Upacara Rakyat “Nggugah Kemandiriane Petani”

20 - Aug - 2013 | adplus

Beberapa bandit berduit tampak mengiming-imingi petani dengan segepok uang agar mau menjual tanah untuk kepentingan industri. Rayuan ini tak membuat para petani tergiur bahkan dengan tegas mengatakan bahwa mereka akan melawan. Pada akhirnya petani lah yang menang dan berhasil mengusir para pengganggu ini. Aksi teatrikal ini merupakan menjadi bagian dari upacara rakyat yang diadakan oleh Jaringan Masyarakat Pegunungan Kendeng (JM-PPK) untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia.
Upacara rakyat yang diadakan untuk kali kedua ini mengangkat tema “Nggugah Kemandiriane Petani”. Tema ini dipilih sebagai ajakan untuk semua orang yang peduli terhadap nasib alam dan petani yang semakin terpinggirkan saat ini. Dalam press release yang dipublikasikan oleh JM-PPK dijelaskan tentang keterpinggiran petani dalam tiga hal. Pertama, petani terpinggirkan secara ekonomi karena kebijakan ekonomi saat ini tidak lagi memihak kepentingan petani sebagai mayoritas warga Indonesia.
Kedua; secara politik petani juga terpinggirkan karena mereka hanya menjadi sasaran perilehan suara saat pemilu tetapi tak pernah diperjuangkan secara serius oleh kelompok politik yang mendapat suara. Ketiga; petani terus terdesak secara ekologis karena penggunaan bahan-bahan kimia dan ketergantungan produk pertanian pada industri produk pertanian. Pelan tapi pasti cara bertani instan dengan mengandalkan pupuk kimia menjadi pembunuh kehidupan petani
2 Kegiatan memperingati hari kemerdekaan Indonesia ini diikuti oleh warga dari tiga kecamatan, antara lain kecamatan Sukolilo, Kayen dan Tambakromo. Laki-laki dan perempuan dari berbagai usia datang dengan menaiki motor dan mobil bak terbuka (engkel). Hani, salah seorang peserta upacara, mengatakan ia sangat senang dapat mengikuti upacara rakyat kali ini. “Dengan upacara ini kita bisa mengenang jasa para pahlawan sekaligus menyatakan tekad kami untuk mengisi kemerdekaan dengan melindungi alam”, tegasnya. Melindungi lingkungan menjadi satu hal yang ingin disuarakan dalam upacara rakyat kali ini. Maklum saja, sejak tahun 2005 warga di Pegunungan Kendeng Utara terus berhadapan dengan beberapa investor pertambangan yang ingin mengeksploitasi wilayah ini untuk pendirian pabrik semen.

Upacara yang diadakan oleh warga Kendeng ini sedikit berbeda dengan upacara bendera pada umumnya. Diiringi alunan saxophone oleh Romo Budi, peserta menyanyikan lagu-lagu nasional seperti Garuda Pancasila, Satu Nusa Satu Bangsa dan tak ketinggalan pula mars Gunung Kendeng. Tepat pukul sembilan pagi, upacara dimulai dengan masing-masing komandan barisan menyiapkan barisannya. Ada banyak barisan yang ikut upacara rakyat kali ini, antara lain barisan Sukolilo, barisan Kayen, barisan Tambakromo, barisan punden, barisan pertanian hingga barisan punden. Rangkain upacara pun dilalui satu per satu seperti pembacaan pembukaan UUD 1945, pembacaan Pancasila dan proklamasi. Dalam amanatnya, Bambang, selaku pembina upacara, mengatakan bahwa kini saatnya rakyat bangkit untuk mewujudkan kemerdekaan yang sejati yaitu kemerdekaan dari segal rasa takut dan ancaman untuk menyelamatkan lingkungannya.

Sebagai wujud semangat untuk memerdekakan alam dari berbagai ancaman, pada akhir upacara diadakan penanaman pohon oleh JM-PPK di depan punden Ronggoboyo. Diharapkan pohon yang ditanam akan dapat mewujudkan kelesatarian Kendeng Utara agar terus bermanfaat bagi kelestarian bangsa Indonesia.

Lestari Kendengku, Lestari Indonesiaku!

Penulis dan foto: Tim Omah Kendeng

 

Depan | RSS 2.0 | Kategori: berita | Trackback | 0 Comments

Leave a Reply