Menyelamatkan hutan untuk masa depan

5 - May - 2014 | sobirno

Press release audiensi Sedulur Sikep ke Pemprov Jawa Tengah dan Mapolda Jateng. Senin, 5 Mei 2014:
Menyelamatkan Hutan untuk Masa Depan

Kula namung petani
Lemah sawah kula openi
Kanggo cukupe urip sak brayat sami
Nganti kapan ndika ngrusak alam
Nganti kapan wit-witan ndika tebangi
Nganti kapan kewan2 ndika pateni
Nganti kapan gunung2 ndika tambangi
Rina wengi pengin kula ndika bali
Bali nata alam
Bali nata alam
Bali nata alam

Kondisi Hutan sekarang tak lagi menjadi tempat aman untuk kami berlindung dari banjir setelah penebangan terjadi di berbagai tempat. Dulu ketika hutan masih dipenuhi dengan pepohonan besar, air menjadi berkah bagi masyarakat di sekitar Pegunungan Kendeng Utara. Mengalir melalui ratusan mata air menuju rumah dan persawahan penduduk.
Kini cerita sedih terjadi setiap musim hujan. Banjir menjadi ancaman yang selalu siap datang. Masyarakat Pati,Kudus, jepara merasakan bagaimana banjir selalu datang setiap kali hujan datang. Menurut penuturan warga, banjir terjadi semenjak banyaknya penebangan hutan di wilayah Kendeng Utara. Luasan hutan Jawa yang harusnya tiga puluh persen kini hanya tersisa delapan belas persen saja. Akibatnya bencana banjir menjadi bencana yang sering terjadi. Meluapnya sungai Juwana Dua akibat tidak mampu menampung air dari Pegunungan Kendeng Utara dan Gunung Muria menggambarkan bagaimana penggundulan hutan merupakan penyebab utama banjir.
Seperti banjir yang baru saja terjadi di awal tahun 2014. Bencana banjir yang terjadi selama hampir tiga minggu di Kabupaten Kudus dan Pati in telah mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit. Beberapa media mengatakan kerugian mencapai Rp. 1,6 trilyun, belum lagi kerugian yg diakibatkan terhambatnya aktifitas warga akibat putusnya sarana transportasi.
Kerugian yang tak sedikit dan banyaknya biaya yang harus dikeluarkan untuk memulihkan situasi setelah banjir tak mampu menggerakkan warga dan pemerintah untuk lebih serius melindungi hutan di Kendeng Utara. Masih saja ada pembabatan hutan besar-besaran. Masih saja terjadi pembiaran oleh kepolisin dan perhutani pada para pelaku penebangan. Untuk itu kami Sedulur Sikep yang mendiami Kendeng Utara menuntut untuk dihentikannya pembabatan hutan dikawasan ini karena telah terbukti menyebabkan terjadinya banjir. Mari kita pikirkan kembali apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki kerusakan. Mari kita kembali untuk ingat pada alam.

Depan | RSS 2.0 | Kategori: artikel | Trackback | 0 Comments

Leave a Reply