Eksploitasi kars: Pemda jangan hanya melihat manfaat pabrik semen

28 - Feb - 2014 | KOMPAS

SOLO, KOMPAS — Eksploitasi kawasan karst atau pegunungan kapur dikhawatirkan menimbulkan risiko pada lingkungan, seperti daerah aliran sungai dan waduk. Oleh sebab itu, pemerintah daerah jangan hanya mempertimbangkan sisi manfaat dari pembangunan pabrik semen belaka.

Ahli kebencanaan dari Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, Kamis (27/2), mengatakan, untuk mendapatkan bahan baku kapur, pabrik semen akan melakukan pengupasan lahan yang menyebabkan hilangnya solum atau lapisan tanah dan potongan tanah.

”Inilah yang akan menimbulkan dampak lingkungan. Tidak hanya di tapak pengupasan, tetapi juga di tempat lain dalam jangka pendek hingga panjang,” ujar Eko.

Menurut dia, potongan tanah yang terkelupas akan terbawa melalui aliran air hingga ke sungai sehingga akan memengaruhi kondisi daerah aliran sungai.

”Demikian pula jika terdapat waduk di dekatnya, lapisan tanah itu akan mengalir ke dalam dan menjadi sedimentasi. Selain itu, pengikisan solum dan potongan tanah juga akan memengaruhi kuantitas air di dalam tanah,” kata Eko.

Selama ini, penambangan tak pernah mengupas lahan dalam areal yang kecil. ”(Pengupasan) pasti dalam jumlah luas. Belum pernah ada cerita bahwa dalam penambangan ada pemulihan kondisi lapisan tanah yang sudah rusak,” ujar dia.

Untuk itu, Eko berharap, faktor risiko harus benar-benar dipertimbangkan dan disampaikan secara jelas kepada masyarakat, baik di tapak maupun sekitarnya.

”Sebab, merekalah yang akan merasakan dampak secara langsung ataupun tak langsung, yakni dampak lingkungan, tata sosial, dan aspek lainya. Dampak ini pun akan dirasakan bukan hanya dalam jangka pendek, melainkan juga jangka panjang. Pemda dan pihak lain hendaknya tidak sekadar melihat faktor manfaat dalam kasus rencana pembukaan lahan pertambangan,” lanjut Eko.

Terkait rencana pembangunan pabrik semen dan eksploitasi kawasan karst, warga Kecamatan Giriwoyo, Wonogiri, Jawa Tengah (Jateng), berinisiatif melakukan pemetaan dengan bantuan perangkat global positioning system (GPS).

Menurut Edi Ariyanto, warga Giriwoyo, yang juga Ketua Tim Pemetaan, wilayah kecamatannya, yang tak jauh dari lokasi Waduk Gajahmungkur, Wonogiri, terdapat sumber air yang mengalir ke daerah-daerah
sekitar dan banyak dimanfaatkan warga. ”Selain terdapat 77 goa dan ponor, juga ada 60 mata air,
8 telaga, dan 15 sumur,” ujar dia.

Oleh sebab itu, lanjut Edi, hasilnya akan disampaikan kepada Gubernur Jateng, Badan Lingkungan Hidup Jateng, dan Pemerintah Kabupaten Wonogiri.

”Saya berharap, pemetaan ini dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah daerah terhadap rencana eksploitasi dan lokasi pembangunan pabrik semen. Potensi karst di sini banyak menyimpan air. Kami ingin rencana pembangunan pabrik semen dikaji ulang dan kawasan ini dijadikan kawasan lindung,” kata Edi.

Pati tunggu amdal

Terkait rencana pembangunan pabrik semen di Pati, Jateng, Bupati Pati Haryanto tidak tegas menyatakan jadi atau tidak jadinya rencana pembangunan pabrik semen di wilayahnya tersebut.

”Kalau dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) merekomendasikan layak, ya, dilanjutkan, tetapi kalau tidak layak, ya, dihentikan,” ujar Haryanto saat audiensi dengan puluhan wakil warga penolak semen dan masyarakat adat Sedulur Sikep pengikut ajaran Samin Surosentiko. Mereka tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng Utara. Audiensi dilakukan karena rencana pembangunan pabrik semen PT Sahabat Mulia Sakti, anak perusahaan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

Menurut Haryanto, saat ini dokumen amdal belum diselesaikan dan masih dalam proses kajian. ”Kalau dokumen amdal itu sudah jadi, kami akan mengadakan sidang untuk membahas hasil amdal tersebut. Sidang akan dilakukan secara terbuka dan melibatkan seluruh rakyat,” kata Haryanto. (EKI/HEN)
Sumber berita: Kompas cetak, 28 Februari 2014 hlm. 22.

Depan | RSS 2.0 | Kategori: berita | Tags: , , , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply