menyampaikan bahwa gua digunakan sebagai tempat tinggal dan berlindung bagi manusia, temuan ini ada di gua-gua di pesisir utara Papua Barat. Lukisan di dinding-dinding gua Leang-leang, Maros, membuktikan bahwa peradaban manusia di Indonesia sudah ada sejak lama.

Sekitar 20 persen penduduk di dunia memperoleh air bersih dari kawasan karst, seperti di Slovenia, Inggris, Mexico, Yunani, Indonesia, dan masih banyak lagi. “Pengamatan kami di Dusun Sumberceleng, Desa Banjarejo, Donomulyo, Kabupaten Malang, masyarakat mengandalkan air dari kawasan karst untuk kebutuhan sehari-hari dan dimanfaatkan sebagai irigasi pertanian”, kata Kusmayasari Sitompul, Koordinator Peneliti sekaligus mahasiswa semester 6 Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya. Dr. Pindi Setiawan mengemukakan “Masyarakat di pedalaman Kabupaten Berau dan Kutai Timur, Kalimantan Timur sangat tergantung dengan keberadaan sungai. Karena mereka bermukim di pinggiran sungai dan sungai-sungai tersebut dijadikan sebagai jalur transportasi utama. Sementara, 5 sungai utama di Kalimantan Timur berhulu di kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat”.

Manfaat lain dari kawasan karst adalah dari sektor ekoturisme, yaitu wisata yang dilaksanakan di hutan atau di mana saja dengan memanfaatkan lingkungan alam sebagai objeknya. Panorama ekosistem karst bisa dimanfaatkan untuk wisata khusus dan pendidikan bagi masyarakat. Sebelum ekoturisme karst dibuka, tentu harus dikaji dari berbagai aspek terlebih dahulu. Keselamatan pengunjung, keberlangsungan flora dan fauna, kondisi bentang alam permukaan maupun bawah permukaan yang tetap terjaga, merupakan beberapa aspek yang sangat dipertimbangkan sebelum suatu kawasan karst dibuka untuk wisata.

“Salah satu cara menyelamatkan daerah karst agar tetap terjaga adalah melibatsertakan masyarakat, pendekatan yang paling pas adalah melalui ekoturisme”, ungkap Ir. Cahyo Alkantana, MSc dalam paparannya pada seminar yang juga untuk memperingati Hari Bumi ini. Cahyo Alkantana menekankan dengan ekoturisme, membuka kesempatan kerja bagi masyarakat di sekitarnya, sehingga taraf perekonomian mereka menjadi baik. Dari sisi ekologi, masyarakat akhirnya juga ikut menjaga kelestarian ekosistem karst. Cara ini sudah dibuktikan oleh Cahyo Alkantana, dengan membuka wisata khusus dan pendidikan di Luweng Jomblang, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta.

Fauna yang hidup di daerah karst juga mempunyai peran dan manfaat bagi manusia. Kelelawar merupakan salah satu biota yang memanfaatkan gua sebagai tempat tinggal. “Kelelawar pemakan serangga mempunyai peran mengendalikan serangga sehingga tidak menjadi hama bagi pertanian. Sedangkan pemakan buah menjadi penyerbuk berbagai jenis buah-buahan yang bernilai ekonomis. Kelelawar merupakan salah satu “spesies kunci” bagi keseimbangan ekosistem di sekitarnya”, ujar Sigit Wiantoro, SSi, MSc dalam pemaparan makalah Biospeleologi pada seminar ini.

Dengan berbagai manfaat dan potensi tersebut di atas, kawasan karst merupakan laboratorium alam.  Sumber informasi yang terekam dan tersimpan selama proses pembentukan karst menjadi bahan penelitian berbagai disiplin ilmu untuk pembangunan yang berkelanjutan.

Semua potensi kawasan karst tersebut, tidak akan berarti sama sekali bagi mereka yang memandang karst sebagai secuil batugamping, yang bisa ditambang dan dapat menghasilkan uang, namun hanya dalam jangka waktu pendek sampai karst habis ditambang.

Dari 145 ribu KM2 luas kawasan karst di Indonesia, masih sedikit yang diketahui potensi non tambangnya. Sebagian besar kawasan karst belum banyak diungkap, diteliti dan dikaji potensi non tambangnya. Khususnya potensi kawasan karst di Kabupaten Malang. Untuk itulah perlu dilakukan pendataan potensi karst, untuk konservasi ekosistem karst dan kesejahteraan masyarakatnya. Januario Bramasto, Ketua Umum IMPALA Universitas Brawijaya mengatakan “Setelah seminar ini dilakukan, IMPALA akan melakukan pendataan kawasan karst di Donomulyo Kabupaten Malang. Harapannya, hasil penelitian ini bisa dijadikan pertimbangan bagi pemerintah Kabupaten Malang dalam mengeluarkan kebijakan pengelolaan kawasan karst yang lestari dan berkelanjutan”.

Sumber: http://green.kompasiana.com/iklim/2012/04/26/mari-mendata-kawasan-karst-452667.html

Foto: Dok. JM-PPK/ “Ragil” Kuswanto

Depan | RSS 2.0 | Kategori: artikel | Tags: , , , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply