Press Release Upacara Rakyat “Nggugah Kemandiriane Petani”

17 - Aug - 2013 | adplus

           Upacara rakyat     Saka guru atau tiang seharusnya menjadi bagian terkuat dari sebuah rumah karena tiang ini lah yang akan menopang rumah. Akan tetapi yang terjadi dengan petani, yang sering disebut sebagai saka guru bangsa seakan bertolak belakang dari apa yang seharusnya. Petani tak lagi bisa menjadi bagian terkuat dari bangsa ini, bahkan menjadi bagian paling lemah dari bangunan bangsa bernama Indonesia ini. Bagaimana bisa petani, yang merupakan mayoritas kelompok ekonomi di negara ini, menjadi kelompok yang paling lemah?

                Pertama, kini petani tidak lagi memiliki posisi tawar dalam kebijakan ekonomi Negara ini. Kebijakan ekonomi yang dihasilkan oleh para perumus kebijakan ekonomi cenderung tidak berpihak pada petani karena lebih mengedepankan kebijakan ekonomi pro-industri. Selain itu, kebijakan ekonomi yang kapitalistik yang pro-pasar bebas telah menjadikan petani sebagai kelompok ekonomi yang harus bertarung dengan kekuatan-kekuatan ekonomi asing tanpa perlindungan Negara. Kebangkrutan Negara ini terlihat ketika Negara dengan penduduk lebih dari dua ratus juta jiwa ini harus mengimpor bahan pangan seperti kedelai, beras, singkong bahkan yang lebih parah lagi kita harus mengimpor garam! Dengan kelemahan ini lah kemudian banyak Negara mendikte pemerintahan kita.

                Kedua, petani menjadi kelompok yang harus terpinggirkan secara ekologis karena harus menjadi korban dari kebijakan pertanian yang tidak ramah lingkungan. Produk-produk kimia telah memerangkap petani dalam budaya instan dalam proses pengadaan benih, pembersihan tanaman pengganggu, pemberantasan hama, perawatan tanaman hingga pengelolaan pasca panen. Perlahan tapi pasti produk pertanian yang menggunakan bahan kimia menjadi pembunuh petani yang sebenarnya.

                Ketiga, petani terus saja terpinggirkan secara politik ketika tidak ada kelompok politik yang dengan tegas dan konsisten membela kepentingan petani sebagai penyedia kebutuhan pangan Negara ini. Petani hanya menjadi sapi perah politik bagi para politisi saat menjelang pemilu. Dengan jumlah massa yang banyak, petani terus dibomabrdir dengan janji tentang perbaikan ekonomi dan kondisi pertanian tetapi hanya kebohongan lah yang tampak saat pesta pemilu telah usai.

                Lalu kemerdekaan yang seperti apa yang harus diraih oleh petani? Kemerdekaan untuk terbebas dari ketakutan akan perampasan lahan untuk kepentingan industry, kemerdekaan dari rasa takut akan ancaman harga panen yang rendah, dan kemerdekaan dari ketakutan dari bencana ekologis akibat penggunaan obat kimia pertanian lah yang menjadi kemerdekaan sejati bagi petani. Karena hanya dengan kemandirian petani lah kita akan mencapai kemandirian pangan. Dan hanya dengan kemandirian pangan lah Negara ini akan tetap kokoh berdiri.

Lestari kendengku lestari Indonesiaku!

Pati 17 Agustus 2013

Depan | RSS 2.0 | Kategori: artikel | Trackback | 0 Comments

Leave a Reply