Perlawanan Pemuda Melawan Rencana Industri Semen

2 - Jan - 2014 | Aziz Wisanggeni

Oleh Azis Wisanggeni

laskar kendeng2Seringkali kita tidak menyadari bahwa saat ini kita hidup dalam ancaman industri yang mengancam alam yang kita tempati. Meski kesadaran terhadap lingkungan dikembangkan dalam pembelajaran sekolah, mulai dari tingkat bawah sampai paling tinggi. Namun acap kali pelajaran ini tak berdaya menghadapi kondisi negeri ini. Situasi yang sangat memprihatinkan, padahal kesadaran akan menjaga alam dan memperlakukannya dengan baik sangatlah penting.

Keseriusan pemerintah tentang bahaya tambang terhadap ekologi hanya sebatas simbol-simbol yang ingin ditunjukkan pada publik. Bukan lahir ketulusan hati, bahkan bisa dibilang hanya sekedar sensasi. Contoh saja, dalam banyak buku pelajaran sekolah sering sekali kita temukan tema yang terkait dengan “Alam”, namun tak ada sub judul yang membahas secara serius tentang itu. Malah kebanyakan hanya sekedar sub tema saja.

Meski sering kali masalah alam mendapatkan sorotan dari masyarakat yang terkena dampak, baik secara langsung maupun tidak, perintah jarang sekali memperdulikan. Malah cenderung menilai bahwa masyarakat yang yang peduli dengan alam dinilai sebagai penghambat dari program pemerintah. Hal ini mengingatkan pada kejadian pada tahun 2006, dimana masyarakat yang tinggal di lereng gunung Kendeng mengalami kriminalisasi ketika mereka ingin menyampaikan aspirasinya menolak berdirinya PT Semen Gresik.Tak hanya di Kendeng, upaya kriminalisasi terhadap korban rencana pertambangan juga terjadi di banyak daerah, misalnya di wilayah Urut Sewu (Kebumen) yang harus berhadapan dengan TNI untuk mempertahankan tanah mereka.

Menyikapi industri pertambangan yang saat ini terus melakukan ekspansi hampir di seluruh wilayah Indonesia, pada tanggal 7-8 Desember 2013 yang lalu kelompok pemuda NU (Nahdliyin)membuka ruang untuk mengulas jejak rekam pertambangan dan rencana penambangan. Acara yang diadakan di Universitas Hasyim As’ari Tebuirengireng Jombang ini dihadiri dari berbagai daerah. Diantaranya Urut Sewu (Kebumen), Kalimantan Timur, Sidoarjo, Giri Woyo, Pati, Blitar, Jombang, Rembang, Tuban, Kuningan, dan Banyuwangi.Beberapa kesepakatan berhasil dirumuskan dalam pertemuan ini, antara lain membentuk jaringan antar wilayah dalam wadah Fron Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FN-KSDA) yang akan melakukan upaya pengarusutamaan (mainstreaming) isu-isu pertambangan pada warga NU dan masyarakat secara luas. Hal ini sangat penting mengingat seringkali masyarakat calon korban pertambangan hanya melihat industri dari kacamata ekonomi. Padahal industri pertambangan inilah yang menjadi salah satu sebab banyaknya bencana alam yang terjadi belakangan ini.

FN-KSDA simpul Pati menemukan momentum pada akhir 2013 saat berita dari harian Suara Merdeka memberitakan bahwa kajian AMDAL PT. Sahabt Mulia Sakti (SMS), anak perusahaan Indocement, akan dilanjutkan lagi pada awal tahun 2014. Menanggapi hal ini, FN-KSDA bersama beberapa organisasi yang selama ini aktif menolak rencana pabrik semen membentuk sebuah wadah gerakan bernama “Laskar Kendeng”. “Jika sejak tahun 2005 yang mengahdapi masalah isu tambang hanya masyarakat yang terkena dampak, dan penolakan lebih sering dilakukan oleh orang tua kami, maka kini saatnya para jejaring muda diseluruh kabupaten Pati yang akan menyikapi” tandas Ali Nopit, salah satu delegasi yang berangkat ke Tebuireng. Kemunculan gerakan pemuda ini menjadi babak baru dalam perjuangan melawan penambangan yang akan terus meluas jika tidak ada yang berani menolak kehadirannya.

Tepat pada tanggal 1 Januari 2014 Laskar Kendeng mendeklarasikan diri. Dalam acara yang diadakan di depan Posko Pemuda Peduli Pegunungan Kendeng ini tiap warga yang datang membubuhkan tanda tangan diatas kain putih sebagai bentuk penolakan terhadap rencana indutri semen diwilayah mereka. Prosesi deklarasi ini ditandai dengan penyerahan pohon dari nenek-nenek pada para pengurus Laskar Kendeng sebagai simbul penyerahan amanat untuk anak cucu mereka ikut memperhatikan gunung Kendeng. Setelah itu pohon akan ditanam di sepanjang jalan arah makam Nyai ageng Ngerang yang merupakan salah satu waliyulloh diwilayah pati selatan. Sebelum melakukan do’a dan ziarah, warga mengadakan ritual slametan yang dipimpin oleh H. Khambali.

Besar harapan Laskar Kendeng akan lebih mewarnai gerakan penyelamatan Pegunungan Kendeng Utara. Beberapa rencana telah digagas untuk mengembangkan gerakan ini, antara lain membangun jejaring yang lebih luas dengan komunitas-komunitas lain di wilayah Pati dan sekitarnya. Kekuatan jejaring inilah yang kemudian akan memunculkan inisiatif-inisiatif baru format pergerakan yang mempertemukan nilai-nilai lokal, kreativitas pemuda dan konsistensi visi akan penyelamatan kelestarian alam.

Foto: Aziz Wisanggeni

Depan | RSS 2.0 | Kategori: artikel | Tags: , , , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply