Selamatkan Karst Bukit Bulan Jambi dari Industri Semen

22 - Aug - 2013 | adplus

Dear environment & karst community,

Pertama-tama saya meminta maaf atas email ini. Saya adalah seorang putra daerah yang cinta dengan kelestarian lingkungan karst. Saya mengirimkan berita ini karena ada data yang membahayakan dan mengancam kerusakan kawasan karst yang sangat mengagumkan di pedalaman pulau Sumatera, Indonesia, yaitu di kawasan karst Bukit Bulan, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, Indonesia. (koordinat -2° 38? 18.02? S  102° 26? 6.16? E ; -2° 39? 34.2? S  102° 26? 22.2? E dan -2° 39? 35.64? S  102° 26? 20.4? E. Saat ini, satu perusahaan semen, PT Semen Baturaja (Persero) Tbk, sedang gencar-gencarnya mempersiapkan kawasan ini sebagai lokasi tambang dan kawasan industri  semen. Kawasan bukit karst yang terdiri dari beberapa bukit karst yaitu Bukit Bulan, Bukit Petak, Bukit Gedong, Bukit Tengah dan Bukit Mentang yang sangat mengagumkan dengan flowstone, goa sepanjang 1,5 km yang menghubungkan dusun Dalam dan dusun Duri, sungai bawah tanah, yang merupakan hulu sungai Batanghari, dikelilingi hutan lindung rain forest dengan aneka satwa langka dan tumbuhan langka  akan mereka jadikan bahan baku semen dan pasti akan merusak tatanan morfologi karst serta ekosistem yang terdapat di dalamnya.

Celakanya, Pemerintah kabupaten setempat, dengan mudahnya melanggar regulasi di Indonesia dengan memberikan izin lokasi dan eksplorasi pertambangan (IUP dengan Nomor 53 Tahun 2011) kepada pelaku bisnis tersebut, dan saat ini mereka terus melakukan konspirasi untuk meningkatkan izin menjadi tahap izin operasi produksi.

Walaupun pemerintah indonesia telah mengeluarkan peraturan pemerintah nomor 26 tahun 2008 tentang rencana tata ruang wilayah nasional, terutama pasal 50 dan pasal 53 mengenai kawasan lindung geologi, Kepmen ESDM Nomor 1456.K./20/MEM/2000 dan Permen ESDM nomor 17 tahun 2012 tentang penetapan kawasan bentang alam Karst, akan tetapi pemerintah kabupaten (Bupati) setempat tidak menghiraukan peraturan tersebut dan melanggar peraturan dengan tetap memberikan kawasan Karst Bukit Bulan sebagai bahan baku industri semen.

Konspirasi rencana penghancuran kawasan karst dunia ini akan semakin dipercepat jika pengesahan dokumen AMDAL disetujui oleh konspirasi pemerintah setempat. Padahal kawasan karst ini berada sangat dekat dengan kawasan Geopark Merangin, yang telah diajukan badan geologi Kementrian ESDM ke UNESCO. Geopark yang diperkirakan berusia 300 juta tahun dan kawasan karst Bukit Bulan tentunya akan menjadi ladang riset utama para geolog dunia dalam mempelajari evolusi bumi. (http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/06/geopark-merangin-menuju-jaringan-geopark-dunia).

Penyelidikan geologi mengenai kawasan lindung karst ini sudah banyak dilakukan, termasuk badan geologi kementrian ESDM, akan tetapi era otonomi daerah yang berlaku di Indonesia saat ini, menjadikan pemerintah kabupaten setempat tidak memiliki visi yang sama tentang kelestarian kawasan karst kelas I dan kelas II ini, dan mereka sedang mempersiapkan skenario penghancuran kawasan dan ekosistemnya untuk industri semen.

Saya sangat prihatin dengan keadaan ini, akan tetapi satu orang tidak dapat mengalahkan kekuasan pemerintah kabupaten setempat. Untuk itu saya menghimbau pencinta lingkungan dan komunitas karst di seluruh dunia dan sebelum konspirasi penghancuran kawasan karst itu dilanjutkan oleh PT Semen Baturaja (Persero) Tbk, maka marilah kita mencegah rencana mereka, desak pemerintah pusat Republik Indonesia untuk BATALKAN IZIN EKSPLORASI PERTAMBANGAN, RENCANA IZIN OPERASI PRODUKSI PERTAMBANGAN, TOLAK PERSETUJUAN AMDAL PT SEMEN BATURAJA (PERSERO) untuk kawasan industri semen di kawasan karst Bukit Bulan,  mari kita meningkatkan perhatian kepada kelestarian lingkungan dan melindungi kawasan karst demi masa depan.

Terima kasih
Speleo Sarolangun

Sumber tulisan: http://caves.or.id/2013/08/selamatkan-karst-bukit-bulan-jambi-dari-industri-semen/

Foto ilustrasi: http://news.mongabay.com/2008/1110-karsts.html

Depan | RSS 2.0 | Kategori: artikel | Trackback | 0 Comments

Leave a Reply