Gerilya Budaya ! “Mengeti Slamet Gundono”

23 - Jan - 2014 | adplus

Mengeti Slamet Gundono - Foto KuswantoMinggu, 19 Januari 2014, suasana malam di Omah Kendeng tampak ramai. Berbondong-bondong sedulur dari wilayah Kendeng seperti Sukolilo, Kayen, Rembang, dan Blora berdatangan dengan menggunakanan bermacam alat transportasi seperti motor, mobil, bahkan bus kota. Tak mengherankan jika hal ini terjadi, sebab pada malam kali ini Omah Kendeng menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk memperingati hari wafatnya seorang seniman besar, Slamet Gundono yang meninggal pada tanggal 07 Januari 2014 yang lalu.
Slamet Gundono yang lebih dikenal sebagai Dalang Wayang Suket, adalah sosok yang ramah dan humoris. Beberapa tahun yang lalu, beliau mengawali apresiasi seninya di Omah Kendeng dengan memainkan wayang kulit dan wayang suket dengan tema lingkungan hidup. Gerakan ini disambut baik oleh masyarakat Kendeng yang pada masa itu sedang mengalami permasalahan genting tentang rencana didirikannya pabrik semen di wilayah Pegunungan Kendeng. Dengan gerakannya ini, Slamet Gundono mampu menggugah hati masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan hidup termasuk karst di Pegunungan Kendeng. Beliau berhasil membangun solidaritas warga dengan caranya sendiri. Karena itulah, sosok Slamet Gundono tak asing lagi bagi warga Kendeng. Beliau juga merupakan salah satu tokoh yang aktif menyuarakan penolakan ekpsloitasi Pegunungan Kendeng.
Joko Bibit Santoso, seniman dari Solo yang menggagas acara “Gerilya Budaya” dengan tajuk “Mengeti Slamet Gundono” ini adalah salah satu orang yang merasa kehilangan atas meninggalnya Slamet Gundono. Selain hubungan batin, Slamet Gundono lah yang memperkenalkan beliau dengan sedulur sikep dan warga Kendeng lainnya. Pada acara kali ini Joko Bibit Santoso membawa Teater Ruang yang beranggotakan anak-anak Sangiran untuk mementaskan tiga pertunjukan teater garapannya yang berjudul Puisi “Air”, “Bendera Depan Rumah Kita”, dan “Sinom Godong Kayu”.
Acara dimulai dengan sambutan dari Gunritno selaku perwakilan dari Omah Kendeng dan sambutan dari Joko Bibit Santoso. Dalam sambutannya Gunritno menyampaikan sepenggal cerita tentang awal kedatangan Slamet Gundono di Omah Kendeng dan suka dukanya bersama sang seniman tersebut. Kemudian berlanjut ke pembacaan profil singkat Slamet Gundono, lalu tahlil pun dilakukan secara bersama-sama. Setelah tahlil selesai, pertunjukan pun mulai dipentaskan dari judul pertama dan ke-dua. Ada juga salah seorang sedulur Rembang yang membacakan puisi tentang petani, lalu berlanjut ke pentas teater judul yang ke-tiga. Rembang menjadi target pendirian pabrik semen berikutnya setelah gagal menguasai karst di Pati.
Kyai Khambali, sedulur dari Kayen, juga ikut mengisi acara ini dengan tausiah dan wejangan-wejangan kepada sedulur-sedulur lain untuk tetap menjaga lingkungan dan menolak segala bentuk kecurangan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang menginginkan berdirinya pabrik semen di wilayah Pegunungan Kendeng. Beliau bercerita bahwa ada bermacam bentuk kecurangan yang dilakukan seperti mengelabuhi dan memaksa masyarakat yang buta huruf untuk menanda tangani surat penjualan tanah dengan dalih menyelamatkan tanah mereka dari penguasa pabrik semen. Kecurangan lain yang dilakukan adalah menyuap masyarakat dengan nominal yang sangat tinggi bahkan hingga ratusan juta rupiah agar bersedia memihak pabrik semen. Kecurangan-kecurangan seperti ini masih akan terus dilakukan oleh pihak pabrik semen karena menurut Gunritno setelah berdiskusi dengan Hendro Sangkoyo dapat disimpulkan bahwa Pati menjadi barometer pendirian pabrik semen yang ada di Indonesia.
Turut berbincang juga seorang ibu sedulur dari Kayen yang menceritakan pengalamannya ketika beraksi menghadang truk yang mengangkut puluhan polisi yang berpihak pada pabrik semen. Untuk menghentikan laju truk tersebut, puluhan ibu nekad duduk berjajar di tengah jalan sambil meneriakkan tolakan-tolakan terhadap pabrik semen. Perjuangan–perjuangan seperti ini harus tetap dipertahankan mengingat permintaan semen di dunia semakin meningkat yang tentu saja membuat para kapitalis semakin gencar menyerukan keinginannya untuk mendirikan pabrik semen yang kemungkinan besar hasilnya akan diekspor untuk memenuhi kebutuhan semen di luar negeri atau pasar internasional. Lalu, acara terakhir diisi dengan doa bersama yang dipimpin oleh Kyai Khambali.
Sungguh suatu pertemuan yang luar biasa. Meskipun tanpa kehadiran Slamet Gundono, beliau tetap mampu membawa suasana menjadi solid, hangat, dan akrab. Kebahagiaan tampak jelas di wajah para sedulur yang hadir baik tua, muda, laki-laki, maupun perempuan. Ini menjadi bukti bahwa seorang Slamet Gundono telah menempati ruang-ruang di hati masyarakat Kendeng. Nama, karya, dan semangatnya tetap hidup dan menghidupi setiap orang yang pernah mengenalnya. Terima kasih kami kepada Ki Slamet Gundono. Semoga Tuhan senantiasa melapangkan jalanmu disana. Amin.

Penulis: Fridi A. Yeni.
Foto: Ragil Kuswanto

Depan | RSS 2.0 | Kategori: berita | Trackback | 0 Comments

Leave a Reply